nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 saya dan rokok

nat to jurnal — Tags:  

Cerita malam ini masih nyambung soal rokok dari cerita saya sebelumnya di “Souvenir Rokok”.

Di kantor, saya sudah terlanjur dicap “anti rokok”. Padahal sih sebetulnya gak gitu-gitu amat. Teman-teman pergaulan di luar kantor gak ada kok yang men-stereotype-kan saya seekstrim itu. Mereka hanya tahu bahwa saya tidak merokok.

Julukan itu memang bermula di kantor. Diawali dari kebiasaan sebagian besar perokok di kantor yang hobi banget kongkow berlama-lama di pantry hanya untuk merokok. Pantry menjadi ruangan terakhir yang ingin saya masuki tiap kali ke kantor, karena gak kuat dengan asap putih mirip kabut (tapi bau “busuk” menyengat hidung dan tenggorokan) yang memenuhi pantry yang luasnya tak lebih dari 8 m2 dan tak berventilasi itu. Kalau gak benar-benar terpaksa, saya menghindari betul masuk ke sana, apalagi ikutan nongkrong.

Namun selama itu, saya hanya diam tak berkomentar. Tidak sekalipun complain ke orang lain, selain ngedumel dalam hati. Entahlah, saya perhatikan di negara ini (atau di kantor saya aja ya?) sepertinya lebih sering kaum non-perokok yang kudu lebih ngalahan dan memaklumkan para perokok, ketimbang sebaliknya. Dalam kasus saya, tiap kali saya terpaksa harus ke pantry (misalnya untuk mengambil air minum atau mencari office boy), saya masuk dengan menahan nafas supaya asap rokok tak terhirup. Saya juga memilih makan siang tidak di pantry, melainkan di cubicle sendiri. Which is sebetulnya juga tidak boleh.

Tapi, bagaimana lagi? Peraturan “Dilarang Merokok” tinggal peraturan. Biasanya bertahan hanya 2-3 hari tiap kali peraturan baru tentang larangan merokok dikeluarkan. Saya menulis intramail komplain ke HRD karena merasa dirugikan oleh rekan-rekan yang merokok di ruang kerja, tapi juga gak pernah ada tindak lanjut berarti.

Selanjutnya saya jadi cuek. Kalau sebelumnya saya masih jaim-jaim sok maklum tapi gak pernah dimaklumi balik, akhirnya saya memilih cuek menunjukkan ekspresi gak senang kalau di dalam kantor ada yang merokok. Saya bisa langsung tutup hidung pake tisu atau kerah baju, di depan orangnya. Bisa juga langsung negur, “Di sini gak boleh merokok ya…”

Belakangan, kalau kesel tapi sudah males debat, saya cuma lari ke twitter. Mulailah ngetwit nyentil-nyentil urusan rokok. Dari situ kemudian banyak yang men-cap saya “anti rokok”.

Yang banyak orang belum tahu, bertahun-tahun lalu sebenarnya saya pernah coba untuk merokok. Waktu itu bulan-bulan terakhir saya mengerjakan Tugas Akhir kuliah di Bandung. Selama satu bulan penuh, setiap hari saya merokok minimal satu batang. Pilihan yang bodoh, tentu, karena alasan saya waktu itu adalah untuk mendapatkan suara yang lebih berat. Ini adalah saran dari seorang announcer trainer di sebuah radio anak muda dimana saya sedang di-train waktu itu. Konyol, saya tahu.

Untungnya, kesadaran dan rasionalitas saya masih mau pulang lagi. Saya membuat hitung-hitungan kasar, apa yang saya dapat selama saya merokok. Rambut yang bau. Gigi berplak-plak, kuning kecoklatan dan aroma mulut yang bau. Kulit muka yang kusam dengan permukaan di sekitar mata yang lebih keriput. Mata pun lebih perih dan terasa kering keseringan terpapar asap rokok.

Ditimbang-timbang, saya rupanya lebih sayang sama kesehatan rambut, gigi-mulut dan kulit saya, ketimbang keinginan menambah power suara apalagi dengan cara konyol. Pada saat bersamaan, waktu itu ibu saya akan segera datang dari Medan untuk menemani saya di Bandung selama beberapa bulan. Kebetulan yang pas untuk kembali waras. Saya pun say good bye sama rokok. Tapi kali ini, selamanya.

Iya, selamanya. Karena sebelum masa satu bulan itu, kadang suka ada godaan untuk merokok, imajinasi-imajinasi liar di pikiran bahwa merokok itu keren, gaul dan sejenisnya. Thank God setelah “periode krisis” itu lewat, godaan-godaan sejenis gak pernah lagi muncul. Sampai sekarang, saya belum pernah lagi mengisap sebatang pun rokok sejak saat itu.

Really… ada banyak hal di dunia sekuler ini yang sesungguhnya hanya menawarkan kenikmatan semu. Kita hanya seringkali tidak cukup mampu berpikir waras untuk benar-benar melihat dan menyaring, mana yang semu… mana yang tidak.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p