nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 menulis pertanda ada

nat to jurnal — Tags: , ,  

Usahakan menulis, Li. Menulis menandakan kita ada. Dengan menulis keberadaan kita diakui. Menulis apa? Apa saja! Betapa sayangnya punya pengalaman langka tidak disampaikan. Menulislah.

Saran itu masuk di BBM saya malam ini. Saya baru menyadarinya ketika terbangun dan menyalakan ponsel yang kehabisan baterai. Dari Pemred saya. Well, setidaknya sampai hari ini saya masih menganggapnya demikian, karena rasa-rasanya nama beliau masih terdaftar di HRD, sebelum resmi pindah ke bank data HRD di unit sebelah.

Saya gak tahu kenapa saran itu beliau sampaikan. Dan apakah saran itu juga disampaikannya kepada rekan-rekan lain. Apapun, mendapatkan saran menulis dari seseorang yang saya kenal, bagi saya istimewa. Saya kaget, dan senang.

Sudah lama saya ingin bisa menulis. Bukan sekadar menulis, tetapi menulis bagus. Saya tidak tahu bagaimana caranya. Saya tak mengerti teknik menulis. Juga tidak tahu bagaimana cara mengembangkan ide tulisan. Bagaimana menuangkan diksi dan kosa kata, apalagi merangkaikannya.

Belakangan saya berpikir, yang harus saya benahi benar-benar untuk bisa menulis, adalah kebiasaan membaca saya yang sampai sekarang masih buruk sekali. Itu sebabnya saya membatalkan rencana mendaftar kelas menulis di Salihara tahun ini. Saya pikir, belajar teknik penulisan tidak akan terlalu berguna, kalau kamu masih miskin membaca. Dan akan sangat berguna, kalau kamu kaya membaca. Otakmu sudah punya modal. Sudah berseliweran mana bacaan yang menurutmu enak dibaca dan yang tidak enak dibaca; mana bacaan yang bikin kamu “tertanam” hingga enggan mengakhiri sampai halaman terakhir dan mana yang bikin kamu gak sabar, ngedumel, lompat-lompat halaman, kalau tak separah sampai memutuskan menutupnya sebelum tuntas.

Tahun ini, insyaallah, bacaan saya—bukan buku—akan diperkaya. Karena beli buku tak sama dengan baca buku, bukan? Tahun depan, bila dirasa masih perlu, masuk kelas menulis. Ngomong-ngomong, Kelas Menulis dan Berpikir Kreatif bersama Ayu Utami di Salihara akan dimulai 7 Juni mendatang. Masih ada waktu untuk mendaftar. Siapa tahu kamu tertarik.

Mendapat saran menulis malam ini terasa istimewa. Karena pertama, sangat personal, datang dari seseorang yang saya kenal. Meski tak cukup dekat dengan beliau, setidaknya yang ia sampaikan bukan sebarang saran dari pembicara publik, entrepreneur atau motivator yang terbiasa memberikan “saran massal” kepada audiens yang sebagian besarnya tak mereka kenal sama sekali. Saran spesifik dari orang yang kamu kenal akan terdengar seperti… bentuk dukungan yang tidak dibuat-buat. Dan itu menguatkan. Kedua, alasan yang lebih sederhana, yaitu karena saran itu datang dari seseorang yang saya ketahui juga adalah seorang penulis. Seseorang yang tahu bagaimana caranya menulis dan, tentu saja, yang bacaannya berak-rak.

2 Comments »

  1. Maria says:

    Lia, coincidence just a part of how human explain unexplainable. We met for a reason, and i think this time is to agree with your “pimred”. Writing is a human expression. Do not think it will be published, do not think it will be read by people. Write for yourself.

    PS. It takes years for amazing writers to publish their books, even for the famous one. (Belajar dari UWRF)

    [Reply]

    nat Reply:

    It’s true, Maria. Feels like witnessing a miraculous moment when coincidental things occurs. This “why write” phrase just make another one.

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p