nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 karena semua sama

nat to jurnal — Tags:  

Bersama dua OB lain, hari itu Arnie datang ke kantor dengan baju biasa. Bukan seragam kerja seperti yang sehari-hari ia kenakan. Mereka mengumpulkan fotokopi kartu Jamsostek masing-masing, untuk mengurus pencairan dana Jaminan Hari Tua. Dua hari sebelumnya, hubungan kerja mereka dihentikan oleh perusahaan alih daya yang selama ini menaungi mereka.

Arnie dkk berpamitan kepada seluruh karyawan. Sesekali menjawab pertanyaan dan rasa penasaran beberapa orang, perihal kenapa mendadak begitu tiba-tiba. “Mungkin karena mau pada naik gaji, (perusahaan) gak bisa bayar kalau harus ikut UMP,” katanya.

Mendung yang menggelayut di wajah mereka tidak bisa disembunyikan dengan senyum dan usaha untuk bersikap biasa. Tentulah gamang memikirkan harus ngapain dan akan kemana. Tidak ada pesangon yang mereka dapat. Miris dengarnya. Apalagi setelah tahu bahwa Arnie dan salah satu dari kedua rekannya, telah lima tahun bekerja di perusahaan yang mempekerjakan mereka. Saya pun tak tahu harus bilang apa.

Arnie adalah satu-satunya OB perempuan di kantor saya. OG, lebih tepat. Office Girl. Anaknya cukup hobi berdandan. Rambut lurusnya lebih sering dibiarkan panjang terurai.

Kesan pertama yang terlihat saat pertama kali ia bekerja di kantor kami, orangnya jutek. Berbeda dengan rekan-rekan OB yang lain, rata-rata cukup santun dan manut saja ke karyawan, mau gimanapun belagunya terkadang sikap karyawan.

Kerennya, meski mimik bawaan oroknya memang begitu, toh Arnie bisa juga akrab dengan rekan-rekan sekantor lain. Tapi tidak dengan saya. Berarti ada yang salah dengan saya ya? Duh.

Salah satu kekurangan saya, kurang bisa akting lewat mimik wajah. Kalau kurang suka dengan sesuatu di depan mata, biasanya akan ada penampakan di wajah, dan agak sulit menutupinya. Beberapa tahun terakhir sudah coba disamarkan dengan bersikap cuek atau tidak peduli. Harapannya, dengan begitu saya tak perlu terlihat tidak menyukai seseorang yang bisa bikin orang itu merasa tidak nyaman, di samping saya pun tidak perlu berlama-lama pusing memikirkan ketidaksukaan yang menyembul dari dalam.

Hubungan saya dengan Arnie cukup unik. Semua bermula dari rasa tidak suka saya yang kemungkinan besar bersumber dari keangkuhan. Manifestasi dari ego seolah-olah “majikan yang harus dihormati”. Sucks? Iyalah. Memangnya enak menyadari di dalam diri ada rasa angkuh dan pongah? Itu rasanya seperti mengetahui kalau diri sendiri orang yang jahat. Ditelanjangi batin. Ditunjuk-tunjuk nurani. Terbayang Ibu dulu yang selalu bersikap sangat baik, sangat santun, sangat sopan, kepada semua orang. Termasuk kepada semua “orang kecil” seperti pembantu, pelayan, tukang becak, tukang taksi, pengemis, pengamen. Semua. Di mata Ibu, orang-orang kecil itu adalah orang besar. Yang harus lebih dihormati, dan dilayani.

Sekian lama, perasaan bersalah mau tak mau menuntut saya untuk mengurangi sikap tidak peduli pada Arnie. Tetapi mungkin—entah pembenaran atau memang ada benarnya—karena salah satu kekurangan saya yang lain adalah tidak terlalu ekspresif dan cenderung kaku, upaya memperbaiki sikap paling jauh baru mampu sebatas menyunggingkan senyum tipis tiap kali bertemu atau berpapasan dengan Arnie. Belum bisa akrab, apalagi saling bercerita, seperti rekan-rekan lain.

Diam-diam, sering saya sesali ini. Rasanya kok lebih baik gak ketemu saja daripada bertemu tapi merasa gagal bersikap baik. Pernahkah kamu tiba-tiba merasa menyesal ketika urung kasih uang receh ke pengemis yang menghampirimu, atau pengamen bersuara sumbang yang menyodorkan kantong permen bekas kepadamu? Tiba-tiba saja terbersit ragu yang membuatmu ingin kembali menghampiri pengemis atau pengamen itu, tapi kamu atau kendaraanmu terlanjur melaju? Begitulah.

Entahlah apa betul pengatur hidup itu ada dan ia sekali waktu ingin menolong saya sedikit menebus rasa bersalah, akhir tahun lalu secara tak sengaja saya mendengar beberapa OB di pantry bercakap-cakap soal undangan pernikahan Arnie. Ya. Anak ini akan menikah beberapa hari lagi, dalam pekan itu juga. Sekarang saya berpikir OB yang sedang berbincang waktu itu mungkin jelmaan malaikat yang sedang menyamar dan ditugaskan menyampaikan kabar baik itu kepada saya.

Saya putuskan datang ke nikahan Arnie. Saya mencari tahu adakah di antara rekan kantor yang akan ke sana. Malam H-1, seorang senior menghubungi saya dan bilang akan datang. Minggu siang saya dijemput di jembatan penyeberangan Gramedia Matraman, dan kami tiba di pernikahan Arnie dengan basah kuyup terkena limpahan hujan lebat. Hujan lebat penuh berkat, karena saya mendapat kesempatan untuk sekadar menunjukkan “saya ingat kamu”. Sesingkat apapun kunjungan kami dan sekikuk apapun senyum default di bibir saya, senang sekali bisa menunjukkan meski hanya sedikit perhatian, di hari istimewanya. Siang hari itu lewat dengan perasaan sangat lega.

Arnie, ibarat cermin yang dikirim langit untuk senantiasa mengingatkan saya bagaimana harus memperlakukan sesama dengan lebih pantas. Mengingatkan bahwa semua manusia adalah sama, siapapun dan bagaimanapun latar belakangnya. Bukan atas nama kasihan berlatar pengotakan semu, yang kadang kala gegabah, mengenai kondisi “keberuntungan” atau “ketidakberuntungan” seseorang, melainkan karena memang dalam hidup ini sejatinya tidak ada manusia yang lebih baik daripada manusia lainnya.

Belasan tahun silam sewaktu kecil dan remaja, saya sering mendengar kisah seorang raja yang menjawab murid-muridnya,

“…apa saja yang telah kamu lakukan kepada seseorang yang terkecil dari saudara-saudaraku ini, kamu telah melakukannya kepadaku.”

Arnie, dan banyak lagi pekerja di luar sana, menjadi pihak yang terdampak kurang menyenangkan, sebagai konsekuensi dari kebijakan baru UMP demi peningkatan kesejahteraan kawan-kawan pekerja di seantero negeri. Saya berharap situasi kurang menyenangkan ini segera berganti kesenangan baru, yakni kesejahteraan bagi mereka, seperti halnya kawan-kawan lain yang telah lebih dulu mendapatkannya.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p