nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 cinta adalah perjuangan

nat to jurnal — Tags: ,  

Cinta itu seharusnyalah diperjuangkan. Tidak dibiarkan putus di tengah jalan, hanya karena faktor-faktor eksternal di luar sepasang pencinta.

Idealnya, seseorang bertemu pasangan jiwa, saling cinta, semesta bergembira untuk mereka, dan segala sesuatu dimudahkan. Hingga cinta itu bersatu. Orang-orang yang sudah mengalami cinta, setidaknya di film-film drama romantis, bilang, “Until they live together happily ever after.”

Tapi, di dunia yang serba tak ideal, apa ada jaminannya semua cinta sejati dijalin dengan mudah? Kalau tidak, apa pilihannya? Hanya ada dua: menyerah, atau berjuang demi cinta. Buat saya, tidak ada pilihan yang masuk akal selain hanya satu jalan: berjuang.

Seorang kawan baik saya, mencintai seorang perempuan. Beruntung, cintanya tak bertepuk sebelah tangan; si perempuan menganggap si kawan ini pasangan jiwanya. Tapi juga kurang beruntung, karena orangtua si perempuan tak menyetujui hubungan mereka. Dan karena si perempuan mencintai pula orangtuanya, pun tidak mau jadi anak durhaka, mungkin akhirnya pasangan saling mencinta ini terpaksa memutuskan untuk berpisah. Tapi tetap saling cinta (?) Dan tetap berkawan baik sampai sekarang (dengan cinta?)

Saya sangat percaya pada kekuatan cinta. Dan cinta itu layak diperjuangkan. Hanya satu syaratnya, saling cinta. Dan karena cinta-yang-saling itu punya kekuatan yang hakiki dan luar biasa, maka saya percaya apapun hambatannya, niscaya bisa ditanggulangi bersama.

Ketidaksetujuan orangtua atau keluarga, perbedaan agama, perbedaan suku atau adat, persoalan finansial, status sosial dan sebagainya, adalah realita hidup yang pasti tidak mudah tentu saja, tapi harus dihadapi dengan kekuatan cinta-yang-saling. Akan ada banyak kompromi yang harus saling diberikan oleh keduanya, untuk pelan-pelan meyakinkan orangtua dan keluarga contohnya, atau untuk membenahi persoalan finansial contoh lainnya. Bagi mereka yang ingin instan, tentu ini akan jadi sangat berat, karena banyak yang harus dikorbankan. Terutama waktu, dan ego. Tapi bagi yang percaya pada kekuatan proses, semua itu diterima sebagai persoalan-persoalan hidup yang diperlukan, untuk semakin mematangkan dan mendewasakan cinta. Sekali lagi, hanya satu syaratnya, cinta-yang-saling.

Apa jadinya jika cinta-yang-saling itu, “dibunuh” karena ketidakmauan untuk berjuang? Bukan saja harus berhadapan dengan hati nurani (oh, percayalah, perang melawan hati nurani seringkali jauh lebih berat daripada Perang Dunia ke-2). Tapi risiko lain di luar itu yang tak kalah membebani adalah, berhadapan dengan orang-orang baru yang akan datang kemudian dalam hidup masing-masing dari si kedua pencinta. Orang-orang baru yang secara sadar dan sengaja, diundang masuk ke dalam kehidupan pribadi mereka.

Betapa tidak adil bagi orang-orang baru ini, yang berpeluang jatuh cinta dan ingin mencintai pasangan barunya itu dengan sepenuhnya, namun dengan sangat terpaksa harus rela kehilangan “hak” untuk dicintai sebesar yang seharusnya bisa mereka dapatkan, andaikata, tidak ada cinta lain yang lebih kuat di hati pasangannya, yang sayangnya “ditangguhkan” hanya karena faktor-faktor ‘di luar dirinya dan cintanya’.

Intinya, berjuanglah sampai titik perjuangan terakhir, untuk cinta. Bila memang harus disudahi, sudahilah karena memang sudah tak ada lagi cinta, atau sudah tak ingin lagi mencintai, atau sudah tak lagi merasa cocok untuk saling mendampingi. Namun sebelum cinta itu habis, jangan undang orang lain masuk ke dalam hati. Karena hati tak akan pernah siap untuk mencintai yang lain, jika yang lama belum lagi habis.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p