nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 the act of killing

The Act of Killing

The Act of Killing

Agak risih menakar ranking penilaian terhadap film ini, sebetulnya, tanpa terbebas dari perasaan seolah-olah ikut mengeksploitasi korban peristiwa 1965 itu sendiri, demi sebuah karya “seni” yang spektakuler.

Wajar, bila ada sebagian orang tak bisa berkomentar banyak setelah selesai menyimak dokumenter berdurasi lengkap 159 menit ini. Termangu. Bukan karena tak ingin mengatakan film ini bagus. Tapi barangkali batinnya bergumul, mencoba keluar dari tuduhan diri sedang mengagumi “bagusnya” kenyataan sejarah yang ditampilkan film ini.

JAGAL—judul yang dipakai untuk subtitle Bahasa Indonesia—memang secara jujur menuturkan apa yang terjadi ketika peristiwa 1965 berlangsung, dari sudut pandang pelaku. Di film ini, penonton dipertunjukkan dengan gamblang, tanpa sensor (mungkin), ekspresi wajah dan perasaan bekas para algojo pelaku pembunuhan massal 1965 dan orang-orang yang pernah terlibat di belakangnya.

Meskipun korban dan keluarga PKI yang menjadi objek langsung pembantaian tidak diikutsertakan dalam syuting dokumenter ini, sulit disangkal nilai kejujuran dari apa yang dipertontonkan.

Bahwa apa yang diungkapkan dilakukan oleh dua sejawat jagal, Anwar Congo dan Adi Zulkadry—dalam payung organisasi Pemuda Pancasila (PP)—adalah realita. Tentang bagaimana detil cara mereka menghabisi korban-korbannya. Tentang perasaan dan kehidupan yang mereka jalani setelah peristiwa berlalu hingga lebih 40 tahun kemudian.

Bahwa apa yang disampaikan Ibrahim Sinik, penerbit koran di Medan, memang apa adanya. Tentang bagaimana tangan para petinggi tetap “bersih” dari darah, sebab eksekusi dilakukan oleh para anak buah yang cukup menangkap “perintah” dari sebuah kode gelengan kepala dan kerlingan mata bosnya.

Bahwa apa yang disajikan Dialog Khusus TVRI Stasiun Medan kepada pemirsa merupakan representasi sebuah propaganda bengis yang sukses memasyarakat. Tentang bagaimana pion-pion pembunuh berdarah dingin yang membumihanguskan perkampungan (terduga) PKI, pulang ke rumah dengan perasaan bangga sebab dielu-elukan—dan mengklaim diri—sebagai pahlawan negara yang menyelamatkan ideologi Pancasila.

Joshua Oppenheimer, sang pembuat dan sutradara berkebangsaan AS, perlu waktu hingga 7 tahun untuk menyelesaikan dokumenter ini, yang merupakan bagian dari tugas thesis S3-nya di London, Inggris. Hal terakhir ini pula yang menjadi salah satu dasar kritik banyak orang, yang mengaitkan motif Oppenheimer membuat dan menyebarluaskan film ini dengan tugas doktoralnya, atau bahkan menudingnya menyodorkan propaganda tandingan terhadap propaganda lama yang berpuluh tahun membelenggu kita lewat film indoktrinasi bikinan pemerintah Orde Baru, G30S.

Namun, bisa dimaklumi mengapa kritik demikian keras mengalir kepada Oppenheimer dan filmnya, sekalipun kritik dan kontroversi telah diperhitungkan sebelumnya oleh pihak Oppenheimer akan membanjir. “Justru aneh kalau tidak ada kontroversi,” katanya seperti dikutip salah satu media online.

Dalam pernyataan di website TAoK, Oppenheimer menjelaskan semula ia berniat membuat film dokumenter dari sudut pandang korban 1965. Tiga tahun ia menjalani proses pembuatan film dokumentasi tersebut, bahaya demi bahaya menghadang dari banyak kalangan yang tidak suka film itu dibuat. Mulai dari polisi, manajemen perkebunan London-Sumatera, walikota hingga LSM gadungan.

Ironisnya, akses terbuka dan bantuan dari sana-sini termasuk dari aparat keamanan, begitu mudah ia peroleh ketika berusaha menghampiri para pelaku peristiwa 1965. Hingga ia pun mengganti proyek filmnya pada tahun 2005. Membuat film dokumenter berlatar sama, tetapi dari sudut pandang pelaku peristiwa.

Oppenheimer mendekati Anwar Congo, nama yang ditemukannya dari riset media. Ia menawarkan Anwar untuk terlibat sepenuhnya termasuk menjadi pemeran utama dalam pembuatan suatu film fiksi tentang peristiwa 1965, yang diproyeksikan kelak berjudul ‘Arsan dan Aminah’. Bersama para pelaku lain yang kemudian bergabung secara sukarela, Anwar Congo menerima dengan tangan terbuka—dan senang. Semua pemain pun dibebaskan melontarkan ekspresi dan ide-ide mereka dalam pembuatan film fiksi tersebut.

Alih-alih ‘Arsan dan Aminah’ yang keluar dan Anwar Congo menjadi bintang film seperti aktor Hollywood pujaannya, Oppenheimer malah meluncurkan “reality show” dokumenter berisi tayangan behind-the-scene dari film fiksi yang dijanjikan. Yang sayangnya, film fiksi itu sendiri tak pernah ada. Sampai TAoK lahir dan menuai kontroversi di mana-mana.

Kontroversi diikuti dengan pengakuan “merasa tertipu” yang disampaikan Anwar Congo dan para pemain lain. Ada Sakhyan Asmara, anggota PP yang ikut tampil dalam film dan sekarang menjabat deputi Menpora, salah satu yang berniat menggugat Oppenheimer secara hukum.

Anwar Congo

Anwar Congo

Hmh. Sampai di sini saya mesti berhenti sejenak. Saya tak paham bagaimana batasan etika dalam pembuatan suatu karya film dokumenter. Apakah ada kondisi-kondisi tertentu yang bisa diterima sehingga cara-cara yang boleh jadi terdengar “licik” seperti ini bisa dibenarkan. Sayangnya saya pun belum cukup dalam berguru tentang etika jurnalistik, jika ini bisa ditarik ke sana. Tetapi, saya cukup “berdamai” dan memperlakukannya serupa sajian laporan investigasi majalah TEMPO, misalnya, yang acap kali juga membuat saya bertanya-tanya bagaimana para wartawan mereka bisa mengakses data dan informasi yang terkadang rasanya hampir muskil bisa diperoleh dengan cara-cara “biasa” yang sangat “beretika”.

Namun cobalah kesampingkan kontroversi seputar etika pembuatan, dan simak kata demi kata yang diurai oleh para mantan jagal dalam TAoK. Salah satu yang paling menarik adalah Adi Zulkadry.

Jika Anwar Congo dihantui perasaan takut dan bersalah tak berkesudahan di balik kesehariannya sebagai seorang kakek yang sayang pada kedua cucu, bahkan pada anak ayam peliharaan cucunya, tidak demikian dengan Adi Zulkadry. Tak terlihat sedikit pun rasa bersalah menghinggapi jiwanya. Mungkin begitulah sosok “mesin pembunuh” yang berhasil dicuci otaknya dengan sempurna. Layaknya agen-agen pembunuh yang tangkas di film Bourne.

“Perasaan takut itu muncul kalau merasa bersalah,” sahut Adi Zulkadry menimpali Anwar yang mengungkapkan rasa takutnya setelah mimpi-mimpi buruk kerap mendatangi tidur malamnya. Di sela-sela syuting, Adi juga sempat mengingatkan rekan-rekan pemain lain tentang risiko dampak yang bakal muncul bila ‘Arsan dan Aminah’ sukses mereka perankan. “Tidak semua kejujuran itu milik konsumsi publik. Bukan untuk (kepentingan) kita, tapi untuk (kepentingan) sejarah. Karena akan membuat penonton berpikir: ‘keyakinan saya selama ini salah.’”

Pada kesempatan wawancara dengan Oppenheimer di mobil sembari Adi menyetir, ada beberapa kutipan kalimat Adi yang menarik dicatat.

“Definisi kejahatan perang adalah buatan pemenang.”

“Ada kebenaran yang tidak baik. Salah satunya adalah mengungkit-ungkit kebenaran itu sendiri.”

“Kalau bicara adil tidak adil, Habil dan Kabil, pembunuh pertama, adili dong.”

Memang, Anwar Congo dan Adi Zulkadry memainkan peran mereka dengan sangat baik. Saya rasa yang paling baik di antara pemeran pelaku lain. Lihatlah betapa dinginnya ekspresi mereka saat merekonstruksi kejadian eksekusi. Sangat tenang. Namun fasih terlatih. Tidak ada suara bentakan bernada tinggi atau pukulan membabi buta seperti yang dilakukan preman/anggota PP lain yang lebih muda. Namun instruksi tenang nan berwibawa dari mulut Adi setelah seorang korban “diselesaikan” di kursi, atau adegan Anwar mencabik-cabik boneka milik anak seorang korban lain, jauh lebih sadis.

Tak kalah meyakinkan bagaimana ending TAoK dibingkai. Anwar Congo dengan dampak kerusakan psikologis yang sampai terlihat secara fisik, muntah berkali-kali saat menceriterakan aksi di atap rumah. Adi Zulkadry, di balik sikap teguhnya atas keyakinan bahwa ia bertindak benar, tampak diam cukup lama dengan tatapan mata kosong di salon kecantikan, tak terganggu dengan kesibukan putrinya yang duduk di sebelah sedang di-creambath. Barangkali sesungguhnya, ia pun, terguncang.

Berapa nilai yang pantas diberikan untuk TAoK, tidak cukup dengan menyemat angka dari skala 1 sampai 10. Tetapi dengan merekomendasikan sebanyak-banyaknya orang Indonesia untuk menonton dan menyimak film ini. Karena film ini penting, bagi tumbuhnya dokumenter-dokumenter jujur lain tentang peristiwa 1965. Dan terutama penting, bagi upaya pelurusan sejarah bangsa.

2 Comments »

  1. Untuk jawaban Joshua Oppenheimer atas persoalan etika dokumenter/penelitian juga sangkalan atas tipu menipu dengan para subjek/narasumber film, bisa dibaca di: bit.ly/UKy1Pi

    [Reply]

  2. hopeless says:

    hopeless…

    the act of killing « nat @liachristie…

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p