nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

Djenar saat jumpa pers buku SAIA didampingi artis pendukung

Djenar dan artis pendukung saat jumpa pers peluncuran SAIA

Andai seniman besar Sjuman Djaya masih ada, entah apa yang akan disampaikannya kepada putrinya, Djenar Maesa Ayu, pada perayaan ulang tahun sang putri, 14 Januari lalu. Tak dipungkiri, Nay—sapaan akrab penulis yang sejak empat tahun terakhir juga mulai merambah dunia penyutradaraan film seperti sang ayah ini—telah melahirkan sejumlah karya sastra yang “kontroversial dan tajam” yang menempatkannya dalam jajaran sastrawan wanita Indonesia yang paling disegani saat ini.

Tepat menginjak usia yang ke-41, Djenar resmi meluncurkan buku ketujuhnya berupa kumpulan cerpen berjudul SAIA, di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Judul SAIA diambil dari salah satu cerpen dalam buku ini, yang memuat 14 cerita pendek ditambah  1 bonus cuplikan novel Djenar yang akan datang.

Dalam SAIA, fokus utama Djenar selama ini pada berbagai persoalan perempuan pun terlihat jelas. “Karena saya perempuan, saya mengangkat isu perempuan, isu kekerasan, pelecehan seksual, karena hal itu sampai sekarang masih saja terus terjadi dan, bukannya membaik, tapi makin parah,” kata Djenar.

(more…)

0 bergaul dengan merdeka

nat to jurnal — Tags:  

How to deal with secret admirer?

Ini memang kedengarannya ge-er. Merasa punya secret admirer. Tapi ge-er di awal seringkali lebih berguna, ketimbang repot belakangan akibat mengabaikan rambu yang sebetulnya sudah menyala. Ini bukan omong kosong, tapi pengalaman memang bicara.

Seringkali saya bertanya-tanya, kenapa banyak laki-laki yang mudah ge-er. Sering menyalahartikan sikap perempuan kepadanya sebagai lampu hijau alias “suka”, atau “suka juga”. Padahal si perempuan hanya bermaksud menjaga kesopanan, mencoba berbaik kata sebatas kawan. Kalau sekadar menerima ajakan makan bersama, apa salahnya? Masak setiap tawaran bertemu dengan lawan jenis harus ditolak? Sekarang bukan lagi jaman Siti Nurbaya. Juga bukan surga yang harus serba penuh aturan. (more…)

Perlukah dendam dibalaskan? Untuk apa? Kapan diperlukan? Dan, kapan saat yang tepat untuk melakukannya?

Pertanyaan itu muncul dalam perdebatan luas di kalangan cendekia Jepang ketika membedah hikayat negeri sakura di awal abad 18, menilik motif yang melatarbelakangi aksi pembalasan dendam 47 orang ronin—sebutan bagi samurai yang tak lagi bertuan—atas kematian tuan mereka. Betulkah sebagai refleksi yang dalam terhadap “bushido” yang dijunjung tinggi oleh golongan samurai? Ataukah semata pembuktian kesetiaan kepada arwah tuannya?

Bushido adalah nilai-nilai ksatria yang wajib diikuti para samurai, meliputi tujuh prinsip yaitu: moralitas, keberanian, pengendalian diri, kesopanan, kejujuran, kehormatan, dan kesetiaan. Dalam perspektif bushido, hal paling utama bagi samurai bukanlah keberhasilan membunuh lawan tuannya. Melainkan menunjukkan keberanian luar biasa, membela tuannya dan menyerang lawan demi mempertahankan kehormatan tuan dan klannya. Berhasil atau gagal, tidak masalah.

(more…)

Sit tight! You are about to watch the youngest of our family, Citra Angelica Siagian. She is performing a song—if I’m not mistaken it’s called “Bagai Rajawali”. Ain’t she cute? Yet she ain’t even hot, she fucking gorgeous. So proud of her. *smooch*

This video was made by me using my sister’s Samsung Galaxy Tab. The original was actually a little shaky, but thanks to YouTube for its enhancement feature. We made some videos during my time back in hometown, Medan, a couple of weeks ago celebrating our beloved father’s 59th birthday. I intended to post some of those on my Path, but failed. So here it is. Enjoy!

2 23 yang kembali baik

nat to jurnal — Tags: ,  

Menyenangkan rasanya bisa menuliskan lagi cerita indah di hari terindah. Tahun lalu saya tidak sanggup posting apa-apa. Tahun lalu, di hari yang biasanya selalu menjadi hari kontemplatif yang paling tenang dan menggembirakan, saya malah berada dalam kubangan masalah. Kubangan itu terus berpilin bahkan hingga setahun kemudian. Yes, 20 bulan terakhir adalah salah satu babak tersulit dalam hidup saya. Hubungan dengan pasangan memang selalu paling rumit dalam perjalanan kisah hidup manusia, bukan?

Barangkali Tuhan bosan melihat saya nestapa, skeptis karena doa berbulan-bulan tidak berjawab, numb ditahan-tahan supaya tak berkembang menjadi apatis dan mati rasa.

Maka ketika kebenaran akhirnya datang, meski dengan pedang yang merobek-robek dan mencincang-cincang kembali balutan luka, ia sesungguhnya datang sebagai sebuah keajaiban. Keajaiban yang pada akhirnya memulihkan. Keajaiban yang ternyata, adalah jawaban doa.

(more…)

Apa yang ada di pikiran kamu bila mendengar seseorang pergi berkonsultasi ke psikolog? Wah, itu orang pasti sedang menghadapi masalah hidup yang super berat. Kesulitan apa yang dialaminya ya, sampai perlu bantuan psikolog?

Di negeri kita, itu pandangan masyarakat pada umumnya. Tidak seperti di barat, di mana praktek psikolog sudah populer seperti halnya praktek dokter, menggunakan jasa psikolog untuk mendiskusikan kesulitan hidup, di sini masih dipandang kurang umum. Bukan tabu, tetapi rata-rata orang akan berkata, “Buat apa?”

Maka saya mafhum dengan reaksi teman-teman ketika dua pekan lalu saya posting status di Path, bahwa saya membutuhkan seorang psikolog dan meminta referensi bila ada di antara mereka yang punya kontaknya. Beberapa teman menghubungi via japri, dan beberapa lagi di antaranya memberikan nomor kontak yang mereka punya.

(more…)

0 nyanyikan kehidupan

nat to jurnal — Tags:  

Saya membuka gerbang rumah kos-kosan sambil bersenandung kecil. Saat menaiki tangga ke lantai dua, Santi, tetangga kamar sesama penghuni lantai atas yang pintunya sedang terbuka, menyeletuk, “Yak. Artis kita sudah pulang.” Saya tertawa tapi seketika protes, “Artis dari Hongkong?”

“Li,” kata Santi, “lo mengingatkan gue sama artis Betty La Fea,” disambut gelak tawa suaminya. “Hahaha… Is that a compliment, or what?” tanya saya penuh ragu tapi tertawa juga, sambil berusaha mengorek-ngorek ingatan tentang si tokoh yang pernah sangat populer di kalangan keluarga pencinta telenovela beberapa tahun yang lalu itu. Deymm, saya membatin. Samar-samar gambaran sosok perempuan nerd berkaca mata tebal dan bertampang cupu, muncul sekelibat. Of course. The ugly Betty. Hmh. Do I really look that pathetic? Hahaha…

Tak lama berbasa-basi, saya masuk ke kamar dan menyetel radio ke channel kesayangan yang sudah menjadi sahabat setia selama delapan bulan saya tinggal di kos ini. Untuk setiap lagu yang sebagian liriknya telah akrab di telinga, saya ikut berdendang.

(more…)

4 unforgivable rudeness

nat to jurnal — Tags: ,  

Saya akan mengampuni komentar-komentar insensitif terkait topik ‘usia menikah’ jika keluar dari mulut para perempuan, yang karena posisinya lazim didudukkan sebagai objek penderita, seringkali ditimpa kepanikan kronis akibat serangan jam biologis yang bertubi-tubi pada jiwanya. Dan, meskipun lebih berat, saya juga—pada akhirnya—masih mampu memaklumi tanggapan insensitif serupa yang dilontarkan dengan ringan tanpa beban, oleh para tetua, yang karena takdirnya dilahirkan dan hidup lama di masa yang lebih purba, kerap cepat cemas dan belum bisa beradaptasi dengan kenyataan saat ini, di mana semakin banyak anak perempuan yang sanggup hidup mandiri.

Namun, saya tak pernah bisa menerima bila kalimat-kalimat insensitif itu diucapkan oleh kaum lelaki, apalagi dari generasi masa kini—generasi saya; lebih lagi generasi masa depan—generasi di bawah saya.

Malam ini saya pulang dari menonton konser teatrikal Sujiwo Tejo “Maha Cinta Rahwana” di TIM, jam sebelasan. Di lorong depan kamar kos, berkumpul Ibu Kos bersama seluruh penghuni kamar lantai 2. Mereka duduk menghampar di lantai, ngobrol ngalor-ngidul sambil merokok, ngopi dengan kopi susu kemasan sachet, dan ngemil cokelat crackers mini khas Batam entah bawaan siapa. Saya sudah ngantuk dan mau tidur, tapi tak enak kalau gak nimbrung.

(more…)

Yang Terbaik Bagimu

Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Di sisimu terngiang hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku t’rus berjanji takkan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan kubuktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Kurindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

…would rather be a hypocrite than lose you

0 piano

Semalam kepikiran suatu saat ingin kembali belajar piano dan gitar lagi, dan tak sengaja barusan menemukan ini. Secara saya suka banget Fix You-nya Coldplay, maka melihat tingkah jari-jemari suami si perempuan beruntung, Titi Kamal, ini……

Hanya ada sedikit sekali tindakan di masa lalu yang pernah saya sesali sampai ingin punya mesin waktu agar bisa kembali dan mengubah keputusan yang dulu saya ambil tanpa pikir panjang. Berhenti les piano di kelas 2 SMP, salah satunya. Salah duanya… tiganya… empatnya… ah lupakan.