nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 eleven minutes

nat to buku — Tags: , ,  

Eleven Minutes (Paulo Coelho)

Eleven Minutes (Paulo Coelho)

Catatan harian Maria, tokoh utama dalam novel Paulo Coelho terbitan 11 tahun lalu—yang baru saya baca dalam dua hari libur Lebaran kemarin.

Alkisah, dulu ada seekor burung jantan yang tampan. Dia punya sepasang sayap yang indah dan tubuhnya berhias bulu beraneka warna yang halus mengilat. Pendeknya, dia diciptakan untuk terbang bebas di langit biru dan memberi rasa bahagia pada semua makhluk yang memandanginya.

Pada suatu hari, seorang perempuan melihat burung itu dan langsung jatuh hati padanya. Mulutnya menganga penuh kekaguman saat memandangi burung itu terbang membelah langit, jantungnya berdegup kencang, matanya berbinar-binar penuh harap. Dia meminta burung itu membawanya terbang, dan keduanya menari dengan serasi di angkasa. Dia sungguh mengagumi dan memuja burung itu.

Sempat terlintas di benak perempuan itu: Mungkin burung itu ingin berkelana ke puncak-puncak gunung yang jauh! Seketika hatinya risau dan cemas, khawatir hatinya tak mungkin jatuh cinta kepada burung lain. Dan dia merasa sungguh iri, mengapa dia tak bisa terbang bebas sebagaimana burung pujaannya itu.

Dan dia merasa sangat kesepian.

Lalu dia berpikir: “Akan kubuat sebuah jebakan. Jika burung itu muncul lagi, dia akan terjebak dan tak bisa pergi lagi.”

Si burung yang ternyata juga jatuh cinta kepada perempuan itu datang keesokan harinya, terpikat masuk ke dalam jebakan, dan akhirnya dikurung oleh perempuan itu.

Dengan puas hati perempuan itu memandangi burung pujaannya setiap hari. Akhirnya dia mendapatkan objek tempat dia menumpahkan segala luapan nafsunya, dan tak lupa dia memamerkan burung itu kepada teman-temannya yang tak henti-hentinya memuji: “Kini kau telah mendapatkan segala sesuatu yang kau inginkan.” Namun kini terjadi perubahan yang aneh: karena burung itu telah mutlak dikuasainya dan dia tak perlu merayu dan memikatnya lagi, akhirnya dia tak lagi tertarik kepadanya. Dan si burung yang tak kuasa terbang dan mengungkapkan makna hidupnya yang sejati mulai merana; bulunya yang indah mengilat berubah kusam, dan makhluk penuh pesona itu berubah menjadi buruk rupa, dan perempuan itu semakin lama semakin tak menghiraukan dia, kecuali memberinya makan dan minum serta membersihkan kandangnya.

Pada suatu hari burung yang merana itu mati. Perempuan itu sangat bersedih, dan setiap hari menghabiskan waktunya untuk mengenang si burung. Tapi dia tak lagi hirau pada kandang burung itu—dia hanya teringat saat pertama kali melihat si burung yang mengepakkan sayapnya dengan penuh keyakinan diri di sela-sela awan.

Seandainya dia bisa becermin pada kalbunya yang paling dalam, dia akan insaf bahwa pesona terbesar makhluk berbulu itu adalah kebebasannya, keperkasaan kepak sayapnya, dan bukan sosoknya yang rupawan.

Tanpa kehadiran burung itu, hidupnya berubah hampa dan sepi makna, hingga suatu saat datang Maut menjemputnya. “Mengapa kau datang kemari?” tanya perempuan itu. “Kujelang dirimu agar kau dapat kembali terbang bersamanya ke langit,” jawab Maut. “Kalau saja dulu kau biarkan dia bebas datang dan pergi, tentu akan semakin besar cinta dan kekagumanmu padanya; dan aku tak perlu datang untuk membawamu kepadanya.”

Dari sekian banyak catatan harian Maria, catatan itu yang paling menancap buat saya. Soal kebiasaan Maria bikin catatan harian ini, Eleven Minutes sejak awal memang sudah cukup menggelitik. Sebabnya, baru sepekan berselang saya memutuskan beli buku khusus untuk dijadikan jurnal harian. Untuk menuliskan apa yang tidak bisa saya tuliskan di social media. Mengabadikan apa yang tidak cukup saya abadikan di komputer. Dan sedikit tujuan lain; melatih kembali jari-jari tangan untuk berolahraga menulis manual demi mengimbangi aktivitas mengetik—konon penting untuk kesehatan otak dan psikologis.

Kembali ke catatan Maria di atas, saya memilihnya sebagai resume, benang merah, kesimpulan, yang menjadi bagian dari pesan besar yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Bukan pesan utama—saya rasa—karena sepertinya pesan utama novel ini adalah: bahwa setiap manusia memiliki pergumulan hidupnya masing-masing, sehingga oleh karenanya tidak ada satu pun dari manusia lain yang “bisa” menghakimi jalan hidup seseorang, senista dan seburuk apapun (dianggap) jalan hidup yang ia pilih jalani. Maria, dalam satu fase hidupnya, adalah pelacur, by her own choice. (Tidak ada kesulitan apa-apa buat saya menerima pesan utama ini. Secara pribadi saya memang menyimpan empati khusus pada saudara-saudara perempuan yang hidup dari profesi yang dihujat secara sosial itu. Saudara-saudara perempuan itu lebih terlihat sebagai pejuang-pejuang hidup yang tangguh dan di-tangguh-kan oleh hidup, ketimbang sebagai manusia yang oleh masyarakat dianggap… yah… begitulah…)

Catatan Maria menjadi penting bagi saya, ia seperti rhema yang berbicara, bahwa cinta berarti membebaskan. Cinta tidak ingin mengikat. Cinta tidak ingin menguasai.

Dalam satu fase di kehidupan saya, memahami cinta di tahap ini kerap menarik saya lebih jauh ke dalam pusaran arus yang deras. Semakin jauh, semakin diuji lebih dalam. Dan saya akui, itu bukan proses yang mudah. Tapi bukankah dalam setiap “proses yang tidak mudah” (atau “penderitaan”—meminjam istilah Resi Gotama), ada hikmah yang dibawa bagi siapapun yang mengalaminya? Ada kerendahan hati yang sedang diajarkan kepadanya? Kepasrahan terhadap satu kekuatan besar, yang lebih berkuasa daripada kekuatan badani dan akalnya…

Dalam catatan lain Maria di bagian-bagian awal novel ini, ia menulis…

Kalau aku hendak mencari cinta sejati, pertama-tama aku harus mengeluarkan cinta-cinta yang biasa-biasa saja dari dalam diriku. Sedikit pengalaman hidup yang telah kuperoleh mengajariku bahwa kita tidak punya apa-apa, semuanya hanya ilusi—baik menyangkut hal-hal yang bersifat materi ataupun spiritual. Siapapun yang pernah kehilangan sesuatu yang mereka pikir milik mereka (seperti sudah cukup sering terjadi padaku) pada akhirnya menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar milik mereka.

Dan kalau aku tidak memiliki apa pun, berarti buat apa membuang-buang waktu mengurusi hal-hal yang bukan milikku; lebih baik aku bersikap seolah-olah baru hari ini aku hidup (atau ini hari terakhirku hidup).

Segera saya teringat sepenggal bio yang saya tuliskan sendiri di akun twitter saya:

nat | work ‘n enjoy | love equals freedom

……

Eleven Minutes adalah buku ketiga Paulo Coelho yang saya baca. Baru tiga, haha. Buku pertamanya yang saya baca adalah The Alchemist, masterpiece Coelho yang hampir tak berkesan apa-apa buat saya. Well… to make it fair, let’s blame my poor English on this. Mungkin saya akan menangkap kesan yang lebih baik kalau membaca terjemahan Bahasa Indonesia-nya.

Tapi tidak ada yang salah dengan terjemahan Indonesia dalam Aleph, buku Coelho yang terbilang masih baru, yang saya baca kemudian. Hanya saja, Aleph membuat saya kecewa justru pada sosok Coelho, yang digambarkan di buku itu sebagai dirinya sendiri. Atau mungkin… alter egonya. Saya melihat Coelho seperti kakek tua renta yang terkena post-power syndrome dan sedang memasuki puber kedua (bisa juga ketiga—kalau puber kedua terjadi di rata-rata usia akhir 30-an sampai 40-an); yang mabuk kepayang dan memanfaatkan cinta seorang gadis belia fans beratnya. He was using her. Yang bikin saya kecewa (mungkin marah lebih tepat): peristiwa itu terjadi di dunia nyata. Itu kisah hidupnya. Hidup “The Paulo Coelho”. Bukan rekaan, bukan hasil racikan imajinasinya.

Maka pelajaran lain yang saya hadapi adalah, saya ditantang untuk tak begitu saja menilai karya seseorang dari hanya tiga karyanya, sementara ia telah melahirkan setidaknya 30 karya yang mendunia. Sebab itulah sepertinya, saya masih akan terus berusaha membaca buah karya Paulo Coelho. Terlalu sembrono juga lah kiranya, menilai seorang tokoh dari pengalaman hidup pribadinya yang ia buka kepada dunia. Boleh tak setuju atas sesuatu, tapi jangan menyimpulkan dan membenci. Kita kan tak bisa membenci Taylor Swift yang sering mengambil kisah cintanya dengan belasan mantan pacar dan teman kencannya, sebagai inspirasi untuk dijadikan lagu-lagu hitsnya?

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p