nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 minggu nano-nano

nat to jurnal — Tags: ,  
Panjangnya hari ini. Tidak terlalu melelahkan. Tapi, menyakitkan. Dalam makna yang sesungguhnya. Saya, sakit. Di tengah hari. Saat lagi senang-senangnya. Begitulah penyakit perempuan, bisa demikian tak bersahabat. Seperti kutukan.
Bangun di hari Minggu ini jam 8 pagi masih terlalu singkat buat saya. Setelah berpisah jam 4 lewat tadi pagi dari ngumpul bareng tim Lenong (Iman Soe, Wiku Suryomurti, Franses Wibowo, dan Ucup, minus <a href=”http://amaliaonearth.com”>Agoy Yoga</a> dan Tri Alexander)

Panjangnya hari Minggu ini. Tidak terlalu melelahkan. Tapi, menyakitkan. Dalam makna yang sesungguhnya. Tubuh ini sakit. Di tengah hari. Saat lagi semangat-semangatnya. Begitulah penyakit perempuan, terkadang bisa demikian tak bersahabat. Seperti kutukan.

Bangun pukul setengah 8 pagi rasanya masih terlalu pagi. Sepulang dari kumpul bersama kawan-kawan Lenongers (Iman Soe, Wiku Suryomurti, Franses Wibowo, dan Ucup, minus Agoy Yoga dan Tri Alexander) jam 4-an Subuh, saya berencana tidur sampai pukul 11. Tapi badan ternyata kurang kompak. Entah dia ingin unjuk kekuatan pada siapa hingga berani-beraninya memejamkan mata hanya 3 jam. Barangkali alarm bawah sadar sudah mendoktrin: Minggu pukul 12 siang harus sowan ke rumah Pemred. Dan itu dekatnya di Pamulang saja. Jangan sampai tidak memenuhi undangan.

Agenda Minggu siang adalah “pembekalan properti”. Dimulai dengan tinjauan seluk-beluk rancangan rumah Pak Pemred yang baru sebulan ditempati setelah 14 bulan direnovasi. Pembekalan dilengkapi dengan fieldtrip ke beberapa lokasi lahan dan kompleks perumahan yang sedang dibangun di kawasan sekitar. Tentu materi utama adalah kisah jatuh bangun perjuangan membangun rumah, yang menukik pada sebuah pertanyaan: Pilih rumah, atau apartemen? Pilihan yang jadi tampak lebih sederhana hari itu, meski bukan tanpa konsekuensi yang tak kalah pelik.

Mulai dari sedikit demi sedikit. Mulai dari berapa duit yang dimiliki.

Itu inti dari semua pelajaran siang ini. Sayangnya, badan sungguh-sungguh menunjukkan ketidakkompakannya dengan situasi. Ini bagian paling tak menarik dari seluruh kisah hari ini.

Saat fieldtrip terakhir di kebun sayur, fisik saya melemah begitu saja. Perut melilit meruakkan mual dan mulas, entah operasi apa yang sedang berlangsung di dalam sana. Pinggang hampir tak kuat menahan kaki. Mulut berulang kali menguap meski kantuk tak terbit, tanda-tanda asupan oksigen ke jantung tidak lancar. Mata nanar berkabut. Tak sanggup merespon obrolan selain diam nihil komentar. Pudar konsentrasi.

Di atas motor dalam perjalanan meninggalkan kebun itulah, sekonyong-konyong semua tenaga seperti ditarik terbang. “Mba, aku gak kuat. Kayaknya mau pingsan,” lirihnya saya berkata kepada rekan yang memegang kemudi. Kami segera berhenti di pinggir jalan, dan menumpang duduk di sebuah warung makan di dekatnya. Sebagian isi perut saya muntahkan di sana. Ibu tukang warung memberikan teh manis hangat, secara cuma-cuma. Tapi saking tak kuat bangkit dan berjalan, saya dipapah ke mobil yang dijemput kemudian oleh Pak Pemred. Sekembali di rumah Pemred, saya mengunci diri cukup lama di kamar mandi, memuntahkan lagi isi perut dan menjalankan semua aktivitas pribadi, sembari gemetar dan keringat dingin terus mengucur menahan rasa sakit yang masih enggan pergi.

Baru sekitar dua jam-an kemudian kekuatan tubuh memulih, tepat setelah air liur kembali terasa asin dan kekentalannya mencair, dan saya buru-buru berlari lagi ke kamar mandi. Di situlah keluar semua isi perut yang masih tersisa. Semua. Lebih banyak daripada yang sudah keluar sebelumnya. Itu terakhir sudah. Leganya. Kekuatan saya kembali seketika. Tinggal rebahan beberapa menit di ranjang, selanjutnya kami makan malam bersama dan diantar sampai terminal Lebak Bulus. Lalu pulang.

Saya berpikir cerita panjang hari ini sudah akan segera usai, ingin secepatnya mencumbu kasur dan bantal. Tapi malam masih muda.

Setiba di kantor untuk mengambil motor, baru saya tersadar, kunci rumah dan kunci motor tertinggal di kamar mandi rumah Pemred saat tadi saya mengosongkan saku celana. Bagus. Tak bisa pulang kita malam ini.

Saya ke Sarinah membeli beberapa perlengkapan menginap, makan malam di sana dengan Iman yang kebetulan menelepon, ngobrol panjang tentang topik terhangat di tim Lenongers dalam dua hari terakhir: pacar baru Iman yang berjarak “dua kali putaran shio”. Seperti biasa kalau Iman sudah bercerita (dan saya kalau sudah mendengarkan), waktu makan jadi lebih panjang, akan lebih panjang kalau kami tak diusir oleh pelayan toko Lau’s Kopitiam. Masih juga kurang panjang, tapi saya sudah turun dari motornya di pintu gerbang gedung kantor saya.

“Hidup di Jakarta keras banget ya, sampai harus menginap di kantor segala.” Kawan kurang ajar ini mengejek saya. Sialan.

Catatan Minggu. 28 Juli 2013

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p