nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 tua itu indah

nat to jurnal — Tags: ,  

Menjadi tua adalah rahmat. Indah, karena menikmati proses yang tak tergantikan. Tetapi bagi mereka yang sering mendapat kemudahan dan kesenangan karena mudanya, menjadi tua adalah momok yang menakutkan.

Blessing in disguise buat saya, sejak kecil hampir tak pernah merasakan privilege dipuji karena muda. Masuk SD umur 8 tahun kurang 2 bulan—masih sesuai aturan sih, tapi sebagian besar murid lain kala itu masuk di usia lebih muda. Seterusnya sampai sekolah menengah dan kuliah. Di kelas-kelas kursus atau kelompok komunitas yang saya ikuti pun tak jauh berbeda, biasanya saya masuk di golongan para tua. Ada saat-saat tertentu saya pernah dipuji “masih muda”, yaitu oleh orang-orang yang memang jauh lebih tua di atas saya. Saking jarangnya mengalami momen seperti itu, selalu meninggalkan pertanyaan reaktif di hati saya, “Emang aku muda? Muda apanya?” Hahaha

Karena itu pula, saya sudah terbiasa menerima kondisi “tua”. Saya selalu gembira tiap kali menyambut pertambahan usia, dan tak pernah sungkan menyebut angka. Saya suka heran kebanyakan kawan, perempuan terutama, kerap segan menampilkan umurnya bahkan termasuk saat mereka berulang tahun. Kulturkah itu yang membuatnya menjadi semacam “tabu”?

Sepekan lalu saya dikasih hadiah oleh Tuhan. Hadiahnya cukup pahit: kolesterol saya tinggi. Dengan tinggi badan 161 cm dan berat konsisten di hanya 45 kg, total kolesterol saya ternyata 258 (normalnya <200) dan LDL atau kolesterol jahat 172 (normalnya <100). A bit way so high, yeah. Oleh dokter, saya disuruh diet rendah kolesterol. Mengubah gaya hidup, terutama pola makan yang tidak sehat dan olahraga.

Tentu saja ini menjadi tantangan serius buat saya, sebab saya sampai sekarang tak bisa masak (yes, I urge you to laugh at me). Namun karena memilih makanan di warung atau resto yang penuh bertebaran dengan olahan lemak jenuh memang jadi PR banget buat saya dan para sejawat penderita kolesterol tinggi yang ingin menurunkan kolesterolnya, maka mungkin ini cara yang dipilih Tuhan untuk mengajak saya: belajar memasak. Dan, kembali berolahraga.

Tuhan juga adil (meski kadang rasanya gak juga—hihi). Saya dikasih hadiah indah, saya rasa ini salah satu hadiah ulang tahun yang paling indah yang pernah saya terima (menginjakkan kaki di Taj Mahal salah duanya; telepon ucapan selamat dari seseorang yang sangat tidak saya sangka-sangka adalah salah tiganya). Ucapan selamat dari semua anggota keluarga (ayah ibu adik-adik dan ponakan) bagi saya bukan hadiah, melainkan “kewajiban”, mutlak harus ada, seperti udara untuk bernapas atau makanan. Kalau ada yang kurang dari mereka tidak kasih selamat, saya akan protes ke surga karena pasti lagi ada yang korslet di sekring sana. Syukurlah belum pernah kejadian. Ini kali, hadiah ulang tahun itu adalah saya diterima jadi volunteer di acara yang sudah dua tahun terakhir saya idam-idamkan: Ubud Writers and Readers Festival 2014.

Tuhan itu baik. Sangat baik. Tanpa tanda kurung, tanpa koma, tanpa catatan kaki. Di antara bebatuan, pasir dan onak duri sepanjang perjalanan kehidupan, dia selalu punya cara untuk membawa kita ke tempat perhentian yang tenang: pelajaran yang mendasar dari setiap kejadian.

Bila menjadi tua berarti mendapatkan kebijaksanaan. Bila menjadi tua berarti menemukan jiwa yang nyata. Bila menjadi tua berarti mendapatkan kelapangan hati yang luas. Bila menjadi tua berarti semakin merasakanNya. Saya menginginkannya.

P.S.

Saya 37 tahun. Jika Tuhan mengijinkan, saya ingin pensiun kerja cari duit di umur 45.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p