nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 premiere studio

nat to venue — Tags: , ,  

Pertamax! Nonton di Premiere Studio, EX Plaza Indonesia. Kalau bukan karena Iron Lady yang diputar kembali dan kemungkinan bahwa malam ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menontonnya di bioskop, gak akan aku bela-belain juga datang ke salah satu teater 21 termahal di negeri ini.

Tak salah rasanya kalau ada yang bilang, Premiere Studio dibuat untuk kalangan menengah-ingin-mendekati-jetset. Baru bertanya saja ke satpam di pintu utama lobi Studio EX, “(Di mana) Premiere Studio?”, kamu sudah akan disambut dengan sangat sopan. Satu skala lebih sopan dibanding kamu hanya bertanya “(Di mana) bioskop?”

Satpam yang ramah akan menunjuk atau sekalian mengantarmu ke arah sebuah lobi khusus lain di dalam lobi utama. Di atas pintu lobi khusus itu ada tulisan berhuruf halus-kasar: ‘The Premiere’.

Suasana di dalam lobi seperti di ruang tunggu teater-teater di Amerika dan Eropa zaman raja-raja klasik. Ini cuma dugaan. Sebab kulihat mirip seperti digambarkan di film-film. Sofa mahal di sisi dinding sini dan situ. Kental atmosfer hangat dan cair. Tidak terlalu mencolok rambu-rambu pembatas mana penonton mana staf, selain seragam hitam-hitam yang dikenakan beberapa orang. Semua orang tampak berbaur. Sangat rileks bercengkerama dengan pasangan atau kelompoknya masing-masing. Aku sedikit membayangkan, barangkali kira-kira seperti inilah kalau masuk ke kalangan sosialita.

Di sebuah meja kecil yang kuduga adalah loket—karena ada satu layar komputer di atasnya dan seorang lelaki yang tampak seperti calon penonton sedang duduk di kursi di depannya–tidak terlihat line antrean pembeli tiket. Ragu juga, “Am I supposed to stand up queueing here behind this guy or… where?” Tak berapa lama kemudian si laki-laki bangkit dari kursinya, aku maju dan mengambil duduk di tempatnya.

Yah memang, tidak semua hal harus dibuat selaras mengikuti prinsip efisiensi. Kalau bisa dikemas eksklusif dan mahal, kenapa harus tampil minimalis dan murah(an)? Barangkali begitu filosofi yang dianut pemilik bioskop ini, sehingga dibuatlah tiket dalam amplop yang sekilas mirip tiket Kambuna di era kejayaan kapal laut dekade lalu, atau tiket pesawat yang dicetak manual di biro perjalanan dan kantor pemasaran maskapai penerbangan.

Batinku, “Demi secarik kertas dan selembar amplop ini lah aku membayar 75 ribu.”

the ticket

the ticket

Keduax! Di dalam studio yang tidak terlalu luas itu sudah ada seorang penonton lain duduk di tengah, barisan kedua dari atas. Seorang ibu. Pasti sosialita, atau intelektual wanita. Kalau tidak, ngapain dia niat amat nonton Margaret Thatcher sendirian malam malam? *kemudian ngaca*

Oleh petugas, aku diantar sampai ke seat A2. Nomor dua dari kanan, di barisan paling atas. Si petugas bukannya langsung pergi. Ia membuka laci yang tersembunyi di bawah meja kecil (?!) yang berada persis di antara seat A1 dengan A2, lalu mengambil selimut dari dalamnya dan meletakkannya di atas meja mungil itu. Waaah… berasa mau naik pesawat ke Eropa. Atau naik Argo Bromo ke Surabaya.

Studio itu menampung sedikit kursi. Hanya ada delapan yang cukup besar di setiap barisan kursi penonton. Cukup banget buat kamu angkat kaki duduk bersila, kalau gak malu. Aku tak suka besarnya itu, nanti kujelaskan kenapa. Sedangkan jumlah baris dari paling atas/belakang sampai ke paling depan/bawah, lupa-lupa ingat, kalau tak salah hanya enam baris. Jadi total–sekali lagi kalau tak salah–hanya ada 48 kursi.

Aku memilih seat A2 karena di layar komputer di meja penjualan tiket di lobi tadi, terlihat 4 kursi di barisan paling tengah atas (A3-A6) sudah diblok. Aku hanya diizinkan mengambil seat di luar itu. Tapi hingga film usai, keempat kursi itu tetap kosong. Gak tahu lah kenapa seat itu tidak dijual.

Berhubung studionya tidak terlalu luas, aku langsung menangkap suasana hangat di dalamnya. Sensasinya seperti masuk ke sebuah venue tempat berlangsung acara peluncuran buku yang ruangannya tidak terlalu luas dengan jumlah kursi tidak banyak. Rasanya pengaturan yang demikian lebih menyenangkan bagi peserta, karena bisa lebih nyaman berinteraksi antara satu dengan yang lain. Serambi Salihara misalnya, itu kan tempatnya cozy. Mengurangi rasa ‘sendiri dalam suatu kumpulan besar penuh orang’.

Yang menurutku kurang asyik di bioskop ini, justru kursinya yang agak terlalu besar. Ditambah meja kecil itu, yang memisahkan setiap dua kursi yang berpasangan. Kalau aku sih ya, kalau tak urgent urgent amat, tak bakal rasanya mengajak pacar nonton di sini. Ribet kalau sesekali perlu merapat, atau ingin menikmati wajah si dia dari jarak sedikit lebih dekat. Nonton film horor dan kamu penakut, jangan sekali-kali nonton di sini.

The Premiere juga menawarkan hal eksklusif lain. Penonton bisa memesan makanan dan minuman, yang akan diantar ke tempat duduk. Ini pun kurasa kurang asyik. Pengalaman malam itu, justru annoying. Si ibu yang ada di barisan tengah, beberapa kali manggil si mas mas petugas, entah pesanannya salah atau dia bolak-balik memesan.

Bagi non-multitasker seperti aku, suara-suara itu dan pergerakan-pergerakan yang mau tak mau tertangkap oleh mataku, sudah cukup mengganggu konsentrasi menonton. Jelaslah di menit-menit itu aku kehilangan fokus dari layar, gagal mengikuti Meryl Streep saat lagi bicara apa di adegan apa. Padahal itu penontonnya baru dua orang; aku dan si ibu. Gimana lagi kalau studionya penuh dan semua orang pada mesan makanan, gak kebayang distracted-nya.

All in all, menurutku The Premiere atau Premiere Studio tak terlalu istimewa. Ya cukup mewah, tapi beberapa kemewahan minor yang disajikan tidak cukup menambah kenikmatan menonton—kalau terlalu kejam untuk mengatakan: justru mengurangi kenikmatan.

Teater mahal lain milik 21 yang lebih masuk akal adalah IMAX Theater. Baru ada di Gandaria City saat tulisan ini dibuat, dan dalam beberapa hari ke depan akan segera dibuka yang kedua di Mal Kelapa Gading 3. Layar superlebar, dengan tawaran menikmati pengalaman menonton yang berbeda dibanding menonton di layar bioskop biasa.

Tapi apa hari ini aku menyesal? Tentu tidak, justru aku sangat beruntung. Karena Kamis keesokan harinya, Iron Lady pukul 21.40 sudah hilang dari jadwal Premiere Studio EX. Horee.

Catatan Rabu 10 April 2013

2 Comments »

  1. Hengky says:

    Info yang bagus.. tq mba lia

    [Reply]

    pinat Reply:

    Sama-sama, Hengky. Terima kasih sudah mampir :-)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p