nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 dilahirkan untuk beruntung

nat to jurnal — Tags:  

Perbincangan dengan CEO beberapa waktu lalu rupanya cukup membekas dan membuat saya merasa kerdil, berpikir bahwa sebagian kecil orang di dunia memang dilahirkan untuk menjadi beruntung, dan saya tidak termasuk golongan orang-orang beruntung itu.

Tentu saja, seperti orang-orang lain di dunia, saya pun “beruntung” untuk bisa menikmati hal-hal umum seperti bernapas, kerja, punya sahabat, cinta dsb, tapi tidak untuk kesuksesan harta dan tahta yang besar seperti yang dimiliki sebagian kecil orang beruntung tadi.

CEO yang bercerita itu, mengaku dulunya “bukan siapa-siapa”. Keberuntungan menghampiri hidupnya ketika di bangku kuliah ia berteman baik dengan seorang teman, yang belakangan diketahui ternyata anak seseorang yang berasal dari keluarga kaya raya. Kedekatannya dengan keluarga kaya raya itulah yang kemudian mengubah hidupnya, membuatnya menjadi seperti sekarang.

Beberapa kali CEO yang masih muda itu mengulang-ulang dan menegaskan, “Kuncinya adalah cari teman yang tepat.” Maksudnya, dia beruntung berteman dengan anak orang kaya.

Biasanya, sehabis ngobrol dengan orang-orang “besar”, ada motivasi dan dorongan kuat yang bergerak di benak saya. Menyuntikkan semangat ke dalam urat nadi saya dan mengingatkan to never give up hope in life. Tapi kali itu, tidak. Yang ada justru seperti jurang yang dalam dan terlalu jauh memisahkan saya -an ordinary person, dengan beliau, the lucky one.

Beberapa hari saya masih menyimpan perbincangan itu, sebelum membagikannya ke seorang mentor kehidupan saya.

Dan saya bersyukur diingatkan lagi oleh mentor ini, diajak untuk menjejakkan kaki kembali ke bumi, disuntikkan lagi motivasi semangat.

Tidak ada yang namanya “keberuntungan”, karena semua orang di dunia, tanpa kecuali, dilahirkan untuk beruntung. Manusialah yang menentukan sendiri jalan hidupnya dan menciptakan keberuntungan-keberuntungan dalam jalan hidupnya, bagaimanapun circumstances yang diberikan oleh alam (atau Tuhan; bagi yang beragama -red) kepadanya.

Betul kita tidak selalu bisa menentukan siapa saja orang-orang yang akan hadir dalam hidup kita, apakah konglomerat, presiden suatu negara, atau orang miskin papah, pendeta dan lain-lain. Tapi kita bisa menciptakan reaksi dan sikap bagaimana yang harus kita tampilkan saat berhadapan dan berinteraksi dengan mereka. Itulah jalan yang menentukan akan jadi seperti apa kita bertahun-tahun kemudian.

CEO itu mungkin memang tidak pernah meminta kepada Tuhan dan tidak pernah menyangka salah satu temannya adalah anak seorang kaya berat di negeri ini, yang punya kerajaan bisnis dengan kekayaan tak habis tujuh turunan.

Tapi saya kemudian melihat, bahwa sangat mungkin, caranya membawakan diri dan bergaul, caranya berkomunikasi dengan pemikiran-pemikiran yang dimilikinya, pengetahuannya dan kepeduliannya akan hal-hal tertentu yang mungkin agak berbeda dibanding orang rata-rata pada umumnya, itu semua mungkin yang membuat si anak orang kaya itu tertarik untuk dekat dengannya. Dan itu pula mungkin yang kemudian membuatnya bisa dengan baik diterima di keluarga kaya itu.

Dia beruntung bertemu dengan anak orang kaya, ya betul. Tapi bukan keberuntungan itu yang membuatnya sukses dan dipercaya masuk di perusahaan bisnis si orang kaya. Usahanya, perjuangannya, proses pembelajaran hidup yang dijalaninya, itulah yang membuatnya ada di tempat ia memimpin sekarang.

Dalam suatu wawancara, seorang entrepreneur pernah membagikan kata bijak kepada saya dan pendengar, “Keberuntungan adalah, ketika persiapan bertemu dengan kesempatan.”

Tanpa usaha dan persiapan, tidak akan pernah terjadi keberuntungan.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p