nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 anonim

nat to jurnal — Tags: , , ,  

Ini adalah rangkaian kultwit yang ditulis Arif Zulkifli, Redaktur Eksekutif Majalah Tempo, pekan lalu. Soal penggunaan narasumber anonim dalam pemberitaan media. Tempo, salah satu media yang paling kencang dikritik oleh para buzzer dan “humas bayangan” dari pihak-pihak yang merasa tak suka dengan pemberitaannya.

Gaya majalah ini dalam mengupas dan menyajikan hasil investigasinya memang paling enak dibaca dibandingkan media lain. Mumpuni. Komprehensif, dalam, lengkap. Penyajian yang “nyeni” seperti bercerita (kata beberapa orang, itu namanya ‘jurnalisme sastrawi’) membuat isu-isu politik yang “berat” jadi terasa lebih “ringan” untuk diikuti. Pembaca jadi tahu ihwal masalah, bahkan penasaran ingin tahu bagaimana kelanjutannya. Perihal pembaca yang baik dan cerdas harus tetap menjaga kekritisannya, sudah tak perlu dibahas. Memang itu segmen pasarnya.

Satu hal yang paling sering dijadikan para buzzer-politik sebagai bahan bulan-bulanan—meski tak cukup manjur membuat majalah ini mbulet seperti bulan—adalah penggunaan narasumber anonim. Itu sebab Arif Zulkifli merasa perlu memberikan penjelasan untuk menjawab pertanyaan banyak orang, termasuk para pembacanya, yang juga mendengar atau membaca kritik simpang siur dari kalangan yang kebakaran jenggot oleh karena aibnya—atau aib pihak lain yang disanjung atau dekat dengannya—terbuka.

Saya merasa perlu memuat kultwit tersebut di blog ini. Penyingkatan kalimat ala Twitter sengaja dipanjangkan, semata supaya lebih jelas saja. Tidak ada makna kalimat yang diubah dan ditambah/dikurangi.

Kalau mau baca kultwit aslinya, bisa langsung cek di akun twitter @arifz_tempo. Semoga tak terlalu capek scrolling down timeline-nya :)

Penulis: Arif Zulkifli | Akun: @arifz_tempo | Topik: #anonim | Hari: Selasa, 12 Februari 2013.

    1. Mumpung ada waktu sela, saya mau TL-kan perihal sumber #anonim seperti yang pernah saya janjikan pada beberapa tweeps. Mudah-mudahan bisa memberi gambaran.
    2. Penggunaan sumber #anonim oleh media tidak dilarang, meski menurut saya, dalam jurnalistik itulah selemah-lemahnya iman.
    3. Saya pakai analogi ajaran agama: jika ada kemungkaran ubahlah dengan tanganmu, jika tak bisa dengan mulut, jika tak bisa dengan hati. Itulah selemah-lemahnya iman. #anonim
    4. Jurnalisme adalah pergulatan. Wartawan berdarah-darah di lapangan. Penggunaan sumber #anonim adalah upaya terakhir untuk mengungkap suatu berita.
    5. Tiga jenis info: on the record (identitas dan info boleh dimuat); off the record (keduanya tak boleh dimuat); background (info dimuat, sumber dirahasiakan). #anonim
    6. Informasi background itulah yang disebut sumber #anonim. Mari kita mengambil contoh.
    7. Ada Camat menempeleng tukang sapu kantor. Kepada wartawan, tukang sapu itu mengakui. Tapi dia takut dipecat jika identitasnya dibuka. Ia jadi sumber #anonim.
    8. Wartawan menemui dua saksi mata. Tak ada saksi lain. Mereka juga membenarkan kejadian tapi keduanya juga takut dipecat jika identitas disebut. #anonim
    9. Wartawan mewawancarai Pak Camat. Ia membantah menempeleng. Berbeda dengan tiga lainnya, Camat bersedia dikutip. Bagaimana kasus ini ditulis? #anonim
    10. Jika wartawan bertahan menggunakan sumber on the record, berita yang muncul: tak ada penganiayaan pada tukang sapu. Wartawan menutupi kebenaran. #anonim
    11. Di sini, prinsip selemah-lemahnya iman berlaku, tentu dengan sedikit upaya tambahan dari sang jurnalis. #anonim
    12. Yakni tidak bergantung pada satu sumber #anonim. Bill Kovach menyebut minimal tiga. Cari bukti sekunder. Misalnya deskripsikan memar di pipi tukang sapu.
    13. Memang berita ini tak sempurna. Camat dan pendukungnya akan bilang, media berilusi. Buzzer akan kultwit tentang media yang tidak bertanggung jawab. #anonim
    14. Itu memang risiko media. Ketika media menerima info dari sumber #anonim, ia mengambil alih tanggung jawab. Persoalannya seberapa serius media melakukan verifikasi.
    15. Dalam liputan korupsi, varian sumber #anonim lebih beragam: dari yang tukang fitnah tanpa bukti sampai korban yang ketakutan. Jurnalis harus cek info mereka.
    16. Beberapa cara verifikasi info sumber #anonim: periksa kedekatan mereka dengan masalah. Jika cuma sok tahu, abaikan.
    17. Jika ia berkompeten, gali info darinya seraya cek logika dan hubungan antar-data. Jika logis, lanjutkan dengan wawancara sumber lain. #anonim
    18. Jika data sahih, cerita layak tulis, persoalan sumber #anonim harus diatasi. Caranya?
    19. Wawancarai sumber resmi dengan bermodal data dari sumber #anonim. Bersikap sok tahu ada baiknya. Yakinkan dia bahwa kita sudah tahu semua persoalan.
    20. Sumber biasanya terhenyak. Lalu mengakui (langsung/tidak) info #anonim. Kutipan “Saya pernah dengar kasus itu”, misalnya, sangat berguna untuk “membunyikan” cerita.
    21. Wartawan dituntut untuk pandai-pandai mengolah informasi. Dalam banyak kasus, peristiwa besar diungkap melalui sumber #anonim.
    22. Kasus cek pelawat misalnya, diungkap Agus Condro kepada Tempo sebagai sumber #anonim.
    23. Agus yang merasa bersalah karena menerima cek pelawat, bercerita pada seorang teman yang merupakan ayah dari reporter Tempo. Si anak nguping. #anonim
    24. Kasus Hambalang yang berawal dari penangkapan Rosa juga didapat dari info #anonim KPK.
    25. Simulator SIM juga bermula dari info #anonim. Belakangan terungkap bahwa si anonim adalah Sukotjo S. Bambang, partner bisnis polisi yang kecewa.
    26. Bagaimana pembaca menerka sumber #anonim dalam tulisan? Ada sedikit tips yang tak mujarab.
    27. Sumber #anonim biasanya tak jauh dari lingkaran persoalan. Jika cerita tentang Golkar, sumbernya faksi di dalam Golkar. Begitu juga partai lain.
    28. Sumber #anonim kadang-kadang adalah sumber formal itu sendiri . Misalnya begini.
    29. Ada kalimat: “Sumber memastikan pertemuan itu dilakukan di Hotel Mulia”. Ketika dikonfirmasi, X menyangkal. Si #anonim adalah X itu sendiri.
    30. Memang tak selalu begitu. Makanya, saya sebut itu tips yang tak mujarab ;-) #anonim
    31. Begitulah. Dalam jurnalistik, wartawan mengumpulkan mozaik cerita. Tak selalu lengkap, tapi terus diperbaiki. #anonim
    32. Saya percaya, jurnalisme adalah ikhtiar yang tak habis-habis. Salam. #anonim

Catatan saya: Tidak semua media yang menggunakan sumber anonim dapat dipercaya. Kredibilitas dan integritas dalam menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme, itulah yang membedakan antara media yang satu dengan media lainnya. Yang membuat berita di media yang satu layak dipercaya, sementara berita di media yang lain cukup menjadi bahan lucu-lucuan saja.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p