nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

4 pendekar tongkat emas

Bila saja benar rumor yang mengatakan Reza Rahadian dibayar sangat tinggi untuk Pendekar Tongkat Emas (PTE), dia layak mendapatkannya. Reza, my Reza, memberi nyawa pada film yang diklaim bergenre silat klasik ini. Seperti di film-filmnya yang lain, Reza seperti tak perlu usaha untuk berakting dahsyat di depan kamera tanpa sedikit pun terlihat dibuat-buat, bermimik dingin kadang kalem kadang datar, ber-tone suara rendah penuh kendali, beraura bengis otoriter, menakutkan hingga ingin dihindari, dijauhi, daripada bertemu hanya untuk dihabisi. A surreal. A natural born.

Reza memang selalu bayar harga. Demi mencapai keterampilan berakting senatural itu dia belajar sangat total, berlatih sangat keras (untuk film ini sampai tujuh bulan latihan muay thai dan wushu). Reza, is the future of Indonesian movies. Uhm… no. He is actually the soul of current Indonesian movies. Reza adalah pilihan paling tepat yang diambil oleh Mira Lesmana, Riri Riza, dan Ifa Isfansyah.

Pendekar Tongkat Emas

Pendekar Tongkat Emas

Aria Kusumah juga pilihan tepat. Pemain cilik yang berubah jadi agak oriental dalam kegundulannya, katanya ditemukan oleh Riri Riza saat browsing internet. Berbakat main film. Entah punya latar belakang beladiri atau tidak, aksi laganya fasih dan ligat, di mata orang awam.

Saya berharap Christine Hakim tampil lebih banyak dari hanya 20 menit pertama. Semula—dari Kick Andy saya tahu dia memerankan sang Pendekar Tongkat Emas—saya berpikir positif bahwa akhirnya ada produser/sutradara film Indonesia yang berani memasang pemain “senior” (baca: tua, peyot, uzur, dan sebangsanya) sebagai tokoh utama untuk sebuah film komersial. Mungkin saya terlalu positif.

Karakter Nicholas Saputra di film ini hampir tak bisa dibedakan dengan karakter Rangga di AADC, film Indonesia terheboh abad ini yang menandai kebangkitan kembali film nasional dua belas tahun lalu. Anak muda yang cool, pendiam, kelihatan tidak peduli dengan wanita, jantan dan sangat peduli pada wong cilik.

“Kelihatan tidak peduli dengan wanita” alias kebalikan dari pria-pria Casanova hobi nyepik penebar pesona ke mana-mana, salah satu karakter yang bikin agenda cari jodoh makin sulit jaman sekarang. Tapi, sejak AADC, pikiran saya begitu saja memisahkan sosok Nicsap dari  karakter yang ia perankan. Untuk satu alasan yang gak jelas apa, feeling saya kok bilang aslinya Nico ini gak se-cool di layar kaca. Haha. Mohon maaf untuk para penggemar.

Tara Basro, yang memerankan tokoh wanita antagonis, cukup terbantu dengan garis wajah dan bentuk matanya yang memang dari sononya melukiskan sinis dan kejam. Mungkin sesuatu juga ditambahkan di sudut mata Tara untuk mempertegas kesinisan. Yang kurang cuma suaranya, masih kedengaran terlalu ringan dan… modern. Agak kentara warna suara anak gadis kota metropolitan.

Tidak hanya para pemeran utama yang rata-rata bermain bagus, hampir semua pemain pendukung Pendekar Tongkat Emas juga menjalankan tugasnya dengan baik. Slamet Rahardjo, Wani Dharmawan, Darius Sinathrya, bahkan dan tentu saja Prisia Nasution.

Saya tak menduga Prisia tampil begitu singkat. Tapi dia melafalkan dengan penghayatan sempurna dua kalimat yang keluar dalam tak sampai lima menit penampilannya.

Kemunculan Prisia itu juga lah yang meyakinkan saya bahwa Pendekar Tongkat Emas akan lebih maksimal seandainya Merah Dara, tokoh utama perempuan, ia perankan. Bukan berarti Eva Celia gagal membawakan Dara. Emosinya cukup baik, penampilan secara umum sudah lebih berkembang dibanding saat ia memerankan Adriana. Eva hanya perlu lebih banyak latihan dan jam terbang lagi untuk mengasah penghayatan. Dan untuk proyek sekolosal, semahal Pendekar Tongkat Emas, Prisia jelas lebih matang, lebih siap. Bukan omong kosong dia mendapat Piala Citra kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik pada Festival Film Indonesia 2011 untuk permainannya di Sang Penari, film yang bikin saya pertama kali jatuh cinta padanya.

Kata adik saya dulu, Prisia sebelumnya sering tampil di FTV. Ia salah satu dari sedikit bintang-bintang FTV yang “memang bagus mainnya”.

Elang (Nicsap) membawa warga pindah kampung

Elang (Nicsap) membawa warga pindah kampung

Lambat

Film berdurasi 112 menit ini sempat terasa agak lambat. Bukan pace-nya, sebab setiap adegan sebetulnya mengandung makna, relevan, dan berkesinambungan satu sama lain. Hampir tidak ada adegan yang tidak perlu.

Yang terasa lambat, sampai bikin saya gak sabar, cara jalan pemainnya itu yang lambat-lambat. Mulai dari adegan pertama, Christine Hakim berjalan lambat di jalan setapak (atau padang—saya lupa). Saya ingat dulu film-film silat Cina yang sering kami tonton di rumah waktu saya kecil, pemain-pemainnya gesit dan jalannya cepat meskipun sudah bangkotan. Nico, waktu berjalan menyusuri padang, jalannya pun terlalu santai. Eva apalagi, seperti membatasi sendiri area geraknya sejauh jangkauan lebar kamera. Yang tidak terlihat lambat cuma Reza, my Reza.

Untungnya, dialog dalam film cukup terjaga apik. Minim, tapi berisi. Sudah banyak dikutip orang di mana-mana. Tidak sia-sia trio Miles-Riri-Ifa menggaet Jujur Prananto dan suhu Seno Gumira Ajidarma sebagai bagian dari tim penulis naskah. Maka jangan harap mendengar bahasa gaul Jakarta masa kini. Tapi bagi penganut bahasa formal ketimbang bahasa gaul—seperti saya, itu justru menyenangkan. Meski sesekali dialognya masih terdengar kagok dan kurang alami diucapkan. Mungkin karena beberapa pemainnya (terutama kaum muda urban seperti Eva dan Tara) tidak terbiasa.

Setting Pemandangan Alam

Setting “pemandangan alam yang bagus” banyak dipuji orang. Saya tak memasukkannya dalam penilaian.

Kalau melihat film-film Indonesia beberapa tahun terakhir, makin ke sini sinematografinya memang makin baik—jangan hitung film horor mesum, tentu—meski masih sering terlihat adegan yang jomplang satu dengan yang lain (saya lupa istilahnya dulu pernah baca, “… hole” apa lah gitu) atau ketidakkonsistenan adegan di sana-sini. Di luar itu, storyline biasanya jadi bagian paling lemah di hampir semua film Indonesia. Sering saya kebosanan di bioskop nonton film Indonesia, sudah bagus-bagus setting tempatnya, pengambilan gambarnya, tapi storyline dan plotnya amburadul. Gambar oke tapi ceritanya jelek, ya filmnya jelek.

Itu sebabnya saya gak bisa latah memuji-muji keindahan alam Sumba di Pendekar Tongkat Emas. Sumba indah, banget. Tapi itu urusan traveling dan videografi, nantilah. Lagipula ini cerita bukan tentang atau berlatar Sumba, bukan cerita yang digambarkan terjadi di tanah Sumba. Sumba dipilih sebagai lokasi syuting saja.

Namun demikian, saya ingat satu film Indonesia yang bikin saya terpana dengan background settingnya: Tendangan dari Langit (sutradara Hanung Bramantyo). Kalau dibilang mungkin itu karena saya sudah pernah ke Bromo dan menyukai alamnya, saya toh tidak merasa begitu waktu nonton Laskar Pelangi (produksi Miles-Riri). Padahal saya juga sudah pernah ke Belitong, dan juga menyukai alamnya.

Storyline dan Ending

Faktor jalan cerita dan akting pemain yang sangat penting lah yang membuat Pendekar Tongkat Emas sama sekali tak bisa disejajarkan dengan The Raid, film laga Indonesia yang beberapa waktu lalu mencetak kehebohan luar biasa dan menembus box office Amerika dan beberapa festival film internasional.

Lagi-lagi ini subjektif, tapi bagi saya The Raid (terutama sekuel pertama) bukan “film”. Isinya lebih banyak mengeksploitasi darah dan senjata, tanpa ada cerita. Membombardir adrenalin? Pastinya. Indah? Silatnya, jelas. Tapi apa hanya itu yang dicari dari sebuah film? Uhm, adrenalin saya juga mengalir deras kalau menonton festival pencak silat atau UFC Thailand.

The Raid 2 mulai menghadirkan cerita untuk menjawab kritikan. Hasilnya membuktikan premis awal: bikin film Indonesia memang sulit, lebih sulit lagi cari pemain yang cakap berakting.

Mau tahu cara gampang bikin film laga? Carilah pesilat dan lupakan pemain film.

Tapi haruskah ambil jalan gampang? Haruskah pakai pesilat asli? Haruskah bersetia pada genre “silat-yang-bukan-impor” untuk bikin film silat? Haruskah menggunakan koreografer lokal demi menghindari anggapan “tidak nasionalis” atau “tidak menghargai sumber daya dalam negeri”?

Buat saya yang cuma penonton dan penikmat film, cukuplah hanya peduli apakah filmnya bagus atau tidak, menghibur atau tidak, mengandung pelajaran atau tidak.

Nuh Putra Damar Alam

Nuh Putra Damar Alam

Klimaks laga ilmu pamungkas Tongkat Emas Melingkar Bumi antara dua protagonis melawan dua antagonis berlangsung cukup seru, menegangkan dan menghibur. Makin seru dengan ending penampilan membius dari seorang pesilat cilik tulen, Nuh Putra Damar Alam. Sejauh penelusuran googling, bocah yang bikin penasaran ini berasal dari perguruan seni beladiri Tapak Suci Putra Muhammadiyah di Jakarta.

Dan di antara sekian pesan dalam Pendekar Tongkat Emas, ini yang paling saya ingat: Seorang pendekar menjaga sumpahnya, melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran, mengambil tanggung jawab dan menjalankan apapun konsekuensi atas semua keputusan dan tindakannya. Tanpa menyesal.

Kalau ditanya saya lebih memilih sekuel yang mana, PTE atau AADC? Tak sulit menjawabnya.

Berikut video behind the scene Pendekar Tongkat Emas

4 Comments »

  1. DM says:

    Review-mu ini bagus sekali!

    [Reply]

    nat Reply:

    Whoaaa… Dibilang bagus sama penulis rasanya gimanah gituh… Makasiihh!

    [Reply]

  2. KDA says:

    Nice review…

    [Reply]

    nat Reply:

    Thank you for reading it

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p