nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 laguna gayau: surga di balik bukit

“Katanya jalan ke surga memang kayak gini, Mba.”

Celetuk seorang pemuda lokal yang berpapasan dengan kami di antara bebatuan karang melihat saya kepayahan menapakkan kaki telanjang ke satu demi satu bongkahan batu-batu besar dan licin, menyusuri dinding bukit Teluk Kiluan menuju Laguna Gayau. Saya tertawa kecil, menyembunyikan rasa penasaran. Seperti apa sih tempat yang kami tuju ini?

Titik masuk Laguna Gayau

Titik masuk Laguna Gayau

Dari enam orang rombongan trip ditambah seorang tour leader yang kami sewa, hanya saya dan dua orang teman, Eka dan Marlene, yang melanjutkan trekking dari Pantai Teluk Kiluan ke Laguna Gayau. Empat yang lain memilih tinggal di pantai. Mereka kelelahan setelah lebih kurang setengah jam trekking dari penginapan ke Pantai Teluk Kiluan, yang ternyata jalannya terjal dan menanjak.

Minta jalan diperlambat dengan alasan mau foto-foto, padahal karena kaki pegel

Minta jalan diperlambat dengan alasan mau foto-foto, padahal karena paha berat dan napas ngos-ngosan

Begitu tiba di pantai, tour leader malah menyarankan kami tidak usah melanjutkan trekking ke Laguna Gayau. Dia bilang ombak sedang tinggi, dan demi keamanan sebaiknya tak ke sana karena harus melewati karang-karang besar dengan jarak yang cukup jauh.

Toh, di ujung bibir pantai berkarang sana terlihat ada satu dua orang yang sedang berjalan menjauhi pantai dan menghilang di balik bukit. Mereka menuju Laguna. Eka, Marlene, dan saya, mantap untuk pergi. Didampingi seorang bapak pemandu lokal yang membawakan tiga baju pelampung buat kami.

Pantai Teluk Kiluan

Salah satu sisi di Pantai Teluk Kiluan, Kelumbayan, Kab. Tangggamus, Lampung.

Saya meninggalkan iPhone dan menitipkannya di dry bag kawan yang ada di pantai, gak tega mengambil risiko kehilangan atau kerusakan satu-satunya gadget memadai yang saya pakai setiap hari itu. Eka lebih nekat, dia membawa hp Samsung LG G3-nya. Belakangan saya mensyukuri kenekatan Eka. Kalau bukan karena hpnya, hanya memori di kepala yang menyimpan kesaksian kami berenang di Laguna Gayau. No pic = hoax.

Trekking menyusuri bongkahan batu-batu karang memang cukup memakan waktu, dan keringat. Apalagi saya melepas alas kaki karena tidak membawa sandal gunung. Sesekali bebatuan kecil yang tajam cukup menusuk telapak kaki. Tetapi itu lebih baik, ketimbang memakai sandal jepit yang licin. Air laut setia menemani perjalanan kami. Ombak tinggi yang agresif sering menyerang ke arah daratan, ke arah karang, membujuk siapa saja yang sekiranya bersedia ikut dibawanya ke tengah laut.

Menelusuri karang tanpa alas kaki

Menelusuri karang tanpa alas kaki

Setelah menerobos karang selama hampir setengah jam dan meniti jembatan bambu, lamat-lamat, makin lama makin jelas, terdengar suara ramai orang bermain air.

Di situlah tempatnya. Di balik Bukit Teluk Kiluan ini, rombongan backpacker, pasangan, berbaur menikmati air asin di kolam renang alami yang terbentuk oleh kontur bebatuan karang. Kami tak buang waktu lama untuk bergabung. Supaya bebas dan tidak capek mengapung, saya memilih memakai baju pelampung saja. Membebaskan tubuh diombang-ambing ombak yang sesekali tumpah dari lautan di sebelah luar batu karang tinggi yang “memagari” kolam.

Kolam alami Laguna Gayau

Kolam alami Laguna Gayau

Semakin sore semakin banyak ombak dan volume air laut yang masuk ke dalam kolam. Rupanya pasang telah tinggi. Para pemandu lokal memerintahkan semua orang untuk naik. Kami pun keluar dari air. Setelah menikmati suasana teduh beberapa saat, melihat pancuran seperti mata air yang tinggi—sekilas mengingatkan pada water blow di Nusa Dua Balikami menyusur kembali jalur karang tadi. Bergabung dengan kawan-kawan di Pantai Teluk Kiluan, yang sudah puas bermain pasir dan berfoto-foto selfie/wefie, yang—kalau boleh jujur—jadi tidak ada apa-apanya, karena ada surga lain di balik bukit.

Marlene, Eka, dan saya

Marlene, Eka, dan saya

What if we had never tried it?tweet Eka dalam perjalanan pulang dari Lampung ke Jakarta.

Teringat saya sebuah kutipan terkenal Mark Twain, dan tersenyum-senyum sendiri. Pastilah kami akan menyesal dua puluh tahun lagi.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p