nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 sindiran bapak tukang buah

nat to jurnal — Tags:  

Bapak tukang buah itu biasa mangkal di depan rumah kostku yang dulu. Seperti beberapa tetangga lainnya, setiap kali aku ke luar rumah, dia tak pernah lupa menyapa. Senyum ramah yang khas tak pernah lekang dari wajahnya, membuat matanya terlihat seperti sedang tertawa.

Pernah aku bertanya siapa namanya, maksudku supaya bisa berbincang lebih akrab. Namun jawabnya singkat, “Bapak saja,” sembari tersenyum hangat.

Penasaran, sempat juga kucari tahu ke pembantu di kost dan ke warteg sebelah. Tapi gak ada yang tahu. Padahal sepanjang hari mereka selalu berada di lokasi yang sama. “Biasanya cuma manggil ‘Pak, Pak’ gitu saja,” kata mereka. Fenomena menarik. Bahwa kecenderungan ketidakpedulian dan kebiasaan berbasa-basi bukan hanya menjangkiti warga urban kelas menengah atas, tapi juga menengah bawah.

Sebuah perbincangan dengan Pak Buah yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang di kepala, sesaat ketika aku akan pindah kost beberapa bulan lalu.

Pak Buah: “Pindah kost ke mana, Mba?”

Aku: “Gak kost, Pak. Nebeng rumah. Di sini (uang kost) naik, Pak. Mahal.”

Pak Buah: “Iya lah pindah… Mba di sini sudah lama kan ya?”

Aku: “Iya, Pak. Sudah enam tahun.”

Pak Buah: “Enam tahun itu sudah bisa beli rumah ya, Mba.”

Kalimat terakhir meluncur dengan sangat ringan dari Pak Buah. Senyum hangatnya membuatku yakin ia tak punya tendensi apa-apa. Tapi entah kenapa, seperti ada angin yang menampar cukup keras. Setelah jeda sekian detik–akibat tertampar–aku menjawab, “Ah, Bapak. Bikin saya jadi mikir kan.”

Pak Buah sama sekali tidak bermaksud menyindir. Tapi aku tersindir sendiri. Sekejap otakku berhitung berapa jumlah uang yang sudah aku keluarkan selama enam tahun kost di rumah bekas klinik bersalin itu. Kalau bulan lalu aku mengajukan KPR/KPA, bisa dapat rumah/apartemen senilai 360 juta rupiah. Dengan catatan, belum ada pembatasan uang muka minimal 30% oleh Bank Indonesia, seperti yang sudah berlaku mulai bulan ini. Tapi kalaupun sudah terkena pembatasan, masak siiiyy gak punya tabungan lain selama 6 tahun kerja di perusahaan cukup mentereng?

Ke mana saja kamu, Nat? Pusing mendadak. Deg-degan. Ingat mati. Kalau aku mati, sudah punya apa ya? Ingat kawin. Kalau aku kawin, apa yang bisa aku tunjukkan ke suami ya? Gak punya apa-apa? Mau morotin suami?

Aku belum siap mati. Dan belum siap kawin. Harus berbenah.

Untunglah, selalu ada untung buat orang Indonesia. Katanya. Bukan deng. Tapi ini: Untunglah, kesempatan itu masih ada. Daripada terpuruk memikirkan penyesalan atas waktu yang tak bisa berulang, masih ada Hari Ini untuk berubah.

Gak perlu menunggu diterima kerja di Amerika untuk berubah. Gak perlu menunggu dipromosikan jadi bos untuk berubah. Hari ini, dengan segala kondisi dan kesulitan saat ini, perubahan itu bisa. Bukan untuk siapa-siapa juga. Tapi untuk diri sendiri. Untuk citra diri yang lebih baik di masa depan. Untuk diri yang lebih tua dan dicintai di belasan dan puluhan tahun yang akan datang. Untuk masa pensiun yang tenang dan tidak merepotkan orang lain. Dan untuk kemandirian pribadi, demi kemampuan menolong sesama.

Dan beberapa hari lalu aku kembali bertemu Pak Buah, pertama kali sejak aku pindah. Kami berbincang sebentar sambil ia memotong-motong buah pepaya pesananku. Aku tersenyum padanya. Senyum yang kini lebih percaya diri, teringat rekening tabunganku yang pelan-pelan sudah mulai terisi kembali.

Bapak tukang buah, terima kasih.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p