nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 dating dolphin at kiluan bay

Sejak hobi traveling sekitar tujuh tahun silam (masih newbie ya—hehe), rasanya semua destinasi yang pernah saya datangi ingin saya kunjungi lagi dan lagi. Kalau saja uang bukan persoalan besar, pasti saya sudah akan napak tilas sekali, dua kali, bahkan lebih, ke tempat-tempat itu. Ada yang karena attraction and venue-nya masih banyak yang belum tereksplorasi, ada juga yang sedikit tetapi sangat memorable atau meninggalkan kesan khas tertentu.

Makanya saya cukup kecewa saat turun dari mobil tiba di penginapan di Teluk Kiluan, Lampung, tiga pekan lalu. Perjalanan lebih dari dua jam dari Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, menuju Teluk Kiluan, Kabupaten Tanggamus, nyaris tidak bisa saya nikmati karena begitu rusaknya akses jalan ke salah satu objek wisata utama di Provinsi Lampung itu. Jangankan menikmati kampung warga di kiri kanan jalan, tidur pun tidak bisa saking mobil terguncang-guncang keras di jalan penuh lubang dengan tingkat keparahan sangat berat. Menurut tour leader kami, kondisi itu masih sama (atau mungkin lebih parah) dibandingkan kondisi 2-3 tahun lalu, ketika ia pertama kali datang.

Sedemikian senjangnyakah pembangunan di Pulau Jawa dengan di luar Jawa sampai urusan infrastruktur utama begini tidak tersentuh? Kemana politisi daerah yang sering mencari jaminan kekuasaan? Apa mereka sudah cukup makmur hingga tidak perlu menyuap warga untuk mencoblos? Beberapa dari wajah mereka tokh terpampang di baliho-baliho setinggi rumah di beberapa titik tepi jalan.

Untuk pertama kalinya di saat belum lagi mulai mengeksplorasi suatu tempat, saya dengan yakin membuat “rate” destinasi ini ke teman perjalanan, “Rasanya cukup sekali ini saja ke sini. Kalau jalannya belum diperbaiki, gak lagi-lagi dulu deh.”

Yakin saya juga tidak akan merekomendasikan orang lain berlibur ke sini. Well, setidaknya mewanti-wanti bukan untuk liburan bulan madu, dan tentu saja bukan untuk liburan keluarga bersama anak-anak. Suami dengan istri yang sedang hamil, patut cemas bisa-bisa janin si ibu keluar sebelum waktunya di tengah jalan.

Itu bagian gak-asik-bangetnya. Cuma itu, untungnya. Sekarang cerita yang asik-asiknya.

***

Penginapan yang kami tempati memang bukan yang termurah. Tapi saya suka bangunannya yang terbuat dari kayu. Ada dua teras. Satu di depan dekat jalan masuk, ada meja cukup besar di sini untuk tempat makan bersama. Satu teras lagi di sebelah kamar yang paling luar di ujung dermaga. Dermaga kecil ini bukan dermaga beneran, semacam jembatan penghubung saja menuju saung kecil sederhana tempat duduk-duduk santai. Meski kalau siang akan terhampar matahari terik, saung itu tempat yang asik buat leyeh-leyeh. Alternatif spot pacaran yang menyenangkan (selain di kamar).

Kiri: saung di ujung penginapan. Kanan: penginapan dilihat dari saung.

Kiri: saung di ujung penginapan. Kanan: penginapan dilihat dari saung.

Kamarnya cuma ada empat berjajar. Saya tidur di kamar yang paling depan dari jalan masuk. Ohya, hampir semua penginapan di sepanjang Teluk Kiluan berjenis rumah panggung. Didirikan di atas permukaan air laut dengan bertumpu pada tiang-tiang pancang dari beton.

Penginapan-penginapan di sepanjang Teluk Kiluan

Penginapan di sepanjang Teluk Kiluan

Begini tampilan selasar penginapan saat malam. Laut di belakang gelap gulita. Waktu akan tidur, lampu di lorong saya matikan karena silau ke dalam kamar. Walhasil penginapan makin gelap gulita.

Baju siiapa tuh dijemur sembarangan di depan kamar? :P

Baju siapa tuh dijemur sembarangan di depan kamar? :p

Tadinya, saya membayangkan pasti damai dan romantis sekali tidur malam di kamar kayu dengan gemerisik ombak yang lembut memecah pantai. Tapi saya lupa, bagaimana kalau turun hujan. Paginya sebelum Subuh menjelang, tidur saya buyar oleh hujan deras. Ya sih di rumah Jakarta saya juga sering terbangun kalau hujan. Tapi tidur di kasur yang menempel di lantai kamar, dengan melulu air laut di bawah dan sekeliling kamar, membuat bunyi hujan terdengar lebih deras dan lebih dekat. Antara setengah mimpi setengah sadar, saya berpikir kemana harus lari kalau tsunami datang. *takut tsunami tapi liburan ke laut*

Pagi teduh di penginapan

Pagi teduh di penginapan

Objek wisata di Teluk Kiluan sendiri, yah cukup baguslah, standar destinasi laut di Indonesia. Laguna Gayau yang sebetulnya belum terlalu populer dibandingkan dolphin tour maupun snorkeling spot, justru spot favorit saya (baca Laguna Gayau: Surga di Balik Bukit). Medan yang dilalui menuju Laguna memang menantang (dan saya suka traveling yang menantang), tapi dengan jarak yang tidak sampai bikin kamu terjerembab kelelahan. Jadi pas.

Trip utama dolphin tour di laut lepas sebaiknya dilakukan di pagi buta, supaya peluang bertemu kawanan lumba-lumba lebih besar, sebab mereka akan mencar-mencar kalau sudah banyak kapal berseliweran. Kemarin kami melaut di pagi yang sudah tak lagi buta, tapi alhamdulillah sebelum waktunya kembali ke pulau kami masih sempat mengabadikan sekawanan lumba-lumba yang melintas di dekat kapal jukung kecil yang kami tumpangi. Saya berusaha upload video-nya, tapi gagal karena size-nya terlalu besar. Nanti kalau sudah ketemu cara posting yang benar, akan di-upload kemudian.

Berburu dolphin di laut lepas

Berburu dolphin di laut lepas

Puas dolphin tour, kita bisa mampir snorkeling atau main-main di Pulau Kelapa. Kalau cukup waktu, bisa juga sempatkan ke Pulau Candi yang rada jauhan lagi dari Teluk Kiluan. Kemarin kami cuma sebentar di Pulau Kelapa, karena satu orang kawan ada yang sudah mabuk laut kelamaan di sampan. Hihi.

Mampir di Pulau Kelapa setelah dolphin tour

Mampir di Pulau Kelapa setelah dolphin tour

Terus terang saya masih ingin lagi sih melihat lumba-lumba liar. Gak usah pun di Kiluan kalau harus berjibaku dengan aspal busuk dua setengah jam lamanya. Mungkin sebaiknya ke Lovina Bali, yang memang sampai sekarang belum kesampaian juga.

Nah, ini foto terakhir sebelum jalan kembali ke Bandar Lampung. Semacam ritual agak wajib buat backpacker untuk menuntaskan perjalanannya. Pose di bawah gapura Teluk Kiluan.

Pintu masuk Teluk Kiluan, Kelumbayan, Tanggamus, Lampung.

Sebelum meninggalkan Teluk Kiluan, Kelumbayan, Kab. Tanggamus, Lampung.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p