nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 hari ini setahun lalu

Pernah terpikir setahun lalu kamu ada di mana, melakukan apa, dan apakah itu mengantarkanmu ke tempat di mana kamu berada sekarang? Pernah terpikir apakah kamu senang dengan keberadaan kamu hari ini dibandingkan setahun lalu, atau sebaliknya, berharap kamu bisa kembali ke setahun lalu dan menghapus kejadian yang sudah terlanjur berlaku? Kalau kebetulan sedang dalam suasana hati yang sentimentil, mungkin ya kamu akan berpikir ke arah sana. Tapi kalau nggak ya mungkin juga nggak.

Anggaplah saya sedang terserang virus sentimentil hari ini. Jadi ya, saya terpikir itu sekarang.

Setahun lalu, saya melakukan sesuatu, yang sangat biasa sebetulnya, tak ubahnya seperti kebiasaan lain yang saya lakukan sehari-hari. Bekerja hal-hal rutin, siaran, bertemu orang, makan siang, dan seterusnya.

Hari ini, sampai beberapa jam lalu, saya duduk di salah satu kursi di dalam Teater Salihara, mengikuti kelas Seri Kuliah Umum tentang Tafsir dalam Tradisi Agama. Pekan ini bicara soal Metode Kritis Tafsir Alkitab.

Sejujurnya, saya tak berharap banyak akan mendapatkan sesuatu yang berkesan dari kuliah ini. Lebih jujur lagi, mulanya saya berpikir saya akan bertarung melawan kebosanan selama 2-3 jam mendengarkan pemaparan topik dari pembicara hari ini.

Untunglah, saya salah. Tanya jawab dalam perkuliahan banyak mengangkat—dan menjawab—pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sejak kecil sering menghantui benak saya, dan makin menghantui seiring dengan bertambahnya usia. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya kemudian dicap sebagai anak kurang berbakti, tidak patuh dan suka melawan orang tua—dan lebih dari itu, melawan Tuhan. Yang pada gilirannya, membuat saya cukup sering berpikir, mungkin benar saya bukan anak yang normal, dan bukan anak yang diharapkan.

Hari ini saya cukup puas dan senang sekali mengetahui lebih dalam lagi, bahwa saya adalah manusia yang sangat normal. Bahwa saya tidak sendirian memiliki kecenderungan pemikiran seperti yang saya miliki sejak kecil. Bahwa ada banyak sekali orang di luar sana, dari latar belakang yang sama dengan saya, memiliki rasa penasaran seperti saya. Bahkan banyak di antara mereka yang secara lebih serius mengikuti rasa penasarannya untuk mencari jawaban. Terima kasih untuk orang-orang seperti itu, yang sedikit banyak telah dan akan terus membantu orang-orang seperti saya.

Sebab itu, saya pun bersyukur pada apa yang saya lakukan setahun yang lalu. Titik itu mengantarkan saya ke titik-titik lain, yang kemudian mengantarkan saya ke titik hari ini. Perkenalan dengan orang, pertemuan, percakapan, diskusi-diskusi dan perdebatan, semuanya terjalin oleh satu benang merah (ngomong-ngomong, kenapa mesti merah ya?), yang membawa saya mendaftarkan diri untuk mengikuti seri kuliah umum di Salihara. Apapun motifnya.

Tetapi, agar tidak terdengar terlalu sentimentil, bisa jadi juga tak ada hubungannya antara apa yang saya dapat hari ini dengan apa yang saya lakukan setahun lalu. Bisa jadi hanya suatu kebetulan random semata. Bisa jadi seandainya pun setahun lalu saya tak melakukan apa yang saya lakukan waktu itu, saya akan tetap sampai pada hari ini dan mendapatkan apa yang saya dapat pada hari ini. Bila demikian adanya, maka mungkin tak perlu mencatatnya dalam agenda pengingat. Cukup membiarkan semua berjalan memenuhi hukum relativitas. Atau spontanitas.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p