nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 Waspada Tawaran Produk Investasi dari Perencana Keuangan

Sejauh apa perencana keuangan dapat dipercaya? Sejauh apa perencana keuangan dapat menawarkan atau merekomendasikan suatu produk investasi kepada nasabah? Dapatkah perencana keuangan bertanggung jawab atas risiko investasi yang diambil oleh nasabah, bila kemudian ditemukan bahwa pilihan investasi yang direkomendasikan oleh perencana keuangan tersebut ternyata ‘abal-abal’ alias bodong?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkembang di masyarakat beberapa pekan terakhir setelah merebaknya kasus program investasi ‘abal-abal’ di bidang agrobisnis yang—di luar dugaan—melibatkan sebuah lembaga perencana keuangan cukup ternama.

Aidil Akbar Madjid, perencana keuangan dari AFC Financial Check-up, mengaku prihatin atas terungkapnya kasus investasi yang disebut direkomendasikan oleh lembaga perencana keuangan resmi tersebut. “Yang terjadi sekarang ini harus menjadi koreksi bagi kita semua. (Kita) kebobolan, kalau kemudian ternyata ada orang-orang yang dianggap dipercaya oleh segelintir orang, menawarkan produk yang bukan produk investasi yang sebenarnya. Ya, itu sudah di luar kendali,” ujarnya dalam Sindo Bisnis, Kamis, 20 Februari 2014.

Sejatinya, kata Aidil, perencana keuangan tunduk dan patuh pada aturan yang berlaku, dan hanya memberikan rekomendasi terhadap produk-produk investasi yang telah diregulasikan dan dikeluarkan oleh otoritas tertentu. Dalam hal ini, produk-produk keuangan yang meliputi perbankan, asuransi, dana pensiun, pasar modal, multifinance, dan pegadaian, yang telah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pemegang otoritas tertinggi atas produk keuangan di Indonesia. Ada pula komoditas berjangka, yang diatur oleh otoritas lain yaitu Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti) dan Kementerian Perdagangan. Serta koperasi, yang diatur oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Sebagian besar kasus investasi ‘abal-abal’ atau investasi bodong yang terungkap di Indonesia tidak berbentuk produk investasi (produk keuangan), melainkan skema investasi. Polanya, ada orang yang ingin menjalankan sebuah bisnis kemudian berusaha menghimpun modal dari publik dengan cara menawarkan skema investasi tertentu. Belakangan, penyaluran dana investasi inilah yang seringkali tidak jelas hingga akhirnya merugikan investor. Pola ini telah ada sejak awal 2000-an dan hingga kini masih terus berulang.

Aidil menguraikan, seorang perencana keuangan yang telah melewati pendidikan dengan sertifikasi yang benar, tidak akan gegabah menawarkan skema investasi demikian kepada nasabahnya. Dalam praktik umum perencana keuangan di negara-negara yang telah memiliki basis regulasi keuangan yang kuat misalnya, hanya perencana keuangan yang memiliki izin lah yang diperkenankan menawarkan atau merekomendasikan produk-produk keuangan kepada publik. Di AS, menurut Aidil yang menimba ilmu perencana keuangan dan memulai karier perencana keuangannya dari negeri Paman Sam ini, bahkan hanya untuk berbicara soal reksadana saja di media apapun, seseorang harus memiliki izin setara dengan Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana (WAPERD) di Indonesia. Selanjutnya, diperlukan izin lagi agar orang tersebut boleh menawarkan atau merekomendasikan produk-produk reksadana.

Tidak demikian halnya di Indonesia, yang hingga kini aturan mainnya belum jelas. Itu sebabnya sangat penting bagi masyarakat untuk benar-benar mengecek latar belakang dan kredibilitas seorang perencana keuangan, sebelum memutuskan mengikuti saran keuangan yang ditawarkan.

“Seseorang yang sering tampil di TV atau di radio belum tentu punya kredibilitas. Hanya karena orang tersebut bisa bicara, tampil di media, kemudian disukai oleh orang, tidak berarti dia punya,” ujar Aidil. “Yang harus dicek adalah background dan kredibilitas,” kata Aidil lagi, “sudah berapa lama dia menjadi financial planner atau konsultan keuangan, sertifikasinya dari mana, apakah dia mengantongi izin-izin tertentu untuk produk yang dia tawarkan atau dia sebutkan.”

Penting pula bagi nasabah untuk memahami profil risikonya sendiri. Hal ini dievaluasi bersama-sama dengan perencana keuangan, untuk merancang produk-produk investasi yang sesuai bagi nasabah.

Namun demikian, sebagai pemilik dana, seorang nasabah toh bisa saja memutuskan untuk berinvestasi pada produk investasi yang melebihi profil risiko yang disarankan oleh perencana keuangannya. Dalam hal ini, perencana keuangan yang mengerti aturan main akan memberikan surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh nasabah, yang menyatakan bahwa nasabah memahami produk yang ia minta dan yang ia investasikan, nasabah tahu bahwa ada risiko kehilangan uang terhadap produk investasi tersebut, dan nasabah tidak akan menuntut siapapun bila terjadi risiko itu.

——

Posting ini juga bisa dibaca di sini

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p