nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

4 unforgivable rudeness

nat to jurnal — Tags: ,  

Saya akan mengampuni komentar-komentar insensitif terkait topik ‘usia menikah’ jika keluar dari mulut para perempuan, yang karena posisinya lazim didudukkan sebagai objek penderita, seringkali ditimpa kepanikan kronis akibat serangan jam biologis yang bertubi-tubi pada jiwanya. Dan, meskipun lebih berat, saya juga—pada akhirnya—masih mampu memaklumi tanggapan insensitif serupa yang dilontarkan dengan ringan tanpa beban, oleh para tetua, yang karena takdirnya dilahirkan dan hidup lama di masa yang lebih purba, kerap cepat cemas dan belum bisa beradaptasi dengan kenyataan saat ini, di mana semakin banyak anak perempuan yang sanggup hidup mandiri.

Namun, saya tak pernah bisa menerima bila kalimat-kalimat insensitif itu diucapkan oleh kaum lelaki, apalagi dari generasi masa kini—generasi saya; lebih lagi generasi masa depan—generasi di bawah saya.

Malam ini saya pulang dari menonton konser teatrikal Sujiwo Tejo “Maha Cinta Rahwana” di TIM, jam sebelasan. Di lorong depan kamar kos, berkumpul Ibu Kos bersama seluruh penghuni kamar lantai 2. Mereka duduk menghampar di lantai, ngobrol ngalor-ngidul sambil merokok, ngopi dengan kopi susu kemasan sachet, dan ngemil cokelat crackers mini khas Batam entah bawaan siapa. Saya sudah ngantuk dan mau tidur, tapi tak enak kalau gak nimbrung.

Dalam obrolan itulah saya berkenalan dengan penghuni baru yang kamarnya persis di depan kamar saya. Masih muda, ternyata. Saya sebut ‘ternyata’, karena jelas sekali tampang, postur bahkan suaranya lebih “dewasa” daripada saya. Ia bekerja di perusahaan migas ConocoPhillips dan ditempatkan di situs eksplorasi/kilang minyak di Pulau Natuna. Pekerjaan itu membuatnya rutin ke Natuna selang-seling tiap beberapa pekan. Di Jakarta, ia menyambi kuliah di UNJ (Universitas Negeri Jakarta) yang tak jauh dari tempat kos kami.

Sejak awal saya menyadari dia berusaha menghitung-hitung berapa usia saya, dan bagaimana status saya. Itu wajar saja, sebagai referensi background bagi orang yang baru berkenalan. Tetapi di tengah-tengah percakapan, di saat tak lagi seorang pun dari kami berenam yang masih membahas isu seputar angkatan kuliah, usia, dan status, tanpa tedeng aling-aling ia bicara, “Tapi telat juga ya mba belum nikah.”

Tadinya saya mau ngeles saja, tapi berubah pikiran dan akhirnya menjawab, “Masak? Nggak ah.” Jawaban berikutnya meluncur dari dia dengan sok tahunya yang segera bikin saya ilfeel dan dalam hati murka, “Iyalah… sekarang sudah umur……” Lalu dia bercerita (pamer mungkin lebih tepat) tentang usia berapa dia menikah, anaknya sudah umur berapa sekarang, dan alasannya menikah cepat supaya jarak usianya dengan anaknya tidak terlalu jauh berbeda. Tak merasa cukup kurang ajar, manusia ajaib ini menunjuk penghuni kamar sebelah saya, perempuan yang seumuran dengan saya, kebetulan ada tunangannya di situ dan mereka akan segera menikah dua bulan lagi. Katanya, “Kayak mas ini deh, nanti kalau menikah kan, pas anaknya lahir sudah umur berapa ya mas.” Kemudian dia berbaik hati lagi bercerita—meski tak ada yang meminta—soal seorang kawannya, menikah di usia 35, tetapi baru bisa punya anak setelah 10 tahun menikah. Dia menggambarkan kawannya itu bagai orang paling malang di dunia.

Di tengah masyarakat kita, memang banyak bercokol manusia-manusia sok tahu. Anak muda itu contohnya. Dia tak tahu saya antimenikah muda justru karena bercermin pada pengalaman kedua orang tua saya yang terpaksa menikah di tahun-tahun awal kuliah. Dia tak tahu alasan saya antihamil dan antimelahirkan dalam kondisi finansial dan mental yang tidak siap justru karena rekaman kehidupan masa kecil yang sangat membekas. Dan dia sungguh tidak tahu, bahwa bagi saya semua anak adalah anak yang sama, layak dirawat dan dibesarkan dengan kasih sayang yang sempurna, tak peduli dari rahim siapapun ia dikeluarkan ke Bumi dan menghirup O2.

“Saya punya teman dulu kerja di ConocoPhillips, tapi dia resign karena melanjutkan S3 ke Eropa,” kata saya, sengaja. “Di Conoco-nya di Natuna?” dia bertanya. “Bukan, di kantor Jakarta.” “Oh, ya banyak sih memang yang kerja di Conoco Jakarta,” katanya. “Iya,” kata saya lagi dan buru-buru meneruskan, “dia sudah pulang ke Indonesia dan sekarang bekerja di BP (British Petroleum–red).” “Oooh…,” suaranya terdengar seperti agak surprised, “Bagus itu di BP.” “Iya, memang,” tandas saya.

Semula saya tak punya maksud untuk berbagi cerita soal teman baik saya itu kepadanya. Saya hanya sengaja memamerkan kepada anak muda bau kencur yang membosankan itu, yang merasa dirinya lebih baik dari kami karena ia telah lebih dulu menikah, bahwa ada orang lain yang lebih keren darinya. Iya, sengaja.

4 Comments »

  1. DM says:

    Aku harus setuju denganmu, Nat.

    Aku menikah di usia 37. Sementara istriku 35. Dan kami sama-sama akur bahwa kami merasa tak telat menikah. Soal anak, rupanya kami sepemikiran: anak tak melulu harus dari rahim istri secara biologis. Dengan pemikiran dan pilihan semacam itu, kami merasa merdeka dalam berpikir, bertindak, maupun mengambil keputusan.

    Apa boleh buat, bukankah pengalaman hidup seseorang berpengaruh terhadap cara pandang seseorang terhadap suatu hal? Yang terjadi, ya seperti makhluk baru nan sok tahu di depan kamarmu itu. Hanya sebatas itu pengalaman hidupnya. Mengibakan…

    [Reply]

    nat Reply:

    Hahaha, iya, mengibakan.

    Pasti senang penganyam kata menemukan pasangan yang sepemikiran, setidaknya untuk hal-hal esensial dan prinsip. Hidup jadi terasa lebih ringan sepertinya ;-)

    [Reply]

  2. Hardianto says:

    Kadang-kadang sulit bagi orang baru untuk mencoba mengakrabkan diri. Memulai interaksi dengan pertanyaan konyol seperti itu sering sekali terjadi.

    [Reply]

    nat Reply:

    Hehehe… agak beda ya mas ya, antara terlihat konyol akibat melempar pertanyaan yang tidak pada tempatnya demi tujuan mengakrabkan diri, dengan terlihat tidak sensitif akibat memberikan statement/argumen yang mengukuhkan opini si pembicara. Bukan sekadar konyol, tapi superior :)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p