nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

6 anak kucing dan tukang koran

nat to pikir-pikir — Tags: ,  

Ada anak kucing duduk sendirian di dekat motor saya tadi. Di area parkir basement 2 khusus wanita, tinggal tersisa tidak lebih dari 5 motor. Karena hari memang sudah malam, sudah lewat jam 10.

Saya mendekat sambil menirukan suara kucing… meong… meong… Eh dia dengar, trus mencari-cari asal suara dan ikutan memperdengarkan suara mungilnya. Saya gak tahan, akhirnya menunduk dan mengelus-elus dia dulu. Rupanya dia senang. Dia makin menempel-nempelkan badannya ke tangan saya, ke kaki ketika saya bangkit berdiri sambil mengenakan jas hujan.

Dia manjat ke atas motor, merayap lewat sisi-sisi badan motor lalu masuk ke bagian dalam kap tempat duduk yang sedang saya buka, dan berusaha menjangkau saya.

Aduh, kamu mau ikut saya ya?

Tapi saya gak punya keranjang, kalau dimasukin tas nanti kamu mati gak bisa napas. Lagipun ibumu pasti kecarian.

Tapi saya kasihan sama anak itu. Akhirnya saya coba bujuk dia.

Kamu stay here ya, I’ll be back soon. Saya beli susu dulu buatmu, tapi jangan kemana-mana oke?

Lalu saya pergi juga dengan motor. Dia melihat saya pergi. Saya ingatkan dia lagi jangan pergi dulu, tapi dia jalan pelan-pelan ke arah dalam basement.

Tak jauh dari pintu gerbang keluar parkiran, ada Circle K di perempatan jalan. Saya langsung menuju rak minuman ringan, dan ambil satu kotak Ultra Milk. Harap-harap cemas apa si anak kucing balibu (bawah lima bulan—red) masih nungguin saya.

Pak satpam heran kenapa saya balik lagi.

Ada yang ketinggalan, Pak.

Di tempat tadi, anak kucingnya sudah gak ada. Sudah gak ada motor lain juga di sekitar tempat saya bercengkerama dengannya tadi. Saya keluar lagi dengan agak menyesal.

Mestinya tadi saya gak ninggalin dia. Mestinya tadi langsung aja bawa dia ikut beli susu di Sevel kantor.

Tapi kan gak boleh bawa kucing masuk ke Sevel? Belum kalau nanti ditanyain satpam, mau bilang apa?

Excuses are excuses.

Saya terus jalan pulang, berharap besok malam masih bisa ketemu lagi sama si kitten. Ultra Milk saya tinggalkan di dasbor depan.

Di persimpangan lampu merah Tugu Tani, mata saya refleks mencari sesosok tubuh di kursi roda yang biasanya selalu ada di ujung pembatas jalan di tengah-tengah. Kosong. Refleks lagi saya palingkan pandang ke arah trotoar di sebelah kanan.

Ah, itu dia. Tubuh kurus di atas kursi roda itu mengamati lalu-lalang pengendara, diselimuti jas hujan plastik warna biru terang.

Saya melambaikan tangan ke arahnya.

Selepas lampu merah, terdengar lagi perdebatan internal.

Mana kue yang katamu mau kamu kasih ke dia? Udah dari berapa bulan lalu itu? Lebaran sudah lewat. Tahun baru juga udah. 31 hari sudah habis bulan pertama, udah masuk bulan baru malah sekarang.

Ya lupa terus.

Lupa? Atau menunda-nunda?

Ya menunda-nunda juga, karena lupa jadinya tertunda-tunda. Karena baru ingatnya seringnya kalau udah malam pas lihat si masnya di jalan.

Buat kucing aja kamu bisa ya langsung action beli susu, bela-belain balik lagi nyari dia. Itu? Orang yang tiap malam bertegur sapa denganmu, ramah meladeni pertanyaan-pertanyaan ingin tahumu, bahkan beli koran Surat Pembaruan-nya aja kamu gak pernah.

Bukan gitu. Saya gak beli korannya karena saya gak pernah baca koran malam-malam, nyampe rumah biasanya tinggal tidur karena udah ngantuk. Sayang korannya mubazir. Tapi mau ngasi duit aja tanpa beli korannya juga rasanya kayak menghina. Saya gak mau perlakukan dia seperti pengemis, karena dia bukan pengemis.

Excuses are excuses.

Menunda-nunda memang bukan kebiasaan yang patut dipelihara. Apalagi menunda perbuatan baik. Niat aja mah gak akan bikin kamu jadi orang baik. Tapi apa yang sudah kamu lakukan untuk orang lain, dan makhluk hidup lain.

Cempaka Putih. 1 Februari 2016. Larut malam.

6 Comments »

  1. zaniel lubis says:

    Kucingnya bilang..”pasti dibawain Ultra Milk lagiii..” #kucingnya ngambekaannn.. :grin: (btwkerentooo..)

    [Reply]

    nat Reply:

    Dibawain sik besoknya, tapi kucingnya udah ganti. Yang kemaren manja dan suka main2, yang ini dideketin malah lari… :-((

    [Reply]

  2. Jemmy Purba says:

    Ya.. Niat baik aja gak akan bikin kamu orang baik malahan sebaliknya bikin kamu berdosa.

    Yakobus 4:17
    Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

    [Reply]

    nat Reply:

    :grin: berlaku hanya bagi mereka yang percaya.

    Nat 4:17
    Berbahagialah yang tidak percaya, karena ia tidak berdosa. :)

    [Reply]

    Jemmy Purba Reply:

    Someday you will believe, and you will be blessed. I promise. :)

    [Reply]

    nat Reply:

    :D i had believed once, now i’m open to anything but delusions. thankfully i’m still blessed, just as any other human beings (believers and unbelievers) are blessed as well. :wink:

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p