nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 member of the month

nat to jurnal — Tags: ,  

Siang itu di tengah rapat, sebuah SMS yang tak disangka-sangka masuk di ponsel. Joan Aurelia, redaksi majalah Cosmopolitan, meminta foto diri saya dan biodata singkat (pekerjaan dan usia) ditambah tanggapan saya selama menjadi member Milis Cosmopolitan. Kata Joan, ia ingin menjadikan saya member of the month untuk dimuat di majalah Cosmopolitan edisi Maret ini.

Kenapa saya? Karena, menurut Joan, saya aktif di milis. Selain itu, saya juga belum pernah jadi member of the month. Aih. Meskipun saya tahu saya tidaklah se-eksis itu, toh senang sekali kalau ada juga yang menganggap saya aktif. Lagipula, muncul di majalah, kapan lagi? :love:

a tiny unexpected page

a tiny unexpected page

Bergabung di Milco

Waktu itu 2004. Saya belum dimutasi ke ibukota dari kantor lama di Bandung. Bergabung dengan Milco (demikian kami menyingkatnya), komunitas dunia maya dari sebuah majalah gaya hidup perempuan ini, ternyata bukan perkara mudah. Sempat bikin senewen, sebab permintaan subscribing saya yang pertama tidak digubris oleh moderator.

Di tahun-tahun awal pendiriannya sejak pertama kali dirilis pada Oktober 2001, aturan Milco memang ketat. Sangat ketat bahkan, hingga agak berlebihan. Pun sesungguhnya sangat wajar, demi menjaga segmentasi yang ceruk pasarnya relatif sempit, tetapi juga sangat konsumtif. Faktor demografi seperti usia, profesi, penghasilan hingga gaya hidup, lumrah dipertimbangkan.

Sebagai pembaca rutin majalah berlisensi internasional ini, dan hampir setiap bulan menyisihkan sebagian gaji demi membeli dan mencomot ilmu di dalamnya (terutama “ilmu pacarannya”), saya tertarik menjadi anggota milis.

Milco memang sangat dijaga. Itu kesan saya. Tema-tema artikel yang diposting dan perbincangan yang berlalu-lalang mengangkat ragam persoalan yang dihadapi perempuan Cosmopolit pada umumnya. Mulai dari lika-liku karier dan pekerjaan, hingga persoalan pribadi seperti hubungan dengan pasangan. Tanggapan para member pun “berisi”. Terlihat ditulis dengan sangat niat, layaknya menulis surat yang kita anggap penting. Jangan bandingkan dengan gaya menulis email ala BBM yang ngetren sekarang ini, penuh dengan ‘one liner message’. Sering ‘one liner comment’, sebangsa “wkwkwk”, “lol”, “setuju” dan seterusnya.

Pasca mati suri

Sampai setidaknya satu dekade sejak awal 2000, fenomena komunitas hobi terutama yang berbasis traveling/backpacker masih marak di Tanah Air. Turunannya macam-macam. Komunitas kuliner, komunitas fotografi dan lain-lain. Toh, beberapa tahun belakangan ini, semangat kumpul bareng dalam grup massal itu meredup dengan sendirinya. Tidak sepenuhnya hilang. Mereka mengerucut dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil dari ukuran komunitas. Ada yang menjadi “teman ngetrip” alias “teman jalan-jalan”, “teman makan-makan”, atau “teman fotografi”. Tak jarang, lingkaran yang lebih kecil itu menyempit lagi menjadi teman dekat atau teman baik, sahabat, bahkan “soulmate” ataupun soulmate dalam arti sebenarnya.

Milco tak luput dari pergeseran trend itu. Perlahan tapi pasti, milis berangsur sepi sebelum akhirnya mati suri. Acara kopdar menjarang. Posting-posting artikel dan topik percakapan online, menghilang. Momen kopdar tahunan yang masih bisa dipertahankan tak lain dan tak bukan adalah buka puasa bersama. Saya sendiri pun, hampir tak pernah lagi beli majalahnya.

Suatu kali, demi menghidupkan kembali milis, redaksi majalah Cosmopolitan dan moderator milis memutuskan membuka setting moderasi milis. Semua member bebas posting tanpa difilter terlebih dahulu oleh moderator.

Cukup berhasil, sih. Milis jadi ramai kembali. Suangat ruamai. Seperti puasar. Lalu-lintas percakapan nyaris tak terkontrol dengan baik. Hilir mudik gagasan dan usulan kegiatan milis mulai dari yang remeh-temeh sampai yang mutakhir, muncul dari delapan penjuru mata angin. Kebanyakan masih sebatas gagasan dan usulan. Wacana. Bagi member yang setting milisnya dibuat individual dan bukan daily digest, bisa jadi sedikit terganggu dengan posting-posting pendek yang “kurang penting” memenuhi jalum.

Turun gunung

Apapun itu, setiap usaha kecil dari sebuah niat untuk membangun kembali komunitas yang bermanfaat bagi para anggotanya, patut diberi apresiasi. Proses menuju kebangkitan memang tak pernah mudah, tak pernah instan. Perlu orang-orang yang terpanggil untuk bersedia repot melakukan yang tak mudah dan tak instan itu. Learning by doing. Trial and error. Demi apa? Demi motif dan kepentingan yang tak seragam.

Ada yang demi kecintaan pada komunitas yang sudah dianggap bagai keluarga sendiri. Ada lagi demi keselarasan pandangan dengan mainstream Cosmopolitan itu sendiri. Banyak juga yang demi eksplorasi dan eksistensi diri. Atau yang iseng untuk mengisi waktu. Lalu ada pula yang ingin sekalian menambah pundi-pundi bisnis pribadi. Yang aneh ada juga, sekadar ingin membuktikan teori Rendra, konon katanya perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Eh… kedengaran mengawang-awang, tapi beneran lho ada.

Milco saat ini di tengah perjalanan turun gunung. Tadi malam adalah meeting perdana kelompok kecil mengawali serangkaian langkah berikutnya untuk mematangkan proyeksi kegiatan sepanjang tahun ini. Dalam waktu tidak lama lagi, semestinya Milco sudah akan keluar kandang lagi.

Berminat bergabung bersama kami? Monggo lho kirim email kosong ke alamat email ini: cosmopolitan-indonesia-subscribe@yahoogroups.com Dengan senang hati kami menyambut. :)

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p