nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 bergaul dengan merdeka

nat to jurnal — Tags:  

How to deal with secret admirer?

Ini memang kedengarannya ge-er. Merasa punya secret admirer. Tapi ge-er di awal seringkali lebih berguna, ketimbang repot belakangan akibat mengabaikan rambu yang sebetulnya sudah menyala. Ini bukan omong kosong, tapi pengalaman memang bicara.

Seringkali saya bertanya-tanya, kenapa banyak laki-laki yang mudah ge-er. Sering menyalahartikan sikap perempuan kepadanya sebagai lampu hijau alias “suka”, atau “suka juga”. Padahal si perempuan hanya bermaksud menjaga kesopanan, mencoba berbaik kata sebatas kawan. Kalau sekadar menerima ajakan makan bersama, apa salahnya? Masak setiap tawaran bertemu dengan lawan jenis harus ditolak? Sekarang bukan lagi jaman Siti Nurbaya. Juga bukan surga yang harus serba penuh aturan.

source: illustration thinkstock

source: illustration thinkstock

Dari jaman SMA—mungkin sampai kelak saya mati dan terlahir kembali sebagai ular—saya terbiasa berkawan dengan laki-laki. Biasa makan berdua, jalan berdua, nonton berdua. Semuanya dalam konteks pertemanan, tanpa ada “chemistry” seperti yang kita rasakan kalau berdekatan dengan kekasih atau gebetan. Ketiadaan percikan kimiawi itu justru yang bikin saya merasa aman dan bisa santai bertemu atau jalan dengan bangsa Mars. Kebersamaan dan pertemanan itu juga tak perlu terganggu meskipun saya, atau mereka, sudah atau sedang punya pacar. Sejak dulu begitu (dan—saya inginnya—akan terus begitu).

Kesantaian mulai berubah kikuk, janggal, gelisah dan akhirnya dilema, kalau alarm internal sudah berbunyi, tanda terdeteksi sinyal-sinyal merah jambu dari si kawan pria, yang notabene tidak satu frekuensi dengan sinyal saya. Dilematis, karena saya mulai merasa terkekang, harus mengatur sikap agar tidak berlebihan. Harus jaim. Harus jaga jarak. Gak boleh bermanja-manja. Gak boleh bersuara seperti anak kecil. Gak boleh terlihat: cute, atau menggemaskan. Tahu sendiri kan, betapa sangat mengesalkan kalau tiap kali kita harus mengendalikan diri sekuat tenaga, melawan gestur alami untuk tampil menjadi diri sendiri apa adanya. Sebab kita tak ingin mengirimkan pesan yang salah. Tak ingin disangka “menangkap pancingan”.

Tetapi, semua “harus” dan semua “gak boleh” di atas bukanlah kualitas imperatif yang perlu ada dalam dunia pergaulan modern ideal. Sebaliknya, hanya menandakan kita belum cukup rileks bergaul dan berkomunikasi dengan banyak orang. Membatasi diri demi pertimbangan “nanti disangka begini” “nanti disangka begitu” oleh orang lain, seringkali bersumber dari kecemasan akan terjadi sesuatu di depan sana yang lebih seringkali pula hanya berujung pada kecemasan belaka. Parahnya, hal itu sekaligus menunjukkan kita belum menjadi pribadi yang merdeka.

Saya kira, pasti ada formula yang elegan untuk menghadapi setiap tantangan menarik dalam pergaulan dunia yang kini semakin tak membatasi wilayah pria dan wanita.

Sayangnya, saya belum bertemu orang yang tepat untuk berdiskusi soal ini, juga belum ketemu buku yang pas mengubek Social Dating 101. Maka, sekarang, ketika percakapan sandek dan surel-surel mulai menyudutkan saya pada dilema serupa, lagi-lagi saya hanya bisa memilih pendekatan feminin yang paling pengecut tetapi selama ini masih bisa diandalkan: Diemin ajalah, ntar juga ilang.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p