nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 [natalidoskop] ubud writers and readers festival 2014

nat to event — Tags: ,  

Kenyataan adalah bagaimana kamu menjustifikasi mimpimu. Kata seorang sahabat dalam sebuah percakapan WhatsApp dua pekan lalu. Tahun 2014 ini menandai terjustifikasinya mimpi panjang saya dua tahun terakhir: menjadi volunteer di Ubud Writers and Readers Festival.

Perkenalan dengan nama Ubud Writers and Readers Festival terjadi beberapa tahun lalu dari kelompok teman jalan dan kuliner saya, Lenongers. Sebagian dari mereka hobi baca, dengan genre yang berbeda-beda. Ada yang doyan sastra-politik-dan apa saja, ada yang suka ekonomi syariah, ada yang demen roman dan sejarah. Macam-macam. Kapan-kapan saya akan tulis tentang mereka.

Salah satu Lenonger, Tri, mendaftar volunteer di UWRF 2012. Dari situ lah baru saya cari tahu lebih banyak soal festival yang mulai digelar pasca bom Bali 2003 ini. Sedianya saya mendaftar 2013 lalu, tapi terhambat satu dan lain hal.

Setelah melewati sejumlah proses rekrutmen volunteer, beberapa kali email follow up dengan panitia, akhirnya deg-degan saya terbayar ketika membaca email approval dari koordinator volunteer, Paris Duarte. Saya dimasukkan ke MC Team. Pilihan saya tadinya Liaison Officer, tapi saya tak menolak ditempatkan di bagian mana saja, yang penting jadi. Lagipula background saya penyiar radio, mungkin itu salah satu pertimbangan panitia.

UWRF 2014 "Saraswati: Wisdom & Knowledge"

Saraswati: Wisdom & Knowledge

And… I was sooo damn happy during the whole week.

MC team the coolest team

Seorang di antara kami, Primadita, menginisiasi group WhatsApp untuk mempermudah komunikasi dan koordinasi sesama tim MC. Which was very effective. Ochie, koordinator volunteer, malah kemudian minta dimasukin. Meski ada sejumlah disorganisasi, kami menjalani semua tugas dengan tetap santai dan kooperatif.

Di tim ini saya beruntung berkenalan dengan seorang perempuan lawak (bahasa Malaysia, artinya cantik) dari negeri jiran, Liyana Fizi. Saat pertama kali ikut briefing di sekretariat volunteer, gadis berwajah ramah ini sudah mencuri perhatian saya. Dia duduk di sebelah, lalu nanya nama saya.

“Ah, Lia (sambil tangannya menunjuk saya), Liyana (tangannya menunjuk dirinya),” katanya tersenyum.

Saking ayune Liyana, saya jadi kepo mengamati gerak-geriknya. Sesekali dia sibuk dengan Instagram di iPhone-nya. Diam-diam saya coba searching akunnya, nemu. Dan saya makin penasaran melihat jumlah followernya, banyak aja sampai puluhan ribu. Who the hell is she??

mengintip Liyana Fizi lagi MC-ing

mengintip Liyana Fizi lagi MC-ing

Di waktu luang lain baru saya kepo-ing lebih serius lagi, dan googling. And my friends, Liyana Fizi is evidently a pretty well known indie singer in Malaysia. Plays guitar as well as writes song lyrics. Eeuuw… sempat-sempatnya volunteering di festival luar negeri? Tanpa diupah tanpa akomodasi selain meals dan t-shirt seragam? Saya bertemu dengan banyak volunteer yang sungguh-sungguh niat untuk ikut festival ini, Liyana salah satunya. Respect.

Dari tim MC saya juga mengenal Maria Saujana, teman seperjalanan pulang dari Ubud ke Bandara Ngurah Rai Denpasar, bahkan berlanjut sampai sekarang di Jakarta. A crazy traveler (whatever that means); orang aneh yang pintar (dia sendiri yang bilang dia “orang aneh”); a peaceful, open-minded, positive person; dan penggila Dee. Maria dan saya sama-sama percaya Ubud bukan sekadar Ubud. Sesuatu membawa kami ke sana, untuk mengantarkan kami entah kemana, untuk sesuatu yang kami belum tahu apa. Suatu hari nanti, mungkin baru kami akan bisa melihat dan menjalin satu titik dengan titik yang lain. Connecting the dots. Perhaps, hopefully, wishfully, in written stories.

Selebihnya tim MC diisi oleh orang-orang yang tak kalah menarik. Primadita yang sangat aktif di dunia blogging dan komunitas anak muda. Akhir bulan lalu, Prima baru saja terpilih sebagai The Most Inspiring Woman di ajang World Muslimah Award 2014 yang grand finalnya berlangsung di Yogyakarta. Vanessa Marcio yang seorang model, untuk melihatnya pun saya harus mendongakkan kepala saking jangkungnya. Trina Paquinto, orang Filipina yang sudah cukup lama tinggal di Jakarta, bekerja sebagai guru di sebuah sekolah internasional di Jakarta Selatan.

MC Team (taken by Bimo)

MC Team (taken by Bimo)

Funtastic roommates

Igna Ardiani adalah wartawan freelance dari Jakarta yang manis, ceria dan baik hati. Dialah penghubung yang mempertemukan saya dengan Fay, seorang mahasiswa Australia yang sedang melakukan penelitian tentang Urban Agriculture selama enam bulan di Universitas Parahyangan Bandung. Kami bertiga roommates di sebuah kamar di kompleks homestay keluarga, Arjuna House 1.

Bayangkan kerennya Igna. Dia menyewa sepeda motor dari Bandara Ngurah Rai di Denpasar, 30.000 rupiah per hari, menyetir sendiri sampai ke Ubud. Motor itu berjasa mengantarnya (dan kami yang sesekali nebeng) kemana-mana terutama ke lokasi-lokasi yang cukup jauh dijangkau dengan berjalan kaki, misalnya restoran Sari Organik yang jauh di tengah sawah.

roommates (Fay, Igna, me)

roommates (Fay, Igna, me)

Di Ubud saya memang terbiasa dengan organic dan raw food. Fay sering “meracuni” untuk mampir ke toko-toko vegan atau organic yang bertebaran di jalan-jalan Ubud. Kebetulan, saat mengisi pendaftaran UWRF, saya memang memilih jenis “vegetarian” untuk pilihan meals. Fay dan saya memang cocok untuk urusan makanan dan hidup sehat. Kami ikut Free Daily Yoga Class setiap jam 7 pagi di Taman Baca. Kami juga sama-sama minta tolong Ibu pemilik homestay untuk membuatkan air jeruk lemon hangat setiap pagi. Cuma Igna yang gak berhasil “diracuni”. Igna gak mengerti di mana enaknya makanan dan minuman sehat ala vegetarian. Makanan aneh, katanya.

Kerja MC-ing

Tugas MC pada dasarnya tidak berat. Membuka sesi, membacakan tema dan bio singkat chair (moderator), mengingatkan beberapa hal kepada audiens, memantau dan menjaga durasi talk show, lalu menutup sesi, menyampaikan terima kasih kepada chair dan pembicara, dan mengingatkan audiens untuk meninggalkan lokasi. Sederhana. Tapi kalau tak terbiasa, apalagi tak fasih berbahasa Inggris, ya memang menegangkan.

Saya kebagian jadwal cukup banyak di festival. Total ada sepuluh sesi dalam tiga hari festival, Kamis sampai Sabtu. Terdiri dari 4 sesi Main Events, 2 sesi Special Events, dan 4 sesi Festival Club di Bar Luna. Lokasinya berbeda-beda. Minggu, hari terakhir, saya off duty. Bebas mengikuti sesi yang manapun saya mau, sebagai penonton.

Rayya Elias in Special Events: The Salon

Rayya Elias in Special Events: The Salon

Ini kali pertama saya MC-ing acara internasional. Gugupnya ya ampun. Ditambah conversation saya masih ngacakadut. Contekan yang sudah dipersiapkan kebanyakan buyar di depan microphone.

Hari pertama tidak memuaskan. Hari kedua comme ci comme ca. Baru besoknya saya bisa menuntaskan hari ketiga yang panjang—beneran panjang karena tugas saya berakhir sudah hampir mendekati tengah malam—dengan jauh lebih baik, lebih rileks, lebih mingle. Puas dan legaa rasanya bisa menutup malam terakhir kerja dengan senyum dan nyanyi-nyanyi kecil sepanjang jalan kaki pulang dari Bar Luna ke homestay. Alhamdulillah.

Tahun depan, kalau ada umur dan kesempatan, kalau cuti masih cukup, saya mau ikut lagi volunteer UWRF, dan akan daftar MC Team. Semoga saja diterima.

Festived fest

Over all, di usianya yang kesebelas pada 2014 ini, UWRF berlangsung lancar. Terlibat dalam penyelenggaraan merupakan pengalaman yang menyenangkan dan sungguh tak terbayar. Selain mendapat kesempatan luas bertemu dan berbincang dengan penulis-penulis nasional dan internasional, menikmati dan menyerap sharing ilmu dan pengalaman menulis dari mereka, bertemu bergaul bahkan mendapat jaringan pertemanan baru, bagi saya bertugas sebagai MC dari satu sesi ke sesi lain selama festival secara otomatis menjadi lahan berlatih dan memperbanyak jam terbang. Ini di luar ekspektasi saya.

Semoga UWRF terus berkembang menjadi lebih baik, penyelenggaraannya semakin profesional dan efisien, juga semakin banyak sponsor komersial, semakin banyak melibatkan penulis-penulis dunia dan lokal dengan karya-karya tulis mumpuni, dan tentu saja, semakin banyak fasilitas untuk tim volunteer yang berikutnya.

Rasanya itu bukan harapan yang terlalu muluk, karena keseriusan orang-orang di dalam UWRF sepertinya memang tidak main-main. Buktinya, Juni 2015 ini akan diluncurkan sibling event dari UWRF, yaitu Ubud Food Festival. A three-day culinary extravaganza with Indonesian food as the star. Humm… I think it’s worth to wait. Or should we put it into the new wish-lists?

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p