nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

10 praha pada pandangan pertama

nat to destinesia — Tags: , ,  

I always trust in first impression. Setidaknya, itulah key factor yang saya pakai selama ini untuk menilai setiap kota atau tempat yang baru pertama kali saya datangi. What do I feel at the very first time I step in to one place? Jelas dong perasaan-perasaan itu nantinya akan berkembang seiring dengan lamanya saya ada di tempat itu, tapi kesimpulan umum secara keseluruhan biasanya ga pernah jauh2 dari kesan pertama yang muncul :)

Image about Prague

Sabtu pagi2 berangkat dari apartemen di Berlin. Dengan langkah super mantap. Menuju Praha, ibukota Cekoslovakia. I had no idea what kind of country it would be like.

Sejak dikasih ijin menghirup udara Bumi, ga pernah kepikiran sama sekali akan mampir ke negara ini. Cuma tau Ceko itu jenis2 negara Eropa Timur (baru tau dari Pak Wiki kalo ternyata masuk Eropa Tengah!), dan banyak model cantik Indonesia jaman saya remaja (-_-’) yang blasteran Ceko (Jovanka Mardova, Monica Gunawanova, Monica Oemardi etc). Lainnya, atlet2 renang dan senam Olimpiade nya jago2, tipikal atlet2 dari Eropa Tengah-Timur dan negara2 bekas pecahan Uni Soviet. Itu tokh.

Dari seorang kolega Vietnam yang traveling ke Praha weekend sebelumnya, saya dapat gambaran bahwa Praha itu indah, “Jauh lebih indah ketimbang Berlin,” katanya. Ga langsung ditelan bulat2 sih, karena sebelum2nya sudah banyak “kekacauan informasi” yang saya terima selama berada di Eropa, ga sesuai antara info yang diterima dengan penilaian pribadi setelah melihat atau mengalami sendiri.

4:40 hrs. DB Bahn (regional train). Berlin Hbf – Praha hl.n

Berlin Hbf (Berlin Hauptbahnhof) – Berlin’s main train station

Praha hl.n (Praha Hlavni Nadrazi) – Prague’s main train station

Ga terlalu istimewa pemandangan alam di sisi kanan dan kiri jendela. Ini salah satu “kekacauan info” yang saya maksud. Beberapa kolega Jerman bilang bahwa pemandangan naik kereta ke Praha sangat indah. Oh well… yang ada di kepala waktu dengar itu, saya akan ketemu padang rumput yang luas dengan warna-warni tanaman padang, bukit2 dan gunung di kejauhan, dan sungai sempit panjang berkelok yang airnya bening (Little House on the Prairie banget ya :p ). Otak saya bahkan memaksa menahan kantuk di kereta, karena ga mau melewatkan pemandangan yang katanya indah itu.. haha…

Anyway, yang saya lewati… ternyata masih lebih keren rute kereta Jakarta-Bandung! :) Ada sih beberapa bagian yang bikin saya memekik kecil karena memang indah. Itu waktu melewati sungai yang agak lebar (tapi airnya buram, ga bening); dan satu lagi waktu hampir memasuki kota Praha menyusuri sungai lain yang lebih kecil (airnya burem juga) dengan 1-2 perahu kecil dinaiki orang dan di pinggir2 sungai ada rumah2 mungil  yang cantik.

Pemandangan dari kereta

Pemandangan dari kereta

Praha hl.n. Main train station in Prague

Atapnya rada mirip dengan Berlin Hbf, melengkung setengah lingkaran dengan banyak besi2 metal. Tapi secara umum jauh lebih jelek, dan jorok :) (Berlin Hbf, for your info, yang pertama kali berjasa kasih first impression sangat baik pada saya terhadap Berlin :) )

Saya lapar. Mampir ke salah satu counter makanan di stasiun. 1 Croissant Peanut, dan 1 botol Nestea. Total Kč 122 (Kč ~ Czech Koruna/CZK), kira-kira setara €5. Croissant nya enak. Stafnya… ga bisa berbahasa Inggris. Meh. Dia bertanya dalam bahasa planet Ceko, saya mau Nestea yang rasa apa. “Sorry, I don’t speak Czech,” kata saya. Dan dia menunjuk2 tiga varian Nestea yang berbeda, dengan suara agak kencang (kencang atau pelan juga tetep aja saya ga ngerti sih mba :p )

Ngomong2 soal bahasa, karakter alfabet Ceko beda dengan karakter Latin yang kita kenal. Cara bacanya juga beda. Membingungkan pastinya, untuk pendatang atau turis/traveler yang belum terbiasa :)

Menuju keluar stasiun, saya mengikuti petunjuk dari Hostelworld.com yang sudah saya tulis di notes pusaka saya semalamnya. It was very easy. Petunjuknya benar2 menolong. Ga sekalipun saya bertanya ke orang yang lewat atau Information Center. Ah… Itulah kenapa Hostelworld selalu jadi favorit saya untuk urusan booking backpacking hostel :-*

Main Train Station

Main Train Station

The People

Stasiun Praha hl.n memang tidak begitu bagus. Tapi karena sudah dengar sebelumnya, saya jadi ga kaget2 amat. Yang bikin agak terkesiap adalah, orang2 yang saya lihat di sana. Di stasiun kereta. Di jalan sepanjang menuju halte tram. Di dalam tram. Beda sekali dengan di Jerman.

Di Praha, sepertinya senyum bukan tradisi masyarakatnya (sangat kontras dengan orang Jerman yang sopan2 dan selalu saling melempar senyum kalau berpapasan mata atau ga sengaja bersinggungan badan di jalan). Di Praha, saya lihat banyak orang lokal berpenampilan seperti “preman”, dan lelaki2 yang jalan sendiri ataupun bareng teman2nya yang bisa bikin “antena alert” para wanita refleks terkembang. Bahkan di tram yang saya naiki pertama kali, ada tertulis peringatan “Hati2 dengan barang Anda. Kadang2 ada pickpockets!” :D

Banyak persimpangan jalan yang tidak ada traffic light. Dan… motor bisa lewat dengan kencang, sekejap bikin saya membayangkan Italia. Belum pernah ke Italia sih, tapi dari buku2 yang saya baca dan film2 yang saya tonton, juga dari cerita teman2 yang pernah ke sana, konon Italia “lebih mirip Indonesia ketimbang negara2 Eropa” ;)

Bars in every corner

Bars in every corner

Ini baru Eropa!

Inilah yang bikin saya akhirnya berdecak dan tersenyum. Sudah 2 mingguan di Jerman, rasanya sih masih belum menemukan arsitektur kota yang sekali lihat langsung bikin ngerasa “Aku di Eropa”. Eropa dalam bayangan saya, arsitektur kotanya banyak gedung2 tua abad pertengahan. Dan Praha, cukup mewakili itu ternyata.

Impresi pertama saat melihat gedung2 di Praha, “Soooo Europe!” Desain gedung dan jalan2nya, ala medieval ages. Jalan2 lokal banyak yang terbuat dari bahan bukan aspal (beton), melainkan dari jenis yang mirip conblok (tapi bukan conblok! jauh lebih kuat dari conblok -mungkin dari beton juga?), kotak2 kira-kira seukuran batu bata, disusun sepanjang jalan dan ruang terbuka publik. Seperti yang sering terlihat di film2.

Kastil-kastil terlihat di kejauhan. Bagian puncak kastil, ada yang mirip gereja (bisa jadi juga memang gereja).

Jalan lokal kecil berbelok2

Jalan lokal kecil berbelok2

Jalan2nya berkontur (perlu energi lebih untuk walking tour), ga terlalu lebar, dan berbelok2. Dari sebagian jalan yang lurus dan panjang, nun jauh di ujungnya kelihatan bagian kota yang lebih tinggi dengan rumah2 permukiman. Bayangin kalau lagi di Dago Pakar atau Lembang, kita bisa lihat kota Bandung di kejauhan, mirip seperti itulah, tapi ini ngeliatnya dari jalan yang di kiri kanannya gedung2 tinggi apartemen berarsitektur klasik… asyik kan? :)

Wenceslas Square
Wenceslas Square

In a way, I like Prague. Kotanya. Orang2nya… well… mungkin perlu waktu lebih banyak untuk berinteraksi dan terbiasa dengan orang lokal. Untuk ini ga bisa berharap terlalu banyak sih, karena saya hanya melewatkan akhir pekan di Praha.

Toh, pandangan pada hari pertama sangat berkesan. Tapi… berhubung alarm “waspada” belum hilang sejak menginjakkan kaki di Praha dan alarm itu selalu berbunyi tiap kali berpapasan dengan orang lokal di jalan, maka saya memutuskan untuk pulang tidak terlalu larut malam ke penginapan. Belum lagi jam 9 malam, saya sudah pulang. Tapi sudah mulai gelap sih itu juga.

Di hari kedua Minggu nya, ada 6 jam lebih waktu untuk saya mengeksplor dan mengenali Kota Praha. More stories coming shortly about how much the beautiful city could impress me. Would it be a heavenly place for a weekend away? ;)

10 Comments »

  1. DM says:

    Huhuhu. Menyimak catatan perjalanan dan foto-fotomu, kau selalu membuat orang iri…

    [Reply]

    Peanut Reply:

    Dan kau membuatku iri mengubek tuntas Tibet mu. Huh. :p

    [Reply]

  2. Yoga says:

    @ Lia:- perjalanan tahun ini hebat ya Li :) Keep post it dear. :)

    @DM:- sejak kapan kamu iri-an? :p

    [Reply]

    Peanut Reply:

    As you might already know me pretty well, keep on to writing is merely hard to me. Maybe I should take the “Hukum 90 Hari” :D #menguap

    [Reply]

  3. Sakti says:

    Mohon info dong. Kalau saya dari bandara di praha, mau ke stasiun terdekat naik apa ya? kira2 berapa? lalu, apa bisa saya naik kereta ke Dresden dari praha tanpa booking tiket terlebih dahulu? kira2 harganya berapa? lalu menurut anda apakah memungkinkan jalan2 kota dresden hanya 7 jam saja? Kira2 sebaiknya ke objek apa kalau hanya 7 jam di dresden? terimakasih banyak.

    [Reply]

    Peanut Reply:

    Belum pernah ke Bandara di Praha, tapi mestinya banyak bus dari bandara ke kota.
    Untuk tiket kereta rute kemanapun bisa dibeli go show, asal ga penuh aja. Kemarin ke Praha saya go show dari Berlin Hbf. Tapi bagusnya kalau beli jauh2 hari, harga lebih murah. Semakin mepet belinya, semakin mahal. Mending cek aja di http://www.bahn.com

    Dresden itu kota historical, banyak sekali site bersejarah yang bagus. Saya pribadi, kalau cuma punya sedikit waktu untuk traveling di satu kota, prefer ikut sightseeing city tour. Banyak pilihan tur dan relatif ga mahal kok, malah kadang ada aja free walking tour, coba aja googling. Kenapa rekomen city tour, karena sangat compact dan pas untuk mendapat gambaran kota secara menyeluruh dalam waktu yang singkat. Tapi kalau mau jalan sendiri ya bisa aja. So sedikit info, Dresden itu “terbagi” dua, Altstadt (Old City) dan Neustadt (New City). Di Altstadt ada Frauenkirche, Semperoper dll banyak banget. Langsung aja koprol ya ke http://www.dresden.de Good luck! :)

    [Reply]

  4. Airlambang says:

    Lia pasti sedikit selip di ejaan, ya? Praha (Prague) saat kamu sambangi dan langsung menyambutmu ramah telah hampir 20 tahun tak lagi menjadi ibukota bagi Czechoslovakia. Negara ini terbelah setelah Revolusi Velvet 1989. Lia pasti mengetahuinya. Sekadar keselip di keyboard atau tuts saja. Secara otomatis menulis Czechoslovakia. Maklum, sebagai anak era 1970an lebih mengenal nama ini. Seperti korban konflik selalu menyebut kata “konflik berkepanjangan” dalam satu frasa.

    Perjalanan yang menyenangkan.

    [Reply]

    Peanut Reply:

    Voila! Lama tak update blog, baru sadar ini belum dibalas. The truth about the “Czechoslovakia-thing” was, sadly, that wasn’t “typo”. Tapi, waktu menuliskan posting itu saya ragu apa nama resmi Czech Republic dalam Bahasa Indonesia. Apa Ceko saja, atau masih Cekoslowakia, atau Cekoslovakia? Sudah menyempatkan diri wikipedi-ing sebetulnya, yet still, I missed those pinpoints, eh? :grin:

    Big thanks for the correction, Airlambang! :wink:

    [Reply]

  5. Koko says:

    Wah… nampak cantik tempat-tempat ni… serius rasa best.. nak pergi je rasanya! huhuhu

    [Reply]

    pinat Reply:

    Betul cantik Praha tu… Ke sanalah bertandang bila ada waktu :wink:

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p