nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 23 yang kembali baik

nat to jurnal — Tags: ,  

Menyenangkan rasanya bisa menuliskan lagi cerita indah di hari terindah. Tahun lalu saya tidak sanggup posting apa-apa. Tahun lalu, di hari yang biasanya selalu menjadi hari kontemplatif yang paling tenang dan menggembirakan, saya malah berada dalam kubangan masalah. Kubangan itu terus berpilin bahkan hingga setahun kemudian. Yes, 20 bulan terakhir adalah salah satu babak tersulit dalam hidup saya. Hubungan dengan pasangan memang selalu paling rumit dalam perjalanan kisah hidup manusia, bukan?

Barangkali Tuhan bosan melihat saya nestapa, skeptis karena doa berbulan-bulan tidak berjawab, numb ditahan-tahan supaya tak berkembang menjadi apatis dan mati rasa.

Maka ketika kebenaran akhirnya datang, meski dengan pedang yang merobek-robek dan mencincang-cincang kembali balutan luka, ia sesungguhnya datang sebagai sebuah keajaiban. Keajaiban yang pada akhirnya memulihkan. Keajaiban yang ternyata, adalah jawaban doa.

Tahun ini, di hari kontemplatif yang kembali tenang dan menggembirakan, saya merenungkan betapa besar pelajaran berharga yang saya dapatkan sejak ultah tahun lalu sampai ultah tahun ini.

Pertama, hubungan dengan mantan pasangan akhirnya bisa saya lewati dengan baik. Tidak ada dendam. Tidak ada lagi amarah. Kami tetap berteman. Dengan bentuk pertemanan yang sangat normal. Ini suatu kemajuan, sebab dalam kasus lain di masa yang lebih silam, saya terpaksa harus mengambil jarak sejauh-jauhnya karena potensi kekacauan yang mengintai terlalu besar. Setidaknya, kali ini, saya tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali.

Kedua, saya semakin menghargai manusia dengan segala perbedaan latar belakang, lingkungan, dan nilai-nilai yang dipegangnya. Pada akhirnya setiap manusia adalah sama, layak untuk mendapat perlakuan hormat yang sama, layak untuk dikasihi dengan sepenuh jiwa. Siapapun dia.

Ketiga, dan ini lebih penting dari semua, relasi saya dengan Tuhan berkembang ke tahap yang lebih… bagaimana saya menyebutnya… mungkin khusus, atau dalam, dan seringkali mengharukan. Pendekatan saya selama ini dengannya memang tidak seperti umumnya yang dijalani orang-orang beragama. Pengenalan saya tentang dia tidak lagi bertumbuh dari sebatas ayat-ayat kitab suci, panduan penafsir dan ritual ibadah. Semua itu sudah tak lagi mempan buat saya. Tapi saya tahu dia ada, sangat dekat, dan senantiasa memperhatikan. Kata orang, dia bekerja dengan cara yang misterius. Well, saya tak tahu itu dan kadang pun bertanya-tanya apa betul dia bekerja ikut campur mengatur hidup anak manusia secara spesifik. Yang saya tahu dan rasakan, dia ada ketika saya jatuh ke lubang yang dalam. Dia ada ketika saya berada di titik terendah. Dia ada ketika lakrimasi tak lagi bisa mengeluarkan kelenjar air mata. Dia mungkin tidak kemana-mana, tidak berbuat apa-apa. Tapi dia di situ, menemani saya. Keberadaannya di situ, di samping saya, menolong saya dan menguatkan saya melewati setiap proses kesulitan.

Suatu kali saya pernah baca sebuah kutipan entah dari mana:

“Bila kegagalan membuat seseorang menjadi lebih baik, maka kegagalan itu telah menjalankan tugasnya dengan baik.”

Kali lain saya mendengar seseorang mengutip:

“Mistake you survived makes you stronger.”

Adios for now, Tuhan. Terima kasih karena saya masih hidup dan merasakan.

2 Comments »

  1. melly says:

    selamat ulang tahun.

    bahagia adalah ketika hari itu menjadi waktu untuk bersyukur ya :)

    [Reply]

    nat Reply:

    makasih kakaa :p

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p