nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 SAIA, Antologi Terbaru Djenar Maesa Ayu

nat to artikel — Tags: , ,  

Djenar saat jumpa pers buku SAIA didampingi artis pendukung

Djenar dan artis pendukung saat jumpa pers peluncuran SAIA

Andai seniman besar Sjuman Djaya masih ada, entah apa yang akan disampaikannya kepada putrinya, Djenar Maesa Ayu, pada perayaan ulang tahun sang putri, 14 Januari lalu. Tak dipungkiri, Nay—sapaan akrab penulis yang sejak empat tahun terakhir juga mulai merambah dunia penyutradaraan film seperti sang ayah ini—telah melahirkan sejumlah karya sastra yang “kontroversial dan tajam” yang menempatkannya dalam jajaran sastrawan wanita Indonesia yang paling disegani saat ini.

Tepat menginjak usia yang ke-41, Djenar resmi meluncurkan buku ketujuhnya berupa kumpulan cerpen berjudul SAIA, di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Judul SAIA diambil dari salah satu cerpen dalam buku ini, yang memuat 14 cerita pendek ditambah  1 bonus cuplikan novel Djenar yang akan datang.

Dalam SAIA, fokus utama Djenar selama ini pada berbagai persoalan perempuan pun terlihat jelas. “Karena saya perempuan, saya mengangkat isu perempuan, isu kekerasan, pelecehan seksual, karena hal itu sampai sekarang masih saja terus terjadi dan, bukannya membaik, tapi makin parah,” kata Djenar.

Dengan lugas Djenar memotret banyak kasus yang dialami perempuan ke dalam bukunya. Persoalan seksualitas dan moralitas menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam cerita. Semua kisah yang digambarkan muram dan pelik, dituliskan dengan bahasa yang terjaga, rangkaian plot tak terduga, dan kerap diakhiri dengan mengejutkan. Seolah kisah-kisah muram itu ingin mengajak pembaca untuk berhenti sejenak di setiap akhir cerita, menyerap, merenungkan, berpikir.

Empat dari total 14 cerita dalam SAIA telah dipublikasikan sebelumnya. Tiga di antaranya dimuat harian Kompas yaitu ‘Air’ (Mei 2012), ‘Dan Lalu’ (Mei 2013), serta ‘SAIA’ (Desember 2013). Sedangkan ‘Mata Telanjang’ terbit di majalah Esquire (Maret 2013), sebagai karya kolaboratif kedua yang ditulis bersama oleh Djenar dan Agus Noor.

Adalah Agus Noor pula yang kemudian mengomandoi pementasan panggung sastra untuk Djenar di hari yang sama pada malam peluncuran buku SAIA. Dalam kombinasi pertunjukan seni antara musik, multimedia, fragmen dan monolog, pementasan ini berupaya menafsir karya-karya Djenar secara keseluruhan, termasuk dua karya terbarunya dalam SAIA yang dibacakan monolog oleh Kartika Jahja (Kulihat Awan) dan Ine Febrianti (Air). Nama-nama seniman lain yang telah dikenal seperti Aksan Sjuman, Dewi “Dee” Lestari, Iwa K, Oppie Andaresta, hingga Sujiwo Tejo dan Sutardji Calzoum Bachri, juga sukses menampilkan kesenian yang apik, artistik, segar.

Secara lebih personal, pementasan seni ini juga berusaha menginterpretasikan figur Djenar sendiri sebagai seorang pribadi. Seorang perempuan, seorang ibu, dan seorang nenek. Opini orang-orang terdekat termasuk keluarga seperti Farida Oetoyo, Aksan, serta kedua putrinya Banyu Bening dan Bidari Maharani, dengan ringan dan gamblang mengungkapkan siapa dan bagaimana sosok, pemikiran dan kebiasaan Djenar sehari-hari.

Andaikata Sjuman Djaya masih ada barangkali ia pun bangga, melihat putrinya memilih jalan yang sama dengannya: menjadi dirinya sendiri apa adanya.

———

Posting ini juga bisa dibaca di sini

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p