nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 jakarta panas, jakarta indah

nat to jurnal — Tags: , , ,  

Beberapa hari ini ramai orang ngomel-ngomel mengeluhkan suhu Jakarta yang katanya kelewat panas. Gak cuma di group-group WA, di FB pun sama. Ada yang bilang kebangetan suhu kota sampe 39, ada yang bilang sampe 40, ada yang bilang lebih dari 40? Barangkali.

Semoga saya gak di-bully seperti seperti warga Bekasi yang gak senasib sepenanggungan dengan warga Jakarta dsk yang tempo hari menikmati gerhana bulan ya, tapi panasnya Jakarta hari-hari ini gak luar biasa saya rasa. Jakarta memang panas—saja, gak pake banget.

Kebetulan karena aktivitas saya, siang-siang bolong antara jam 12an sampe jam 2an kemarin dan hari ini saya ada di jalan. Naik motor. Kemarin pakai rok mini. Tadi pakai celana 3/4. Tanpa stocking. Tanpa kaus kaki. Panas? Ya iya. Terik? Ya iya. Tapi ya segitu aja. Sepanasteriknya Jakarta kalau naik motor di siang bolong hari-hari lain, gak jauh beda. Gak sampai sepanas di gurun pasir (barangkali), apalagi sepanas neraka (asumsi).

Pekan lalu saya menghabiskan waktu sepekan penuh di Ubud, Bali. Teriknya Jakarta ini gak ada apa-apanya dibanding di sana. Padahal bolak-balik jalan kaki pagi dan siang bolong juga saya di sana, karena selain susah cari ojek, ongkosnya muahal. Jarak cuman 1,5-2 kiloan masak 30 ribu? Hissh… 3x lipat dari ojek Jakarta. Mending sekalian bakar lemak jalan kaki. Tanpa payung. Tanpa topi. Tanpa lengan panjang melindungi kulit. Kecuali sudah kepepet waktu, sebarang orang di jalan pun ditodong jadi ojek.

Toleransi saya terhadap suhu terik negara tropis ini saya rasa memang sekarang berlipat ganda. Otak bawah sadar sepertinya merespon permintaan tubuh secara otomatis, sejak beberapa tahun lalu saya merasakan sengsaranya berada di udara dingin benua Amerika (yang sayangnya sangat saya sukai itu) dan Eropa. Hanya dua minggu di Amrik sana di awal musim dingin bulan November, hari-hari pertama saya merasakan sakitnya udara dingin hingga ke tulang hidung dan kepala. Asli, sakit. Saya panik dan mengira mimisan atau kepala akan pecah, untungnya enggak.

Di Eropa saya melewatkan awal musim panas antara bulan Mei hingga Juli. Panas dong mestinya. Tapi anginnya tetap saja dingin, ngin, ngin. Pemanas ruangan di apartemen saya tinggikan sampai 28 derajat, hanya untuk menerima teguran keesokan harinya dari empunya apartemen agar jangan boros menggunakan pemanas, karena MAHAL *oops* Gantinya, saya disuruh pakai jaket tebal. Tapi tetap saja saya kedinginan, dan tidur selalu menggigil gemetaran. Tiap jalan keluar, matahari terik. Tapi saya kayak orang bego pakai jaket dan pashmina menutup leher. Oalah nduk, udiknya kau ni.

Saat di tengah cuaca musim (yang katanya) panas itulah, suatu kali—lebih dari sekali—saya menengadah ke langit dan bergumam sendiri, betapa beruntungnya saya dilahirkan dan hidup di Indonesia. Beruntungnya saya bisa menikmati matahari sepanjang tahun. Seeeepanjaang tahuuun. Di Barat, matahari adalah sebuah kemewahan. Mereka selalu merayakan datangnya musim panas. Itu karena mereka harus menebus dengan bulan-bulan musim dingin yang kelam dan suram, sering berpengaruh pada mood yang ikutan muram.

Saya pun berjanji ketika itu, tidak akan lagi mengeluhkan panas teriknya cuaca di Indonesia, seperti yang dulu-dulu sering saya lakukan.

Sepulang ke Jakarta, saya kembali bekerja di studio siaran yang notabene harus selalu dalam temperatur ruangan dingin (agar peralatan siaran tak cepat rusak). Ruang redaksi pun seringkali tak kalah dingin. Ini juga masalah klasik yang sudah jadi makanan sehari-hari. Bedanya kini, sejak pulang dari Eropa, tiap kali ada orang masuk ke kantor bilang “Gilaak panas banget di luar!” saya justru berbunga-bunga dan gak sabar nyelonong keluar. Senangnya bisa merasakan matahari menyentuh kulit. Tiap kali berdiri atau berjalan di luar di bawah sengatan panasnya, saya selalu ingat, saya tak kuat dinginnya Eropa di musim panas.

Meskipun wajah saya terlihat lebih putih dengan pipi memerah ranum cantik di cuaca dingin (tapi juga lebih banyak kerutan), saya lebih memilih hidup di iklim tropis biarpun harus membayarnya dengan kulit yang semakin birong setiap hari.

Buat para turis atau mereka yang baru balik dari luar negeri, selamat datang di Jakarta, yang panas dan indah ini.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p