Peanut's notegrow and endure

2 Souvenir Rokok

Peanut to imho — Tags: , ,  

Di kantor, saya dikenal sebagai “anti rokok”. Itu mungkin sebabnya ada beberapa yang heran kalau pernah tahu atau melihat saya menghadiahi beberapa orang souvenir yang “berbau2” rokok. Misalnya asbak, kotak rokok, korek api/gas, atau boneka2 kecil bergambar rokok. Kata mereka yang menerima souvenir2 itu, “Ini sama saja dengan nyuruh merokok,” hehe..

Penjelasan paling representatif adalah ini: ‘Saya cukup perhatian sama kamu sehingga berusaha memberikan sesuatu yang setidaknya menurut saya cukup mewakili minat dan/atau kebutuhanmu; tapi saya tidak sepeduli itu sama kamu dan kesehatanmu atau apa alasanmu kenapa kamu tergila2 sama rokok.’ #nooffense

Ya. Di satu sisi, saya punya banyak sekali teman perokok, bahkan yang berat2. Tentu saja saya gak merasa perlu untuk ngerecokin keputusan mereka mau jadi perokok atau ngga, bukan? Dan tentu pula “status perokok” mereka terlalu lemah untuk mencegah saya bisa dan mau bergaul dengan mereka, bercengkerama atau bahkan sering bertukar pandang dengan mereka. Bukan itu penentunya kita bisa jadi berteman dekat kan? Kalau nyambung, ya nyambung aja.

Di sisi lain, dalam hidup ini (at least sampai saat ini) cuma ada satu orang yang padanya saya merasa peduli dan sangat perlu mewanti2 untuk dia mau menghentikan kebiasaan merokok. Orang itu, ayah saya. Saya mencintai dia. Saya punya kepentingan untuk melihatnya tetap sehat. Kepentingan saya, tak ingin kehilangan dia karena rokok. Bahkan kalau saja hidup mengijinkan, saya tak ingin kehilangan dia sama sekali, sampai kapan pun.

Ayah adalah seorang perokok berat. Dokter di Penang sudah berulang kali mengingatkan “Jangan pernah lagi merokok”, “Tinggalkan rokok”, “Berhenti merokok”. Itu karena kondisi paru-paru Ayah sudah mulai dipenuhi racun asap rokok yang diisap selama puluhan tahun.

Saya tahu tidak gampang menghentikan kebiasaan merokok. Dari pengalaman Ayah. Tiap kali beliau pergi medical check-up ke Penang, Ayah bisa berhenti merokok selama berada di sana. Lingkungan di sana bersih sekali dan sangat mendukung, sehingga tidak terlalu ada rasa butuh rokok. Itu katanya. Tapi gak berapa lama sekembali ke Medan (tempat tinggal orang tua saya), pelan2 rokok disentuh lagi. Mula2 sebatang sehari, besoknya dua batang, lama2 balik lagi seperti biasa.

Oleh Ibu, kami anak2nya diingatkan untuk sering2 bilangin Ayah supaya berhenti merokok. Sudah gak mempan kalo Ibu yang bilang, katanya. Perlu kami anak2nya yang rajin2 ngingetin, khususnya saya (kata ibu -red), karena saya anak “kesayangan” Ayah.

Jadi, kenapa saya rewel ke Ayah, itu karena saya mencintai dia. Dan kenapa saya gak rewel ke perokok2 lain dan masih mau berbaik hati membelikan souvenir serba rokok, itu karena saya gak terlalu peduli atau takut kehilangan mereka. Perbandingan yang mungkin agak kasar, tapi itulah kebenarannya.

~peanut~

2 Comments »

  1. Rheenee says:

    hehehehhehehe…
    Mau dong souevenirnya, li…

    [Reply]

    Peanut Reply:

    Boleh. Next traveling gue beliin yah :-*

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p