nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 meet the psychologist

Apa yang ada di pikiran kamu bila mendengar seseorang pergi berkonsultasi ke psikolog? Wah, itu orang pasti sedang menghadapi masalah hidup yang super berat. Kesulitan apa yang dialaminya ya, sampai perlu bantuan psikolog?

Di negeri kita, itu pandangan masyarakat pada umumnya. Tidak seperti di barat, di mana praktek psikolog sudah populer seperti halnya praktek dokter, menggunakan jasa psikolog untuk mendiskusikan kesulitan hidup, di sini masih dipandang kurang umum. Bukan tabu, tetapi rata-rata orang akan berkata, “Buat apa?”

Maka saya mafhum dengan reaksi teman-teman ketika dua pekan lalu saya posting status di Path, bahwa saya membutuhkan seorang psikolog dan meminta referensi bila ada di antara mereka yang punya kontaknya. Beberapa teman menghubungi via japri, dan beberapa lagi di antaranya memberikan nomor kontak yang mereka punya.

Menurut Wikipedia, psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari perilaku dan fungsi mental manusia secara ilmiah. Sebagai ilmu, konsep psikologi yang telah berkembang sejak zaman Yunani kuno ini dirancang untuk memenuhi tiga fungsi, yaitu: 1) Menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa sebuah tingkah laku terjadi; 2) Memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi; 3) Mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Atas dasar keilmuan itulah, untuk pertanyaan-pertanyaan seputar perilaku dan hubungan aksi-reaksi manusia, saya lebih percaya pada peran psikologi daripada agama, di mana yang kedua lebih berkutat pada manuskrip doktrinal—tetapi mengawang-awang—mengenai apa yang benar dan yang tidak benar.

Ada seribu satu macam sifat dan karakter manusia yang dipelajari dalam psikologi. Salah satu yang cukup awam ditinjau adalah kebiasaan (dan kebisaan) manusia mengekspresikan dirinya kepada manusia lain. Sebagian ada yang terbiasa berekspresi dan mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi kepada orang lain; orang-orang jenis ini bisa dengan bebas curhat kepada teman dan sahabat, atau bahkan kepada yang sekadar “acquaintance”. Sebagian lagi sebaliknya; hanya kepada orang-orang tertentu bisa curhat, atau bahkan tidak kepada siapapun sama sekali. Konon, pengelompokan dua jenis karakter ini disebut ekstrovert dan introvert. Saya tidak tahu persis apakah kedua istilah itu benar ada dalam psikologi atau tidak.

Anyway, rasanya, saya tidak termasuk golongan introvert. Hanya saja, memang, saya tidak terbiasa curhat soal masalah hidup kepada orang lain, kecuali pasangan (kalau pas lagi punya–red). Aktivitas yang terbagi ke dalam beberapa lingkungan kelompok pergaulan—teman kantor, teman jalan, teman ngopi, teman kos, teman ini dan teman itu—juga membuat saya cukup punya alternatif distraksi atau pengalih perhatian, bila di salah satu dari kelompok pergaulan itu terjadi (potensi) konflik atau masalah. Jadi, tidak aneh juga bila secara umum preferensi yang muncul tentang pribadi saya cukup seragam: kehidupan yang datar-datar saja, lurus mulus, tak pernah ada ombak besar, tak pernah ada badai yang menghantam hingga krisis kejiwaan. Hahaha…

Yaaa benar siyy… alhamdulillah saya memang belum pernah mengalami krisis kejiwaan. Knock on wood. Tetapi toh, ada saat-saat dan situasi tertentu di mana saya betul-betul merasa tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana harus menghadapi masalah yang muncul. Saya menyadari, itu mungkin karena saya telah berada terlalu dekat dengan lingkaran persoalan, hingga tak mampu keluar dan melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas. Pada momen-momen seperti itu, sering saya berpikir bahwa saya membutuhkan opini eksternal. Pandangan dari seseorang yang tidak punya keterikatan emosi baik dengan diri saya maupun dengan masalah saya. Seseorang yang saya kenal, apalagi cukup dekat, sedikit banyak akan terpengaruh oleh hubungan pertemanan saya dengannya, dan saya khawatir hal itu akan membuat pandangannya cenderung tidak objektif. Yang saya butuhkan adalah mereka yang mampu melihat masalah dari jauh, lebih jauh dari saya, dan lebih berpengalaman. Saya membutuhkan saran profesional. Maka, secara sadar, saya menemui psikolog.

Pilihan saya jatuh pada psikolog Anna Surti Ariani, S. Psi, M. Psi. Nama itu saya dapat dari hasil browsing yang diberikan oleh seorang teman, dan kemudian saya cross-check ke seorang teman lain eks wartawan, lulusan Psikologi UI yang kini juga berpraktek sebagai psikolog khusus pendidikan anak.

the receipt

the receipt

Satu setengah jam konsultasi bersama Mba Nina, panggilan akrab Anna Surti Ariani, berlangsung sangat produktif, padat, dan profesional. Tidak semenakutkan seperti yang sempat saya cemaskan sebelumnya, namun persis seperti yang saya harapkan. Tidak ada luapan emosi yang keluar apalagi meledak, karena tujuan utama saya datang memang bukan mencari tempat curhat, melainkan jalan keluar. Mba Nina menjalankan tugasnya dengan sangat baik dan memuaskan. Dengan tutur bahasa yang lembut, tatapan mata dan gestur yang tidak sedikitpun membuat saya merasa tersudut, tertekan atau terhakimi, beliau mendengarkan, menyimak, dan mencatat semua kisah yang saya keluarkan. Yes, semua, tidak ada yang disembunyikan. Karena bagaimana bisa diresepkan obat mental yang tepat, jika tak semua keluhan dan kondisi diutarakan?

Yang terpenting dari sesi konsultasi psikologi, saya sangat terbantu untuk menemukan jawaban atas pertanyaan saya. Dibantu untuk menggunakan pikiran rasional, ketimbang emosi, sebelum mengambil keputusan akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Karena seringkali, tindakan emosional malah menjadi bumerang bagi diri sendiri, dan tak jarang harus dibayar dengan harga sangat mahal di belakang hari.

Saya bersyukur, akhirnya jadi juga bertemu psikolog. Keinginan untuk mempunyai seorang psikolog pribadi sudah muncul sejak beberapa tahun lalu, ketika saya menghadapi masalah hidup yang sangat berat hingga tak tahu bagaimana caranya bertahan dan menjaga kewarasan agar tidak jatuh frustasi. Bila kali ini saya menghadapi masalah berat lain dan akhirnya memberanikan diri menemui psikolog, inilah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Saya lega telah melakukannya, dan hasilnya, memutuskan tidak akan mengambil tindakan gegabah. Jika sesuatu bisa membantu kita untuk berpikir lebih baik, yang efeknya pada kemampuan dan kerelaan menjalani proses hidup dengan lebih ringan dan praktis, mengapa tidak?

Kata psikolog saya, tak perlu denial mengatakan semua baik-baik saja, atau membohongi diri sendiri dengan berpura-pura tidak sakit hati dan kecewa. Tetapi kemudian, so what dengan sakit hati dan kecewa? Hidup memang isinya penuh dengan kekecewaan. Mengutip teman saya, hidup memang penuh drama. Yang diperlukan adalah menghadapi dan menjalani semua yang diberikan oleh sang kehidupan, dengan berani dan dengan cara yang bertanggung jawab. Life must go on, my friend!

INFO

Psikolog Anna Surti Ariani, S. Psi, M. Psi, berpraktek dua kali dalam sepekan. Setiap Senin di Klinik Terpadu UI Depok (021-78881150; consultation fee Rp 170.000/jam). Dan setiap Jumat di PacHealth, The Plaza Office Tower, Plaza Indonesia (021-29923232; consultation fee Rp 500.000/jam). Jangan lupa, telepon dulu untuk membuat janji pertemuan.

2 Comments »

  1. melly says:

    sepakat, bahwa bertemu orang yang memang punya pengetahuan untuk menghadapi apa yang jadi pergumulan kita itu lebih baiklah

    [Reply]

    nat Reply:

    ;-)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p