nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 gengsi bahasa dan sastra

nat to jurnal — Tags: , , ,  

Hari ini Menteri Anies Baswedan mengatakan sesuatu yang “bunyi” di telinga saya. Menurutnya, pendidikan sastra selama ini cenderung disepelekan dan masyarakat kurang sekali menaruh perhatian pada sastra.

Jumlah bacaan sastra anak SMP dan SMA masih sangat minim dibandingkan seharusnya.

Belajar bidang apapun, kemampuan menulis sangat penting. Anda jadi insinyur tapi menulis indah, maka karya Anda akan jadi luar biasa. Di sisi lain, kemampuan anak menulis jangan diarahkan untuk jadi profesi penulis saja.

Saya tak bisa lebih setuju. (maksudnya mau bilang, “Couldn’t agree more.” –haha)

Entah disengaja atau terjadi begitu saja, masyarakat kita telah sejak lama menciptakan sendiri derajat bidang-bidang keilmuan. Harkat ilmu alam, atau “ilmu pasti” (meliputi fisika, kimia, biologi dst), ditempatkan pada level pertama. Ilmu bumi merupakan salah satu turunannya.

Matematika tidak dianggap sebagai ilmu alam, melainkan instrumen yang digunakan sebagai perangkat dalam ilmu-ilmu alam. Ilmu alam kemudian menjadi landasan bagi perkembangan ilmu terapan, mencakup ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni. Bahasa dan sastra termasuk di dalamnya. Di masyarakat awam kita, ilmu terapan inilah yang kemudian sering ditempatkan seolah menjadi juru kunci dalam pendidikan.

Saya tidak terlalu memerhatikan trend pendidikan dan keilmuan saat ini, tapi dulu masa-masa saya sekolah, pengelompokan derajat-derajat itu terlihat jelas. Di SMA misalnya, murid beramai-ramai berusaha masuk ke jurusan A1 (Fisika) *iya, saya setua itu—if you know what I mean*. A1 biasanya pilihan pertama sebelum memilih A2 (Biologi), dan sebelum ikhlas “terlempar” ke A3 (Sosial) atau A4 (Bahasa). Tidak semua begitu, tentu saja, tapi pandangan umum demikian. Kejam?

Saat akan kuliah pun serupa. Calon-calon mahasiswa belajar super keras untuk bisa masuk jurusan IPA, yang secara umum dianggap jauh lebih sulit ketimbang masuk jurusan IPS. Kalau ini sih rasanya gak salah-salah amat, memang lebih sulit. Tapi untuk menentukan bidang yang akan serius kamu geluti di masa depanmu, “sulit” atau “gengsi” seringkali tidak cukup menjadi faktor utama yang akan menentukan kesuksesan-kepuasanmu. Rasa suka, senang, bersemangat, curious to the max saat mengerjakan dan mendalami sesuatu, pada akhirnya yang akan menjadi suluh dan memampukan kita untuk terus hidup-yang-hidup di jalur tertentu.

Saya sendiri makin lama makin merasa jangan-jangan telah salah mengambil jurusan waktu SMA. Jangan-jangan mestinya saya masuk A4, bukan A1.

Di angkatan saya SMA dulu, tidak ada kelas A4. Saya lupa apa seharusnya ada tetapi digabung ke kelas A3 karena peminatnya kurang banyak, atau memang program kelas bahasa ketika itu belum ada di angkatan kami. Yang saya ingat, saat akan menentukan pilihan ke A1, saya cukup sedih karena tidak akan dapat pelajaran bahasa asing selain Inggris, tapi juga tidak terlalu gundah. Tidak terlalu gundah sebab konten pelajaran Ekonomi di A3 katanya cukup dominan, dan saya ketika itu memang “menyerah” pada pelajaran Ekonomi.

Saya suka bahasa asing. Sejak belum sekolah saya sudah sadar itu sesadar-sadarnya. Inggris, Prancis, Jerman, Mandarin, apapun. Di sini ini (sambil menunjuk dada) selalu kasuat-suat kalau mendengar bahasa-bahasa asing. Belakangan, saya sadar, saya juga suka Bahasa Indonesia. Terbiasa berusaha memahami dan menggunakan struktur dan tata bahasa yang benar dalam penulisan, meski masih banyak salah juga. Lebih belakangan lagi, saya akhirnya sadar juga, saya berhenti seolah-olah benci dan mengingkari menariknya Bahasa Batak, bahasa ibu para leluhur saya yang sekarang sudah diam abadi di tugu kuburan keluarga kami di Gompar Sigombo sana.

Tapi memang semua itu baru disadari belakangan. Terlalu belakangan. Bagaimanapun bergetarnya dulu dada saya demi hanya melihat tulisan ‘Bahasa Jerman’ ‘Bahasa Prancis’ ‘Bahasa Inggris’, saya ternyata lebih tidak ingin dianggap “gak terlalu pintar” kalau tak masuk kelas A1. Yes, gengsinya kelas A1 itu selangit. Apalagi buat yang di belakang namanya ada marga, kayak saya, bisa masuk A1 meski nilai Matematika-Fisika-Kimia pas-pasan ibarat anugerah dan menjadikan kami aset kebanggaan orang tua. Tamat sekolah, masuk kampus negeri dan menjadi insinyur, dokter atau minimal sarjana hukum, melipatgandakan kebanggaan itu sampai tujuh turunan.

Lucunya lagi, jauh sebelum masuk SMA, saya sering diikutkan Ibu—kadang setengah dipaksa—dalam berbagai kesempatan untuk baca puisi. Deklamasi, kami menyebutnya dulu.

Di SMP, entah kenapa pula guru saya beberapa kali hobi menunjuk saya mewakili kelas ikut lomba pidato ini itu. Lagi-lagi, saya tak terlalu meng-open-inya, dan berusaha mengelak. Sementara di rumah, Ibu saya (yang kuliahnya dulu Sastra Inggris, dan sekarang masih guru PNS Bahasa Inggris—oh well) selalu menjadi yang paling bersemangat. Usaha saya mencari dukungan untuk tak ikut lomba, sia-sia. Beliau malah sibuk mempersiapkan materi pidato saya, mengajak saya latihan bersama. Bersungut-sungut biasanya saya ikuti saja, tapi toh… juara juga.

Rasa senang belajar Bahasa Indonesia baru saya sadari pertama kali pada saat TPB (Tahap Persiapan Bersama; tingkat satu) di kuliah. Gak ngerti juga kenapa, entah cara mengajar dosennya atau memang materinya menarik atau memang sudah saatnya pikiran saya mulai terbuka, yang jelas saya kok suka dengan aturan-aturan menulis dan berbahasa itu. Banyak yang sudah saya lupa sih sekarang, tapi kalaupun dibaca lagi atau kebetulan ada orang yang mengoreksi kesalahan saya, reaksi saya sekarang sama antusiasnya.

Saya tak banyak bertemu orang yang cukup peduli soal bahasa. Maka seperti menemukan mata air di gurun lah rasanya ketika tahun-tahun awal di Jakarta saya bertemu atasan yang bisa dikata peduli bahasa. Bukan sekadar peduli, beliau juga berusaha menyebarkan pemakaian bahasa yang baik dan benar ke semua anak buah. Yang mana memang sudah seharusnya demikian, sebab kami bekerja di media pemberitaan. Sayang sekali sepeninggal beliau kini tak ada lagi dukungan terhadap penggunaan bahasa yang baik dan benar. Mengoreksi ini itu cuma dianggap angin lalu, ‘tukang protes’, bahkan ‘sok tahu’. Akhirnya lama-lama saya diamkan saja, sambil rajin-rajin merapal mantera “emang-siapa-gue”.

Eh ndilala, di luar kantor, saya malah bertemu dengan orang baru lagi yang jauh lebih “bahasa geek” ketimbang atasan saya dulu. Bukan cuma peduli bahasa, ia bahkan membaca banyak buku dan sastra, yang tentu saja membuatnya jadi tak sulit menulis dengan baik pula. Dari situlah saya kemudian makin semangat lagi belajar bahasa, mulai lebih peduli lagi pada budaya, dan pelan-pelan menilik sastra (bagaimanapun sastra masih terlalu “priyayi” buat saya, dan saya tak terlalu berambisi menaikkan kasta selain cuma ingin lebih menjadi “saya”). Sudah cukup sangat menyenangkan mengetahui bahwa pintu itu ternyata masih bisa terbuka, menunjukkan hal-hal yang telah jauuuuhh sekali tersembunyi entah di bagian mana dari memori otak saya.

Tak urung terkadang terpikir juga, kenapa baru sekarang… kenapa dulu tak sadar… kalau saja dulu sadar… kalau saja dulu lebih mendengarkan rasa senang…

Namun mengambil pelajaran selalu lebih bermanfaat ketimbang keluh sesal yang tak guna. Toh… masih okelah bisa jadi bekal yang baik ketika tiba saatnya nanti mengasuh anak.

Setidaknya juga, hari ini saya cukup senang menyadari sesuatu. Bahwa dulu saya tak lebih tersesat memilih A2. Sudahlah mau terbakar dengan pelajaran Kimia (yang porsinya pun banyak selain Biologi), saya juga tidak pernah se-excited adik saya tiap kali mendengar cita-cita orang “mau jadi dokter”.

Referensi:

  1. Detiknews — Menteri Anies: Kita Kurang Menaruh Perhatian Pada Sastra
  2. Wikipedia — Ilmu Alam

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p