nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 penting gak penting

nat to jurnal — Tags: ,  

Selasa.13Nov12

[20:07] Makan nasgor dekat kost yuk

[20:56] Lagi di luar gue

[21:00] Baek

[21:24] Makan nasi goreng kebon sirih yuk

Kamis.15Nov12

[19:19] Cuti libur kemana?

[19:19] Tripkah?

[19:30] Sama keluarga

[19:39] Ooo ya ya enak

Jumat.16Nov12

[08:32] Kemaren bilang lagi di luar. Itu maksudnya di luar negeri ya?

[08:32] Hahahaha

[08:32] Ok ok

[10:00] Kok?

[10:01] Kok apa?

[10:01] Beneran bukan?

[10:01] Bukan ya?

[10:02] Terlalu berhalusinasi lo

[10:03] Hehe kok halusinasi sih

[10:03] Namanya juga tebakan. Berdasarkan kata2…

[10:08] Gak ada juga yang nyuruh lo nebak2

Di atas adalah cuplikan perbincangan WhatsApp antara saya dengan seorang kawan baik. Saya yang warna merah. Sesuai dengan warnanya, dalam obrolan terakhir itu, saya kesal.

Kalimat kawan saya memang gak asyik. Mungkin sih dia tak bermaksud apa-apa, iseng doang, atau entah pas lagi kesambit setan kepo mana. Tapi, saya merasa tertuduh. Kalimatnya bernada tuduhan. Dan, sok tahu.

Ada pilihan sebetulnya buat saya untuk menjelaskan dengan rinci apa yang mungkin kawan ini ingin ketahui dari saya. Tapi saya sudah kehilangan selera. Il-feel, kata orang. Daripada berdebat untuk sesuatu yang gak penting, saya pun kemudian tak merespon apa-apa. Karena memang, gak penting.

Tapi, dan yang paling utama yang bikin saya ingin menuangkan cerita yang jadi-agak-penting-juga ini di blog, kejadian kecil itu menimbulkan déjà vu. Sesuatu yang familiar terjadi dalam hari-hari saya, yang banyak dihiasi oleh sebuah nama bagus selama beberapa waktu belakangan.

Rekaman perbincangan dengan orang yang punya nama bagus yang diam-diam saya sayangi ini, lalu bermunculan satu per satu. Puzzle-puzzle berupa rangkaian percakapan gak penting, hilang muncul hilang muncul di depan mata. Seperti efek slide show PowerPoint yang sedang dipresentasikan. Tapi, mereka seolah menertawakan saya. Ya, karena saya menjadi tersangka.

Cukup sering saya melakukan, menunjukkan secara sengaja, dan menyampaikan, bentuk-bentuk kecurigaan yang menyesak dada, kepada orang yang justru mestinya sih bisa saya percaya. Sadar juga sebetulnya bahwa pertanyaan-pertanyaan tendensius, kecurigaan-kecurigaan itu, pasti sangat annoying baginya. Tapi saya tak pernah sungguh-sungguh menyadari bagaimana memuakkannya rasa annoying yang ditimbulkan itu, sampai ketika saya sendiri kembali benar-benar mengalaminya.

Mungkin ada benarnya kalau dibilang, sikap-sikap kurang rasional seperti itu adalah kecenderungan alamiah seorang perempuan. Sejak Hawa mengajak Adam berkencan di bawah pohon rindang sambil ngemil buah apel yang lezat, Bumi di bawah Taman Firdaus sudah memaklumi bahwa rumah perempuan memang di kutub emosi binti delusional binti irasional. Di sisi lain, lelaki, sejawat alien yang selalu menggoda perempuan tetapi harus diakui seksi dan terlalu sayang bila diabaikan begitu saja, terlalu keukeuh membangun benteng pertahanan diri di kutub rasional bin praktis. So we speak in different languages.

Namun, mungkin, karena secara alamiah pula saya berpikir-bergerak-bersikap di bawah pengaruh rasi Libra-si ratu adil, ditambah kombinasi antara karakter Phlegmatis-damai dan pola pikir yang pada dasarnya cukup rasional, maka saya cenderung gak bisa tahan sendiri juga dengan perilaku “gak santai” seperti itu. That is just something that’s not me. I don’t even like myself every time I see me acting that way.

Begitu pula sebaliknya, sebagai seorang Libra, secara alami saya sangat mencintai kebebasanyang bertanggung jawab, tentunya. Dari sejarah hubungan yang sudah sudah, saya gak pernah menikmati berkencan dengan lelaki yang… cenderung nagging. Bahkan dalam konteks pertemanan atau persahabatan dengan sesama perempuan, saya juga kurang nyaman dengan teman yang inginnya nempel kemana-mana, atau terlalu ingin tahu saya lagi ngapain di mana bersama siapa.

Bagaimanapun juga, kadang kita memang bisa berubah (dengan terpaksa/sengaja, ataupun tanpa disadari/disengaja), menjadi seseorang yang bukan diri kita. Pengalaman pahit di masa lalu bisa menjadi salah satu pemicu, mendorong tumbuhnya rasa tidak percaya pada orang lain, danyang lebih parahrasa tidak percaya pada diri sendiri. Saya rasa itu semua sumber dari rasa tidak aman. Bahasa kerennya, insecure feeling.

Beberapa hari lalu saya sekilas nonton film The Dillema di HBO, dibintangi Vince Vaughn dan Jennifer Connely. Ada omongan Jennifer di bagian agak akhir yang cukup mewakili apa yang saya rasakan. Ia melakukan hal-hal yang ia sendiri tidak suka, mencampuri urusan yang seharusnya “bukan” urusannya, hanya karena ia tidak percaya dan curiga pada Vince, pasangannya. Dan ia sadar, itu tidak sehat. Bagi dirinya, juga bagi pasangannya.

Sebelum saya curcol kepanjangan dan membongkar sendiri kisah hidup saya di blog ini menjadi konsumsi gratis bagi beberapa “pengikut” di dunia maya, saya ingin come up dengan bilang, mari jalani hidup yang lebih sehat. Bersikap santai, cukup membantu menyehatkan. Kalau memikirkan sesuatu terasa sangat membebani, mungkin perlu juga sesekali untuk berhenti berpikir terlalu pelik. Toh, umur tidak akan menjadi sehasta lebih panjang dengan memaksakan diri memikirkan hal-hal kecil yang milyaran banyaknya di dunia. Don’t sweat the small stuff, kata Richard Carlson. Jenius memang dia.

2 Comments »

  1. sunrise says:

    insecure feeling…
    pahit itu salah atau kecewa?

    [Reply]

    pinat Reply:

    Pertanyaannya kurang saya mengerti nih, Sunrise.

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p