nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 an old poem in old agenda

nat to jurnal — Tags: , ,  

an old poem in old agenda

an old poem in old agenda

Menemukan puisi tua ini pagi tadi dalam agenda lama milik zaman saya masih kuliah. Kebetulan saya sedang membersihkan buku-buku di rak kamar dari debu yang menebal dan mengeluarkan beberapa yang perlu dibaca untuk saya bawa ke tempat tinggal baru. Agenda tua itu sudah tidak lagi saya pakai. Tapi beberapa isi di dalamnya memang tidak saya buang. Dan tidak akan saya buang.

Saya menghentikan aktivitas bersih-bersih sejenak. Beralih ke iPod dan mengetikkan sebagian dari bait puisi itu di kolom pencarian Google. Terima kasih kepada kecanggihan teknologi internet. Pagi ini saya akhirnya berkenalan dengan penulis puisi yang sejak pertama kali saya baca, sudah bikin saya jatuh cinta.

Kuan Tao-Sheng (1262-1319). Wikipedia menuliskannya Guan Daoseng. Di Bandung dulu saya sempat kursus Bahasa Mandarin selama 6 bulan, seingat saya memang konsonan G dibaca K dan D dilafalkan seperti T.

Kuan Tao-Sheng adalah seorang penyair dan pelukis Cina termasyhur di masa Dinasti Yuan. Hampir menyamai kemasyhuran suaminya, Chao Meng-fu (Zhao Mengfu), seorang terpelajar yang juga penyair, pelukis dan penulis kaligrafi Cina yang sangat menonjol di era akhir tahun 1200-an sampai awal 1300-an.

Kaligrafi karya tiga orang sekeluarga ini; Kuan Tao-Sheng, bersama suaminya, Chao Meng-fu, dan anaknya, Chao Yung (Zhao Yong), dikoleksi oleh Kaisar Ren (Emperor Renzong of Yuan), kaisar Dinasti Yuan pertama yang mendukung pengembangan dan perlindungan kebudayaan Cina setelah masa kekuasaan pemerintahan Kublai.

Sepanjang hidupnya Kuan Tao-Sheng banyak menulis puisi tentang hubungannya dengan suami dan anak-anaknya. Ia dikenal dengan gaya pengandaian yang humoris. Sejarah juga mencatat ia pernah menulis puisi yang mengungkapkan amarahnya saat sang suami memilih mengambil gundik.

Itu sekilas tentang Kuan Tao-Sheng, tokoh yang bertanggung jawab atas salah satu puisi indah yang saya sukai ini, dan atas banyak puisi indah lainnya yang turut memperkaya peradaban manusia masa kini. Tentang pertemuan saya sendiri dengan puisi yang hari ini saya ketahui berjudul ‘Married Love’ ini, ketika itu saya datang ke rumah seorang teman kuliah. Piti, teman saya itu, adalah satu dari sedikit teman sekelas yang saya suka datang ke rumahnya. Selain karena rumahnya di Bukit Dago Utara memang nyaman dan berada di lokasi sejuk yang paling saya sukai di seantero Bandung, di rumahnya juga banyak buku yang “aneh-aneh” yang sebelumnya tidak pernah saya temukan, apalagi di rumah atau di kos teman-teman kuliah yang lain. Aneh adalah istilah saya waktu itu untuk menggambarkan keren. Bukan sekadar buku-buku yang menunjang perkuliahan seperti tata ruang, urban design, makro ekonomi dan sejenisnya, yang baru membaca judulnya saja sudah bikin kepala saya keriting dan buntu. Buku-buku koleksi Piti dan keluarganya dari beragam genre. Kebanyakan berbahasa Inggris. Ia memang lahir dan sempat lama tinggal di Amerika Serikat, selama orang tuanya menimba ilmu di sana.

Waktu itu entah apa yang sedang saya baca di kamarnya, saya menemukan puisi ini. Entah di buku, atau di pembatas buku. Tak terlihat nama penulisnya, seingat saya.

Yang saya lakukan berikutnya adalah mencatat puisi itu di buku catatan kuliah. Dan sepulang ke rumah yang hanya berjarak tempuh 5 menit dengan angkutan kota, saya mengambil mesin ketik di pojok kamar, mengetiknya ulang di selembar kertas buram. Ketika itu lagi krisis moneter dan kertas buram populer di kalangan mahasiswa, sebagai pengganti kertas HVS yang harganya tiba-tiba naik lebih dua kali lipat. Kertas buram yang sudah terketik puisi itu kemudian saya potong dengan gunting-bergerigi hingga sebesar seperti yang terlihat di foto atas, lalu saya selipkan di buku agenda. Voila. Saya bebas membacanya sekarang setiap kali saya inginkan.

Ini puisinya:

Take a lump of clay

Wet it, pat it

Make a statue of you

and a statue of me

Then shatter them, clatter them

Add some water,

and break them and mold them

Into a statue of you

and a statue of me

Then in mine, there are bits of you

and in you there are bits of me

Nothing ever shall keep us apart

(Married Love by Kuan Tao-Sheng)

P.S.

Terjemahan kalimat terakhir dalam puisi ini sebetulnya kurang nyambung dengan rima puisi secara keseluruhan. Itu sebab, biasanya saya suka membaca puisi ini dengan meniadakan kalimat terakhirnya.

2 Comments »

  1. Yoga says:

    banyak cinta berdiri, diam, di antero blog milik Nat ini. :)

    [Reply]

    nat Reply:

    Ah begitu ya… Barangkali karena melihat banyak cinta yang hilang di luar sana :P

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p