nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

1 nyai dasima di jakartaku yang urban

nat to teater — Tags: ,  

“Ini kopinya, Tuan.”

“Mmmh… (sambil menyesap kopi)… Wangi… seperti Nyai.”

“Tuan, saya ingin jadi istri yang sah. Bukan perempuan simpanan.”

“Nyai, delapan tahun sudah kita hidup bersama, semuanya baik-baik tidak ada masalah. Jangan paksa saya melakukan sesuatu yang tidak bisa saya lakukan.”

~

Tuan Edward William, seorang pria berkebangsaan Inggris, mungkin bukan termasuk pria yang romantis romantis amat. Tapi, ia mencintai Nyai Dasima.

Nyai, adalah sebutan bagi perempuan pribumi Indonesia yang dikawini oleh pria asing dari bangsa penjajah; dicintai, dirawat, diberi tempat tinggal mewah dan harta serta diperlakukan layaknya seorang istri, namun tanpa pernikahan sah.

Di kalangan bangsa pribumi, perempuan-perempuan berjuluk Nyai tak ubahnya selir yang dianggap tidak punya harkat martabat. Dipandang hina. Mencoreng nama baik keluarga.

Tetapi bukan pula para Nyai itu tak pernah sama sekali dianggap “terhormat”. Atau setidaknya, “dibutuhkan”. Khususnya ketika seorang Nyai bergelimang harta. Itulah yang terjadi pada Nyai Dasima. Ia, Nyai yang kaya raya.

Di kisahnya, adalah Bang Samiun –orang Betawi yang pemalas dan penjudi– yang secara konsisten menunjukkan sikap penghormatannya kepada Nyai Dasima. Penghormatan dan kebaikan yang semu. Karena sebetulnya, Bang Samiun berusaha memperdaya Nyai Dasima agar bersedia dijadikan istri kedua. Ini akal bulus Bang Samiun bersama istri tuanya, Mpok Hayati, agar mereka bisa menguasai harta Nyai Dasima demi membayar utang-utang yang menumpuk gunung. Mereka mendekati Mak Buyung, seorang perempuan tua yang cukup dekat dengan Nyai Dasima, untuk membujuk sang Nyai agar menerima pinangan Bang Samiun.

Nyai Dasima, yang mungkin jadi ragu dengan jalan hidupnya dan termakan oleh konsep usang bahwa hidup bersama tanpa pernikahan adalah hina, akhirnya bersedia menjadi istri muda Bang Samiun. Ditinggalkannya Tuan Edward dan putri semata wayang mereka, Nancy. Ia mengira derajatnya lantas naik setelah diperistri secara sah.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Hidup Nyai Dasima malah berakhir tragis. Dibunuh oleh Bang Puase, atas perintah suaminya sendiri, Bang Samiun.

Itu kira-kira jalan cerita “Nyai Dasima”, pertunjukan drama dalam rangkaian Malam Seni “Jakartaku yang Urban” di Gedung Kesenian Jakarta, 29 Juni lalu.

Di booklet acara, ada yang menarik saya baca, tercantum di bagian akhir sinopsis drama.

Harapan kami drama ini bisa menjadi tuntunan bagi kita semua, bahwa keberanian meminta nikah resmi adalah hak setiap perempuan dan nikah resmi adalah satu kehormatan.

Saya kurang yakin penonton akan mendapat pesan seperti yang diharapkan itu. Paling tidak, sebagai salah seorang yang duduk di bangku penonton, saya tidak berhasil menangkap pesan yang dimaksud.

Pesan atau pelajaran yang lebih tertangkap oleh saya adalah: hati-hati menerima pinangan siapapun, apalagi kalau belum kenal betul orang yang hendak meminang. Apalagi, (sekali lagi) apalagi, terutama, khususnya, kalau orang yang meminang itu sudah menikah. Motif orang-orang seperti itu patut dicurigai. Kalau bukan karena ia ingin harta, mungkin sekali yang diinginkannya adalah tubuh. Yang jelas bukan cinta. Jadi, omong kosong dengan poligami. Eh.

Terlepas dari itu, saya cukup menikmati drama “Nyai Dasima”. Menikmati kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan para pemain, membandingkannya dengan latihan terakhir sebelum gladi, sehingga setiap kesalahan yang terjadi terlihat lucu dan membuat saya tertawa. Harus diakui, lakon terbaik malam itu adalah Tuan Edward W (atau Tuan We –menurut literatur lain). Diperankan oleh satu-satunya jurnalis yang terlibat dalam pementasan itu, Airlambang. Membanggakan.

Roman sejarah Nyai Dasima sendiri konon bukanlah rekaan, melainkan kisah nyata. Saya bilang konon, karena ada juga literatur yang mengatakan kebenaran sejarahnya masih kontroversial. Ceritanya pun ada banyak sekali versi. Coba saja googling cerita Nyai Dasima, saya mafhum kalau Anda bingung mana kisah yang benar, saking banyaknya versi yang berseliweran. Versi yang diangkat dalam drama Nyai Dasima di Jakartaku yang Urban, hanyalah satu diantaranya. (Mungkin, pesan drama “Nyai Dasima” yang saya singgung tadi, akan lebih tepat sasaran kalau saja dipilih versi cerita yang lebih sesuai dengan tujuan yang diharapkan).

Kisah hidup Nyai Dasima yang berlatar tahun 1813-1830an pertama kali dibukukan pada tahun 1896 oleh Gijsbert Francis, seorang penulis berkebangsaan Belanda yang kabarnya pernah menjadi redaktur surat kabar besar di abad ke-19. Banyak kalangan yang menilai, roman versi Francis ini sangat kental dengan propaganda kolonialisme dan upaya penciptaan stereotype orang pribumi yang serba negatif: pemalas, gila harta, penipu, penghasut, tidak menghargai perempuan. Dalam tulisan Francis, hanya Tuan We yang digambarkan sebagai sosok yang baik hati.

Berpuluh tahun kemudian, budayawan dan seniman asal Kwitang, S. M. Ardan, menulis ulang kisah itu, diterbitkan tahun 1965. Di sinilah mungkin Ardan menemukan wadah untuk menuangkan sikap politiknya, coba meluruskan citra negatif bangsa pribumi yang kadung terbentuk, dengan mengangkat sisi nasionalisme dan pentingnya keyakinan (agama) dalam sosok Nyai Dasima. Hasilnya, roman sejarah “Njai Dasima” yang cenderung bertolak belakang dengan tulisan Francis sebelumnya.

Saya belum baca kedua roman itu, versi G Francis maupun versi SM Ardan. Mungkin menarik kalau dibaca. Hmmh… (sambil membayangkan PR bacaan yang juga menumpuk di kamar) :tired:

Referensi:

  1. Nyai Dasima – Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Nyai_Dasima
  2. Nyai Dasima di Kampoeng Kwitang http://alwishahab.wordpress.com/2007/10/24/nyai-dasima-di-kampoeng-kwitang/
  3. Nyai Dasima – artikel Okezone http://jakarta.okezone.com/read/2012/04/06/502/606976/nyai-dasima
  4. Dll hasil googling

1 Comment »

  1. Rene says:

    ketika dia sudah merencanakan sesuatu yang bakal ‘pasti’ dari kacamata manusia itu, dia justru makin resah, makin ‘ilfil’ katanya, merasa ga jelas dan rasa tak percaya bahwa sebentar lagi statusnya akan berbeda yah kayaknya semua wanita akan merasakan hal itu, dan bukan hanya wanita, laki2 pun akan merasakan hal yang sama, aku menyebutnya sebagai usaha maksimum dari syaitan untuk menggagalkan manusia menjalankan perintah ALLAH, dan itu dialami juga oleh aku dan mantan pacarku (istriku) …

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p