nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 selamat menempuh hidup baru

nat to jurnal — Tags: ,  

Senang akhirnya berhasil memenuhi undangan pernikahan. Sejatinya, undangan adalah kehormatan. Menunaikannya adalah penghormatan. Semoga doa yang turut dihaturkan diterima para penjaga langit… Dan mereka yang berbahagia karena diteguhkan malam ini berbahagia selamanya sampai akhir bumi.

Selamat menempuh hidup baru untuk dua pasutri. Asa (dan Nabila), anak kedua dari narasumber yang juga sahabat di radio kami, Mas Jamil Azzaini. Juga Mas Oka Pratama Warsito (dan Esti), narasumber yang sudah menjadi kawan baik.

Till death do you apart.

–Jakarta 22.40 wib; di jalan pulang…

0 pertahankan lepaskan

nat to spasi  

Pertahankan apa yang pantas untuk dipertahankan

Tunggu apa yang memang harus ditunggu

Hargai siapa yang memang pantas dihargai

Lepaskan mereka yang ingin pergi dari kita

Jangan paksa mereka untuk menerima kita

Terima dengan baik mereka yang masih memilih bersama kita

Hidup hanya satu kali

Don’t waste your time.

–taken from a friend’s status on bbm, just now

0 why volunteering

nat to jurnal — Tags: ,  

Pernahkah kamu mengalami atau melihat sesuatu yang terasa sangat mendalam, hingga kamu terdorong untuk ikut melakukannya? Kamu menyimpan dalam hati kejadian yang kamu alami atau fenomena yang kamu perhatikan itu, dan mengingatnya terus hingga suatu saat nanti kamu mendapat kesempatan untuk benar-benar melakukan atau mengalaminya lagi?

Salah satu fenomena (atau kebiasaan—rasanya lebih tepat) yang saya amati di masyarakat Eropa adalah, mereka senang bekerja sosial. Di film-film Hollywood juga sering kita lihat orang-orang Amrik melakukan hal serupa, tapi saya belum pernah melihat langsung. Katanya, apa yang kita lihat dengan mata kepala sendiri, lebih membekas daripada yang hanya kita dengar dari orang lain atau kita tonton di TV.

Saya sudah cukup senang mendengar cerita seorang ibu yang bekerja volunteering di perpustakaan salah satu sekolah di Hamburg. Tidak terlalu memakan waktu, paling hanya 1-2 kali seminggu masing-masing 3-4 jam, namun dikerjakan dengan profesional dan disiplin, khas Jerman. Dasarnya ia cinta pada pekerjaannya, ia bercerita sering lupa waktu kalau sudah berada di dalam perpustakaan bersama buku-buku tua itu.

(more…)

Beberapa hari ini ramai orang ngomel-ngomel mengeluhkan suhu Jakarta yang katanya kelewat panas. Gak cuma di group-group WA, di FB pun sama. Ada yang bilang kebangetan suhu kota sampe 39, ada yang bilang sampe 40, ada yang bilang lebih dari 40? Barangkali.

Semoga saya gak di-bully seperti seperti warga Bekasi yang gak senasib sepenanggungan dengan warga Jakarta dsk yang tempo hari menikmati gerhana bulan ya, tapi panasnya Jakarta hari-hari ini gak luar biasa saya rasa. Jakarta memang panas—saja, gak pake banget.

Kebetulan karena aktivitas saya, siang-siang bolong antara jam 12an sampe jam 2an kemarin dan hari ini saya ada di jalan. Naik motor. Kemarin pakai rok mini. Tadi pakai celana 3/4. Tanpa stocking. Tanpa kaus kaki. Panas? Ya iya. Terik? Ya iya. Tapi ya segitu aja. Sepanasteriknya Jakarta kalau naik motor di siang bolong hari-hari lain, gak jauh beda. Gak sampai sepanas di gurun pasir (barangkali), apalagi sepanas neraka (asumsi).

(more…)

0 tua itu indah

nat to jurnal — Tags: ,  

Menjadi tua adalah rahmat. Indah, karena menikmati proses yang tak tergantikan. Tetapi bagi mereka yang sering mendapat kemudahan dan kesenangan karena mudanya, menjadi tua adalah momok yang menakutkan.

Blessing in disguise buat saya, sejak kecil hampir tak pernah merasakan privilege dipuji karena muda. Masuk SD umur 8 tahun kurang 2 bulan—masih sesuai aturan sih, tapi sebagian besar murid lain kala itu masuk di usia lebih muda. Seterusnya sampai sekolah menengah dan kuliah. Di kelas-kelas kursus atau kelompok komunitas yang saya ikuti pun tak jauh berbeda, biasanya saya masuk di golongan para tua. Ada saat-saat tertentu saya pernah dipuji “masih muda”, yaitu oleh orang-orang yang memang jauh lebih tua di atas saya. Saking jarangnya mengalami momen seperti itu, selalu meninggalkan pertanyaan reaktif di hati saya, “Emang aku muda? Muda apanya?” Hahaha

Karena itu pula, saya sudah terbiasa menerima kondisi “tua”. Saya selalu gembira tiap kali menyambut pertambahan usia, dan tak pernah sungkan menyebut angka. Saya suka heran kebanyakan kawan, perempuan terutama, kerap segan menampilkan umurnya bahkan termasuk saat mereka berulang tahun. Kulturkah itu yang membuatnya menjadi semacam “tabu”?

(more…)

0 eleven minutes

nat to buku — Tags: , ,  

Eleven Minutes (Paulo Coelho)

Eleven Minutes (Paulo Coelho)

Catatan harian Maria, tokoh utama dalam novel Paulo Coelho terbitan 11 tahun lalu—yang baru saya baca dalam dua hari libur Lebaran kemarin.

Alkisah, dulu ada seekor burung jantan yang tampan. Dia punya sepasang sayap yang indah dan tubuhnya berhias bulu beraneka warna yang halus mengilat. Pendeknya, dia diciptakan untuk terbang bebas di langit biru dan memberi rasa bahagia pada semua makhluk yang memandanginya.

Pada suatu hari, seorang perempuan melihat burung itu dan langsung jatuh hati padanya. Mulutnya menganga penuh kekaguman saat memandangi burung itu terbang membelah langit, jantungnya berdegup kencang, matanya berbinar-binar penuh harap. Dia meminta burung itu membawanya terbang, dan keduanya menari dengan serasi di angkasa. Dia sungguh mengagumi dan memuja burung itu. (more…)

0 waktu yang singkat

nat to jurnal — Tags:  

Selamat pagi, kak…

Sedikit waktu bersamamu kak, selalu bergegas berlalu. Andai kubisa menjadikannya beku. Menghisap detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam. Tapi matahari tak kuat menahan diri berlama-lama di peraduan, tergesa-gesa beranjak ia memanggil-manggil penduduk bumi untuk berkemas.

Terbenam aku dalam setiap kisahmu kak, meski kerap jatuh tertidur di tengah cerita hidupmu yang rumit dan seru. Setengah bermimpi sering kupaksakan merespon cerita-ceritamu, dengan pertanyaan-pertanyaan yang hampir selalu ngawur. Oh. Aku meracau dalam tidurku. (more…)

0 a peaceful noise

nat to jurnal — Tags: , ,  

Di jalan yang tak pernah mati pun tak terlalu padat sehari-hari. Di kedai tua yang setengahnya dalam renovasi, ruang gerak lebih sempit. Kamar kecil yang dijaga bersih meski wastafel tak berfungsi. Tak ada air, tissue basah pun jadi. Setengah cangkir cappuccino kini mendingin. Secangkir kopi hitam dengan tambalan susu putih cair (apa namanya… oh, kopi putih) menanti untuk diseruput… sluuurpp… sluurupp…

hingga 2.031 kata lagi…

Ketak-ketik tuts komputer jinjing bertingkah-tingkah tawa dan cakap di kanan kiri. Bising. Keluar masuk wira-wiri. Tak mengurangi kedamaian. Di batin.

Masih 2.031 kata lagi…

2 menulis pertanda ada

nat to jurnal — Tags: , ,  

Usahakan menulis, Li. Menulis menandakan kita ada. Dengan menulis keberadaan kita diakui. Menulis apa? Apa saja! Betapa sayangnya punya pengalaman langka tidak disampaikan. Menulislah.

Saran itu masuk di BBM saya malam ini. Saya baru menyadarinya ketika terbangun dan menyalakan ponsel yang kehabisan baterai. Dari Pemred saya. Well, setidaknya sampai hari ini saya masih menganggapnya demikian, karena rasa-rasanya nama beliau masih terdaftar di HRD, sebelum resmi pindah ke bank data HRD di unit sebelah.

Saya gak tahu kenapa saran itu beliau sampaikan. Dan apakah saran itu juga disampaikannya kepada rekan-rekan lain. Apapun, mendapatkan saran menulis dari seseorang yang saya kenal, bagi saya istimewa. Saya kaget, dan senang.

(more…)

Sejauh apa perencana keuangan dapat dipercaya? Sejauh apa perencana keuangan dapat menawarkan atau merekomendasikan suatu produk investasi kepada nasabah? Dapatkah perencana keuangan bertanggung jawab atas risiko investasi yang diambil oleh nasabah, bila kemudian ditemukan bahwa pilihan investasi yang direkomendasikan oleh perencana keuangan tersebut ternyata ‘abal-abal’ alias bodong?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkembang di masyarakat beberapa pekan terakhir setelah merebaknya kasus program investasi ‘abal-abal’ di bidang agrobisnis yang—di luar dugaan—melibatkan sebuah lembaga perencana keuangan cukup ternama.

Aidil Akbar Madjid, perencana keuangan dari AFC Financial Check-up, mengaku prihatin atas terungkapnya kasus investasi yang disebut direkomendasikan oleh lembaga perencana keuangan resmi tersebut. “Yang terjadi sekarang ini harus menjadi koreksi bagi kita semua. (Kita) kebobolan, kalau kemudian ternyata ada orang-orang yang dianggap dipercaya oleh segelintir orang, menawarkan produk yang bukan produk investasi yang sebenarnya. Ya, itu sudah di luar kendali,” ujarnya dalam Sindo Bisnis, Kamis, 20 Februari 2014. (more…)