Peanut's notegrow and endure

0 Mati sebelum terkembang

Peanut to peanut's  

Sampai beberapa waktu yang lalu, aku menyukai orang itu. Sangat menyukainya. Dia sudah membuat keningku berkerut mikir, sejak pertama kali aku melihat wajahnya secara langsung. Kesan pertama yang sangat aneh, karena wajahnya terasa tak asing di kepala. Tapi aku yakin 2309%, tak sekalipun aku pernah kenal dia sebelumnya. Terang saja si benak lantas bertanya2, di mana aku pernah melihatnya? Apakah di kehidupan sebelumnya?

Aku menyukainya. Semakin menyukainya. Aku tahu sejak awal, aku bisa patah hati jika berani sok coba-coba menaruh harapan dan berkhayal memilikinya. Aku tahu sejak awal, tahu sekali, bahwa sangat kecil kemungkinan (jika tak mau berpahit-pahit mengatakan ‘tak mungkin’) dia punya keinginan yang sama.

Tapi aku menyerah. Dan mengijinkan pintu hatiku -yang memang tidak terkunci rapat- terbuka. Meski memang, kalau mau jujur, dia pun sesungguhnya berkontribusi pada berkembangnya rasa yang kuijinkan tumbuh di ladang hati. Tapi yaah… mana dia mau mengaku?

Kata orang, falling in love means letting yourself be vulnerable. Kepada Sahabat Sejati, yang tahu persis setiap detil kisahku dengannya, berulang kali aku bilang,

We both know what I’m doing. And I know you would say that I’ve got to give it a try. Only one thing I’m begging you for. If this has to fail, please don’t let me fall apart. If this has to fail and I have to feel the pain again, I only need you to stay by my side. I only need to know and to feel, that you never leave me far behind. Convince me. Then I’m ready to open my whole heart.

Dan pun, aku patah hati. Lagi. Tetap ada pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, sinyal-sinyal acak yang tak kumengerti apa maksudnya, namun aku memilih untuk tidak mencari jawabannya. Membiarkan terjadi apa adanya. Dan sekarang, memutuskan untuk mengagumi dia, dari kejauhan.

Hey Kau, yang paling tahu semua misteri, semua cerita di balik kejadian yang hanya aku lihat di permukaan. Kau pula yang tahu kenapa seseorang mesti lewat, atau kenapa ia harus menyapa. Apapun jawaban untuk “kenapa” itu, aku tahu itu bukan sesuatu yang buruk.

Aku menyukainya. Masih menyukainya. Meski tak lagi berharap padanya, tak sedikit pun aku meragukan Dia. Meski ternyata ada air mata yang turun karena dia, tak sekalipun aku merasa trauma akibat jatuh cinta. Aku masih menyukainya, dari kejauhan.

Dan kini. Aku siap jatuh cinta, lagi. Lagi dan lagi. Siap merapuhkan diri ke dalam cinta, dan siap untuk patah hati lagi. Karena aku tahu, Ia tak ingin melihatku berhenti. Karena aku tahu, dan merasakan, Ia ada saat aku jatuh tersungkur dan galau. Itu saja pun, sudah cukup.

[Ditulis pada 2 Nov'11 di Rumah Bareta Menteng, sebagai catatan akhir sebuah perjalanan ‘menyukai’ yang berhenti di ‘kejauhan’]

~peanut~

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p