nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 “47 ronin” — a real bushido?

Perlukah dendam dibalaskan? Untuk apa? Kapan diperlukan? Dan, kapan saat yang tepat untuk melakukannya?

Pertanyaan itu muncul dalam perdebatan luas di kalangan cendekia Jepang ketika membedah hikayat negeri sakura di awal abad 18, menilik motif yang melatarbelakangi aksi pembalasan dendam 47 orang ronin—sebutan bagi samurai yang tak lagi bertuan—atas kematian tuan mereka. Betulkah sebagai refleksi yang dalam terhadap “bushido” yang dijunjung tinggi oleh golongan samurai? Ataukah semata pembuktian kesetiaan kepada arwah tuannya?

Bushido adalah nilai-nilai ksatria yang wajib diikuti para samurai, meliputi tujuh prinsip yaitu: moralitas, keberanian, pengendalian diri, kesopanan, kejujuran, kehormatan, dan kesetiaan. Dalam perspektif bushido, hal paling utama bagi samurai bukanlah keberhasilan membunuh lawan tuannya. Melainkan menunjukkan keberanian luar biasa, membela tuannya dan menyerang lawan demi mempertahankan kehormatan tuan dan klannya. Berhasil atau gagal, tidak masalah.

Itu sebab, ada anggapan mainstream yang mengatakan bahwa hal paling tepat yang seharusnya dilakukan ke-47 ronin di Edo (Tokyo pada masa itu) adalah menyerang Kira Yoshinaka, pejabat pengadilan yang menyebabkan kematian tuan mereka, Asano Naganori, sesegera mungkin setelah kematian sang tuan. Tanpa perlu menunggu hingga selama dua tahun.

Perdebatan mengenai aksi balas dendam ronin ini ditangkap dengan baik oleh Carl Erik Rinsch, sutradara film “47 Ronin” yang baru dirilis pada hari Natal kemarin. Dalam satu adegan sesaat setelah pemimpin ronin, Oishi (Hiroyuki Sanada), dan Kai (Keanu Reeves) berhasil melarikan diri dari Pulau Belanda, Kai bertanya mengapa Oishi meminta bantuannya untuk membalaskan dendam kepada Lord Kira (Tadanobu Asano). Sebab Kai tahu, sejak kematian Lord Asano (Min Tanaka), Oishi tidak menunjukkan perlawanan, bahkan seolah menurut pada Kira. Ketika akhirnya Kai menyatakan kesediaannya membantu Oishi, ia berkata, “Kalau kulihat kau menunduk lagi pada Kira, kupotong kepalamu.”

Kai & Oishi setelah melarikan diri dari Pulau Belanda

Kai & Oishi setelah melarikan diri dari Pulau Belanda

Kai adalah orang buangan, lahir sebagai anak di luar pernikahan antara seorang pelaut Inggris dengan seorang perempuan petani Jepang. Di masa kecilnya, ia dibesarkan dan dididik ilmu bela diri dan ilmu gaib oleh kawanan Iblis yang hidup jauh di dalam Hutan Tengu. Suatu hari, Kai-muda ditemukan pingsan di hutan oleh Lord Asano dan para samurai yang mengawalnya. Lord Asano mencegah Oishi-muda yang akan membunuh Kai. Sejak itu Kai hidup di lingkungan istana tempat tinggal Lord Asano, meski diharuskan tinggal di pondok terpisah. Ia dijuluki “half-breed”, dianggap setan pembawa sial. Ia juga menyimpan cinta terhadap Mika, anak Lord Asano. Singkat cerita, Kai akhirnya diminta Oishi bergabung bersama para ronin, untuk mengembalikan kehormatan Lord Asano yang mati dalam seppuku (aksi bunuh diri dengan terhormat) akibat tipu daya sihir yang dirancang Lord Kira demi ambisi merebut kekuasaannya. Balas dendam akan diikuti dengan aksi seppuku bersama seluruh ronin, sebagai bentuk tanggung jawab karena secara sadar melakukan perbuatan yang melanggar hukum negara.

Plot film “47 Ronin” tentu saja tidak sama dengan kisah aslinya. Bahkan karakter Kai dibuat hanya untuk film ini saja. Karakter penting lain yang tidak ada dalam cerita asli adalah penyihir perempuan Mizuki, yang diperankan dengan sangat brilian oleh Rinko Kikhuchi. Kalau sempat menonton Pacific Rim yang dirilis bulan puasa lalu, akting Rinko telah mencuri perhatian sebagai Mako Mori. Pacific Rim yang cukup menghibur dengan robot-robot gigantis memang bukan action-adventure yang spektakuler, tapi saya naksir Mako di film itu, dan tak berkedip melihat kelincahan tubuh langsingnya meliak-liukkan tongkat saat sparring fight melawan Raleigh (Charlie Hunnam). Gosh… she was hot. If only I were a lesbian, I would’ve fallen for her. Pun, sebagai Mizuki si penyihir nakal penggoda iman yang juga bawahannya Lord Kira, jahatnya Rinko memukau, licin, penuh warna, kadang jorok dan kelihatan menjijikkan, namun sekaligus menggairahkan.

Justru yang kurang pas cantiknya adalah Mika dewasa (Kou Shibasaki). Mika-muda yang ayu dan sangat “putri” ternyata setelah dewasa lebih cocok menjadi “bunga desa” dari kampung sebelah.

Favorit saya di “47 Ronin”, tak lain tak bukan adalah Tuan Hiroyuki Sanada, yang pas memerankan Oishi. Kalau googling foto-fotonya, mustahil rasanya saya menyukai aktor parlente yang terkenal ini. Pantas awalnya saya tak terlalu ingat wajahnya, padahal dia ada di The Wolverine, juga ada di serial Lost. Entah apa yang dilakukan Hiroyuki pada aktingnya, tapi somehow peran Oishi lengket dengan sosoknya, membuat saya tersihir menaruh hormat bahkan setelah filmnya usai, seakan Hiroyuki adalah sungguh seorang samurai.

Akan halnya Keanu, yang semula digadang-gadang menjadi magnet bagi “47 Ronin”, tampil tidak istimewa. Well, saya memang bukan pemuja aktor “multiple-breed” campuran Inggris, Hawaii, Cina, Irlandia, dan Portugis ini, namun berharap menemukan ekspresi dingin dan kepedihan yang dalam di wajah Kai, akibat penolakan bertahun-tahun yang dihadapinya dari semua orang dalam klan Asano, kecuali Lord Asano dan Mika. Namun dari sekian banyak pengambilan close-up wajah Kai, emosinya tidak terlalu kuat. Tapi bisa jadi juga, demikianlah sejatinya emosi seseorang yang di kepalanya tertanam bahwa dirinya hanya sepantas budak belian. Tidak percaya diri. Tidak pernah dan merasa tak perlu bahkan hanya untuk sekadar berpikir mendapatkan keadilan, cinta, dan kemerdekaan. Siapa tahu.

Bagaimanapun, tak berlebihan rasanya kalau mengatakan aktor-aktor dan aktris Jepang lah yang berhasil menghidupkan “47 Ronin”, bukan Keanu.

47 Ronin

47 Ronin

Sedikit catatan untuk adegan dua pertarungan puncak antara si baik melawan si jahat, yaitu antara Oishi vs Kira dan antara Kai vs penyihir Mizuki. Pertarungan Oishi vs Kira porsinya terlalu singkat, padahal bukankah Kira adalah objek sentral dari aksi balas dendam para ronin? Sementara pertarungan Kai vs Mizuki, cantik di bagian endingnya. Di saat Kai tergeletak, Mizuki yang telah berubah wujud menjadi naga siluman beralih ke arah Mika dan berusaha membunuhnya. Detik-detik terakhir, Kai melesat terbang secepat bayangan mencegah dan melumpuhkan si penyihir nakal. Saya tersenyum sembari menduga-duga, mungkinkah itu adalah ilmu gaib yang akhirnya digunakan Kai sebagai senjata pamungkas demi menyelamatkan Mika? Bila ya, artinya Kai telah dengan terpaksa melanggar sumpahnya di masa kecil dahulu: tidak akan pernah menggunakan ilmu gaib yang ia pelajari dari bangsa Iblis yang membesarkannya.

Sepanjang film berdurasi 119 menit ini, saya mengingat dua adegan di mana saya harus merogoh tissue dari dalam tas. Pertama, adegan saat Oishi meminta istrinya untuk menceraikannya. Istrinya harus bisa meyakinkan semua orang bahwa ia sudah tak lagi berhubungan dengan suaminya. Ini dilakukan untuk mencegah dampak buruk yang mungkin terjadi karena sang suami akan melanggar perintah Shogun. Sambil menahan emosi, Oishi berkata, “Hanya kau dan aku yang boleh tahu, bahwa kau adalah, dan akan selalu menjadi, kebahagiaan hidupku.” Istrinya menangis dan menjawab, “Aku adalah istri samurai. Tugasmu, adalah tugasku juga.”

Kedua, adegan jelang seremonial seppuku massal ke-47 ronin di depan Shogun. Shogun Tsunayoshi (Cary-Hiroyuki Tagawa) tiba-tiba memanggil nama Chikara (Jin Akanishi), anak tunggal Oishi yang juga bergabung menjadi ronin. Ia bangkit berdiri dan keluar dari barisan. Chikara yang masih muda diberi pengampunan oleh Shogun yang menginginkannya tetap hidup untuk meneruskan garis kehidupan samurai dari ayahnya.

Di dunia internasional, “47 Ronin” dianggap gagal. Film berbiaya semahal US$ 170 juta ini tidak berhasil menjadi blockbuster movie. Banyak yang menilai Universal Studios terlalu berani mempercayakan proyek ambisius sebesar ini kepada Rinsch, sutradara iklan komersial yang belum pernah menggarap film layar lebar. Akan tetapi, untuk seorang yang belum punya pengalaman, bukankah debut sekelas ini terbilang mewah?

Referensi:

  1. Forty-seven Ronin http://en.wikipedia.org/wiki/Forty-seven_Ronin
  2. 47 Ronin (2013 Film) http://en.wikipedia.org/wiki/47_Ronin_(2013_film)
  3. Bushido http://en.wikipedia.org/wiki/Bushido
  4. The Seven Virtues of Bushido http://nishioaikidothailand.com/the-seven-virtues-of-bushido/

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p