nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 theater of mind

nat to jurnal  

Penyiar radio itu mirip dengan penulis, gak ketahuan orangnya; cuma dikenali suara, atau tulisannya. Tiap kali audiens mendengar, atau membaca, imajinasi pegang peranan. Dari suaranya, audiens membayangkan penyiarnya seperti apa. Dari tulisannya, audiens membayangkan penulisnya seperti apa.

Saat akhirnya bertemu penyiar yang sering didengar, atau bertemu penulis yang tulisannya sering dibaca, imajinasi audiens seperti berada di ruang taaruf, menunggu wujud asli balon jodoh kayak apa. Ada kalanya imajinasi sesuai dengan realita. Ada kalanya pula—mungkin lebih sering (?)—berlawanan.

“Kamu kecil ya ternyata…” “Wah, sehat yaa… (maksudnya mau bilang ‘bongsor’-Red)”

Apa yang terjadi kalau sekiranya ekspektasikakaknya imajinasitak sesuai realita?

a person in mask (photo grabbed from Google)

a person in mask (photo grabbed from Google)

Dulu, saya pencinta sebuah blog jalan-jalan. Tulisannya unik, seksi. Imajinasi saya, penulisnya smart and sexy. Tiap kali baca blogpostnya, saya membayangkan tokoh yang sedang saya baca itu dengan gambaran fisik yang saya bangun sendiri di angan-angan.

Lama kemudian baru saya tahu dan beberapa kali pernah bertemu langsung dengan penulisnya. Sosok yang menarik dan cukup menyenangkan—meski tidak se-friendly yang semula saya bayangkan, dan, physically, tidak seksi.

Karena kesibukan yang disibuk-sibukkan dan perubahan prioritas hidup kala itu, saya mengurangi—dan pelan-pelan menghentikan aktivitas jalan-jalan terutama ke luar kota, apalagi ke luar negeri. Sejalan dengan itu saya juga sangat mengurangi, dan akhirnya juga berhenti, membaca berita-berita tentang objek wisata, catper, buku atau blog traveling.

Tahun ini, setelah moratorium traveling pribadi saya hapuskan ditandai dengan penggantian paspor yang sudah lama habis masa berlakunya, saya mulai baca-baca lagi, membangun angan-angan perjalanan lagi.

Hari ini saya menemukan kembali blog travel yang dulu saya cintai itu. Saya masih menyukai tulisannya. Saya bahkan mulai tidak hanya sekadar menikmati tulisannya, tapi juga menyimak cara penulisannya. Saya memang punya keinginan untuk bisa menulis cerita perjalanan yang enak dibaca.

Tapi ada yang berbeda kini.

Berhubung saya sudah tahu penulisnya, sosoknya selalu muncul di kepala selama saya membaca. Ketika ia menulis kenapa memilih pergi ke sebuah destinasi secara mendadak, wajahnya yang santai muncul. Ketika ia menulis bingung mencari jalan ke sebuah penginapan, saya melihat ekspresinya tetap tenang (saking telah sangat berpengalaman traveling) dan kemudian sedikit kesal ketika yang dicari-cari gak ketemu. Saat ia menulis berkenalan dengan pria gagah, lengkap dengan komentar genit khasnya—yang dulu membuat saya menilainya seksi—di situlah konflik batin terjadi. Imajinasi saya kalah, oleh realita. Saya perlu sedikit usaha lebih keras untuk menyelesaikan bacaan itu.

Spontan saya berpikir, bagaimana dengan pendengar saya? Berapa banyak dari mereka yang merasa “kecil (baca: kurus) sekali ya rupanya…” begitu melihat wujud asli saya?

Barangkali, memang ada perlunya sesekali posting foto-foto narsis di akun sosmed yang dibuka ke publik. Meskipun pendengar, atau pembaca, belum tentu mengakses akun-akun sosmed, setidaknya seseorang yang biasanya selalu tak terlihat di balik layar tidak melulu menjadi anonim.

Tapi yaa… ini cuma pemikiran acak saja, yang mungkin lahir dari kepanikan sesaat.

Kebon Sirih, Jakarta Pusat

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p