nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 why volunteering

nat to jurnal — Tags: ,  

Pernahkah kamu mengalami atau melihat sesuatu yang terasa sangat mendalam, hingga kamu terdorong untuk ikut melakukannya? Kamu menyimpan dalam hati kejadian yang kamu alami atau fenomena yang kamu perhatikan itu, dan mengingatnya terus hingga suatu saat nanti kamu mendapat kesempatan untuk benar-benar melakukan atau mengalaminya lagi?

Salah satu fenomena (atau kebiasaan—rasanya lebih tepat) yang saya amati di masyarakat Eropa adalah, mereka senang bekerja sosial. Di film-film Hollywood juga sering kita lihat orang-orang Amrik melakukan hal serupa, tapi saya belum pernah melihat langsung. Katanya, apa yang kita lihat dengan mata kepala sendiri, lebih membekas daripada yang hanya kita dengar dari orang lain atau kita tonton di TV.

Saya sudah cukup senang mendengar cerita seorang ibu yang bekerja volunteering di perpustakaan salah satu sekolah di Hamburg. Tidak terlalu memakan waktu, paling hanya 1-2 kali seminggu masing-masing 3-4 jam, namun dikerjakan dengan profesional dan disiplin, khas Jerman. Dasarnya ia cinta pada pekerjaannya, ia bercerita sering lupa waktu kalau sudah berada di dalam perpustakaan bersama buku-buku tua itu.

Seorang gadis kira-kira sepantaran saya (atau sedikit lebih muda) yang jadi induk semang saya di Berlin, bekerja resmi di sebuah NGO. Ia pun, meluangkan waktu sekali seminggu untuk bekerja volunteer di tempat lain.

Lalu saya diajak Paman mengunjungi sebuah kompleks gereja dan kesusteran cukup terkenal, The Evangelical Sisterhood of Mary di Darmstadt, sekitar 35 km atau 30-40 menitan naik mobil dari Frankfurt. Saya diajak berkeliling dan ditunjukkan bagian-bagian dari kompleks gereja dan kesusteran itu, disuguhi makanan dan minuman, diputerin film dokumenter tentang sejarah kesusteran itu, diberikan buku ini dan buku itu, dst.

Well… saya tahu Paman punya misi khusus membawa saya ke sana. Tapi saya tak ingin membahas soal itu. Yang justru bikin saya tersentuh adalah para pekerja yang saya lihat di sana. Ada bapak bapak memotong rumput di halaman yang luas, ada yang menyiram tanaman. Ibu-ibu yang menyiapkan makanan untuk jemaat, membawa piring-piring kotor ke dapur untuk dicuci dan membawa lagi yang bersih ke ruang makan jemaat. Perempuan mondar-mandir dari satu bangunan ke bangunan lain entah membawa apa saja.

Paman saya bilang, “Mereka itu volunteer.”

“What??”

“Ya, banyak orang-orang tua dan muda, jemaat ataupun bukan, yang mau menyediakan waktu sekali atau dua kali seminggu untuk bekerja di sini. Mengerjakan apa saja. Itu biasa di sini.”

“Mereka tidak dibayar?”

“Tidak. Mereka hanya menyediakan waktunya.”

Perbincangan kami selanjutnya sedikit serius. Saya bilang kenapa di Indonesia hal seperti ini tidak umum, padahal apalah artinya waktu 3-4 jam sekali seminggu.

“Kamu bisa melakukannya nanti kalau sudah pulang,” kata beliau dengan mata tersenyum.

Itulah awalnya, mengapa kemudian saya jadi tertarik untuk bekerja volunteer. Saya tahu sebagai karyawan tetap yang masih bekerja untuk orang lain ditambah beberapa aktivitas lain, waktu saya terbatas. Mengambil cuti yang jumlah totalnya hanya 12 hari setahun pun bukan sesuatu yang semudah diucapkan. Makanya saya lebih tertarik bekerja volunteer yang reguler, sekali atau dua kali seminggu barangkali.

Sekembali dari sepekan bekerja volunteer di UWRF 2014 kemarin, keinginan itu muncul lagi. Barangkali ada dari beberapa perpustakaan, museum, rumah sakit, di sekitar tempat tinggal saya yang membuka pekerjaan seperti itu.

Saya pikir, dari 7×24 jam yang sudah digunakan untuk banting tulang cari nafkah dikurangi beberapa jam waktu tidur dan hari libur, apa salahnya jika bisa memberikan sedikit waktu saja untuk bekerja secara sukarela tanpa dibayar, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Giving back to the community. Kira-kira mirip menyisihkan uang perpuluhan bagi umat Nasrani, atau zakat (yang wajib) bagi Muslim.

Pekerjaannya apa, terserah apa saja, terserah bentuknya apa, terserah di mana saja. Saya rasa tidak ada suatu pekerjaan volunteering yang lebih baik dari pekerjaan volunteering yang lain. Sama baiknya. Sama sukarelanya. Hanya niat kata kuncinya. Kenapa niat? Karena niat, membuat kuat untuk bertahan.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p