nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 sehari bersama ‘madre’

nat to buku — Tags: , ,  

Jarum jam di tangan belum tepat menunjuk pukul 11.00, buru-buru saya tinggalkan studio siaran. Menyetop taksi, demi misi yang telah dirancang sejak pagi. Jalanan yang lancar mengantar tak sampai 15 menit di “gudang ilmu“ komersial pertama di Jakarta yang saya sambangi saat berkunjung ke Ibu Kota belasan tahun silam.

Sensasi asing tersergap begitu langkah kaki menyentuh ubin toko, makin sesak saat menaiki eskalator menuju Lantai 1. Hanya satu tujuan saya memaksakan diri ke tempat yang sebetulnya favorit ini.

“MADRE,” saya berucap lekas bahkan sebelum tiba persis di bibir meja Informasi & Penelusuran.

“Naik satu lantai, ada di sebelah kiri di bagian Novel,” perempuan berseragam yang sedang berdiri di depan komputer itu menjawab tak kalah lekas. Tangannya menunjuk arah eskalator ke lantai atas. Tak ketinggalan senyumnya. Membuat saya urung protes, kenapa tidak diambilkan saja, seperti biasa tiap kali saya bertanya di meja itu.

madre by dee

madre by dee

Berada di antara rak-rak buku yang menggoda untuk diintip, sekujur tubuh makin dirayapi kegelisahan. Ingin secepatnya pergi dari tempat ini. Untung tak punya asma, tak perlu menghirup inhaler dalam-dalam. Untung yang kedua, seorang petugas laki-laki membantu mencarikan MADRE dan menyodorkannya pada saya. Sejurus kemudian transaksi tuntas di depan kasir, saya melesat keluar dari toko buku, pindah ke toko donat di sebelahnya, memesan secangkir black coffee dan sepotong flatbread, memilih letak sofa yang cukup strategis, merobek plastik pembungkus MADRE. Mulai membaca.

Beberapa review dan komentar tentang Madre yang telah saya baca sebelumnya menyiratkan buku ini tidak terlalu menarik. Rata-rata memuji: ringan, bahasa sastra yang segar, enak dibaca, inspiratif. Pun terbaca kritik yang menyuarakan: dangkal, cerita melompat-lompat, struktur logika menulis yang tidak konsisten. Bikin penasaran, seorang penulis sekelas Dee bisa luput melewatkan struktur logika semudah seperti yang digambarkan si pengkritik?

“Jangan percaya,” kata Sitok Srengenge, sang penyunting yang dipilih Dee untuk MADRE. “Buktikan sendiri dengan membaca buku ini.”

Benang merah semua review, umumnya menggambarkan Madre bicara soal apa. Soal tukang bikin roti. Soal menemukan passion. Lagi, ini pun tak juga terlalu menarik bagi saya. Saat ini. Di masa-masa ini. Tapi justru faktor tak menariknya itulah, dan ketidakinginan-percaya-akan-segala-sesuatu yang sedang betah bersemayam di benak, yang membuat saya sepakat dengan Sitok dan meneruskan membaca Madre.

Tak butuh waktu lama bagi Tansen yang skeptis–cenderung apatis–untuk membius saya. Halaman-halaman awal menerbitkan rasa penasaran lebih mendalam: apakah manusia medioker sejenis orang ini layak mendapat akhir cerita yang masuk akal, a.k.a, yang indah?

Mulut Pak Hadi yang perlu dikursuskan di John Robert Powers, sejak awal juga sudah mencuri perhatian. Tak terasa, tempelan-tempelan mini Post-It bertaburan menghiasi lembar demi lembar Madre yang berbicara lebih keras.

Saya berhenti di halaman 43. Posisi sudah berpindah, sekarang di taksi menuju kantor kembali. Percakapan e-mail antara Tansen dan Mei:

Di penghujung suratnya, Mei menulis, “Thanks untuk parsel rotinya, kok kamu tahu sih saya memang lagi butuh untuk keperluan foto? Besok ketemuan yuk, pengin ngobrol-ngobrol. Dinner time?”

Aku terdiam sejenak. Dan dengan kecepatan lebih tinggi dari kemampuanku menganalisis, aku mengetik balasan, “Confirmed. Dinner. Besok.”

Tercium aroma romantisme yang lebih pekat akan mengisi halaman demi halaman berikutnya. Ah. Bangsat. Saya sedang tak ingin membaca, menonton, mendengar, apapun menyangkut kisah-kisah romantis yang menjanjikan a happily ever after ending. Mengingatkan pada kisah kasih lain yang saya kenal, yang tak kunjung melabuhkan jangkarnya di dermaga.

Tak ingin sopir taksi yang sudah curiga makin curiga dengan aktivitas dramatis di jok belakang, Madre saya tutup, masukkan ke tas. Sisa siang itu habis di ruang produser dan kubikel. Sesekali mengintip Madre yang telanjur, tak bisa tidak, kudu dituntaskan hari itu juga.

Saya mencerna perjalanan Tansen, sang pewaris tunggal usaha toko roti tua Tan de Bakker, sebagai agak… “too good to be true”.

Tansen, seorang “nobody” yang kerja serabutan dari Bali, tak disiplin, tak suka rutinitas, anti-ikatan. Sejauh-jauh kedisiplinan dan rutinitas yang bisa dipertahankannya mati-matian dalam dua tahun terakhir hanyalah kebiasaannya mengisi blog sekali seminggu dengan cerita kesehariannya. Ia juga tak punya track record keterampilan memasak. Tahu-tahu, “nobody” ini berubah bukan saja menjadi malaikat chef di Jakarta dengan keajaiban genetis mengembangkan adonan biang roti yang mujarab, tetapi juga seorang business leader yang cakap berpikir komprehensif dan inovatif, menyulap usaha toko roti yang mati suri menjadi hidup kembali bahkan berjaya.

Kisah Tansen dengan jimat Madre-nya adalah kisah pertama dan terpanjang dari 13 cerita pendek dalam kumpulan cerita fiksi ketiga Dee ini. Itu sebabnya barangkali mengapa judul Madre diabadikan menjadi judul utama buku ini. Barangkali cukup panjang untuk sebuah cerpen hingga saya sempat terlena dan hanyut dalam kisah si Tansen, kurang siap mental begitu ceritanya berakhir di halaman 72. Hampir setengah dari total 160 halaman kumpulan cerita MADRE. Faktanya, Madre tetap lah sebuah cerita pendek, bukan novel. Sehingga agak kurang pas berharap terlalu banyak detil plot perjalanan hidup tokohnya dielaborasi.

Saya bertanya-tanya, apakah Dewi Lestari pernah terpikir menulis Madre dalam format lebih panjang? Pasti banyak sekali orang tak sabar ingin membacanya. Perahu Kertas sedemikian dicintai puluhan ribu pembaca, termasuk saya. Madre versi novel—seandainya ada, saya yakin akan bernasib sama.

Beberapa cerita lain dan puisi dalam MADRE, pun sangat memesona; dalam, menggambarkan kedalaman pencarian penulisnya akan makna hidup dan cinta yang lebih luas. Tidak semuanya sanggup saya pahami serta-merta. Selayaknya hidup, tak semua kejadian di dalamnya perlu dipahami dengan serta-merta.

Di antara judul yang meninggalkan kesan sangat khusus buat saya: ‘Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan’, ‘Guruji’, ‘Perempuan dan Rahasia’, ‘Wajah Telaga’, ‘Percakapan di Sebuah Jembatan’, ‘Have You Ever?’ dan ‘Barangkali Cinta’.

Malam itu setengah jam menuju hari yang baru, saya menyelesaikan cerita ke-12: ‘Menunggu Layang-Layang’. Cerita ringan tak ringan yang cukup pas diletakkan di halaman-halaman jelang akhir MADRE. Menyiramkan setangkup emosi tertentu pada flat-mood sepanjang hari itu yang belum juga terdefinisikan, namun kini saya bisa rasakan hangat karenanya.

Selembar uang 50 ribuan berpindah ke kasir kedai kopi langganan di Cikini, tempat terakhir membaca MADRE hari itu. Malam di balik pintu kedai makin tinggi merambat. Saya keluar dengan perasaan lebih ringan. Menyetop taksi lagi, kembali ke jalanan. Pulang, kepada kepahitan hidup yang tak akan pernah bisa disangkal. Dalam derajat yang telah berkurang.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p