nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

4 kembali ke kelas bahasa

nat to jurnal — Tags:  

Kerjakan sesuatu yang menjadi passion Anda. Akrab ya dengan wejangan bijak itu? Passion Anda apa gitu?
Saya, salah satunya Bahasa. Ya, bahasa adalah satu diantara sedikit passion yang berhasil saya kenali tumbuh dalam diri saya. Itu mungkin satu-satunya kelas formal yang berani saya masuki dengan kepala tegak, mengabaikan gap usia yang semakin jauh antara saya dengan murid2 lain di kelas. Ga tau malu? Atau berasa sok muda sendiri? Ouch.
Anyway, kembali ke Goethe Klasse setelah mengambil private class selama 1 term dan postponed di 1 term berikutnya (1 term @ 3bulan -Red), membuat saya sangat ketinggalan. Praktis, 3 bulan sudah buku ga pernah saya sentuh, apalagi buka.
Pertemuan pertama saja, der Lehrer (Guru; pria -Red) sudah full berkomunikasi dalam bahasa Jerman. Giliran diminta menjelaskan dari kelas mana sebelumnya, saya satu2nya murid yang menjawab dalam bahasa Indonesia (which is haram!). Duh, sesaat saya merasa jadi orang paling bego di kelas, dan sesaatnya itu agak lama. Thank God kemudian ada murid SMA yang telat masuk dan menurut saya dia sedikit lebih parah dari saya (consider that she didn’t take a leave of class in previous term :grin: ) *PuasMode: ON
Untungnya, saya masih bisa paham tiap kali si Guru bicara. Yah serba meraba-rabalah seperti kalau mendengarkan orang bicara bahasa Inggris, cuman bedanya bahasa Jerman ini jauh lebih harus diraba-raba… #apasih
Pernah dengar kan orang bilang belajar bahasa itu susah? Atau Anda pun pikir emang susah? Well, sebetulnya sih tidak, at least in beginner classes. Catat, yang saya maksud di sini belajar bahasa di kelas formal ya, bukan otodidak seperti yang banyak orang Indo juga bisa lakukan karena sering gaul dengan bule2 non-Amerika. So belajar formal itu seperti di Goethe-Institut untuk bahasa Jerman, CCF untuk Perancis, Erasmus Huis untuk Belanda, atau kelas2 bahasa lain seperti yang dibuka di UI dan tempat2 les lain.
Asal rajin ikut kelas saja, rajin bikin PR, mestinya sih paling tidak setiap ujian pasti akan lolos. Apalagi kalau ditambah dengan rajin belajar di rumah, wah itu gejala “orang pintar”, siap2 naik kelas dengan predikat “Outstanding” di sertifikat kelulusan :wink:
However, saat ini saya memang bisa dibilang “tersangka” dengan urutan paling bontot di kelas. Tak apa. Dengan sedikit perubahan tujuan & target mengikuti kelas bahasa ini, meninggalkan keinginan untuk “sukses dengan instan” dan menggantinya dengan tujuan jangka panjang “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”, I know I’ll get through this anyway. Chayoo!!

Kerjakan sesuatu yang menjadi passion Anda. Akrab ya dengan wejangan bijak itu? Passion Anda apa gitu?

Saya, salah satunya Bahasa. Ya, bahasa adalah satu diantara sedikit passion yang berhasil saya kenali tumbuh dalam diri saya. Itu mungkin satu-satunya kelas formal yang berani saya masuki dengan kepala tegak, mengabaikan gap usia yang semakin jauh antara saya dengan murid-murid lain di kelas. Gak tahu malu? Atau berasa sok muda sendiri? *ouch*

Anyway, kembali ke Goethe Klasse setelah mengambil private class selama 1 term dan postponed di term berikutnya (1 term terdiri dari 3 bulan), membuat saya sangat ketinggalan. Praktis, tiga bulan sudah buku gak pernah saya sentuh, apalagi buka.

Pertemuan pertama saja, der Lehrer (guru laki-laki) sudah full berkomunikasi dalam bahasa Jerman. Giliran diminta menjelaskan dari kelas mana sebelumnya, saya satu-satunya murid yang menjawab dalam bahasa Indonesia (which is haram!). Duh. Sesaat saya merasa jadi orang paling bego di kelas, dan sesaatnya itu agak lama. Thank God kemudian ada murid SMA yang telat masuk dan menurut saya dia sedikit lebih parah dari saya–consider that she didn’t take a leave of class in previous term :grin:

Untungnya, saya masih bisa paham tiap kali si Guru bicara. Yah serba meraba-rabalah seperti kalau mendengarkan orang bicara Bahasa Inggris, cuman bedanya bahasa Jerman ini jauh lebih harus diraba-raba… hehe…

Pernah dengar kan orang bilang belajar bahasa itu susah? Atau Anda pun pikir itu memang susah? Hmh.. sebetulnya sih tidak. At least in beginner classes. Catat, yang saya maksud di sini belajar bahasa di kelas formal, bukan otodidak seperti yang banyak orang Indonesia juga bisa lakukan karena sering gaul dengan bule-bule non-Amerika. Belajar formal itu termasuk di Goethe-Institut untuk bahasa Jerman, CCF untuk Perancis, Erasmus Huis untuk Belanda, atau kelas-kelas bahasa lain seperti yang dibuka di UI atau tempat-tempat les lain.

Asal rajin ikut kelas saja, rajin bikin PR, mestinya sih paling tidak setiap ujian pasti akan lolos. Apalagi kalau ditambah dengan rajin belajar di rumah, wah itu gejala “orang pintar”, siap-siap naik kelas dengan predikat “outstanding” di sertifikat kelulusan (seperti saya–haha) :wink:

Bagaimanapun juga, saat ini saya memang bisa dibilang si urutan paling bontot di kelas. Tak apa. Dengan sedikit perubahan tujuan dan target mengikuti kelas bahasa ini, meninggalkan keinginan untuk “sukses dengan instan” dan menggantinya dengan tujuan jangka panjang “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”, I know I’ll get through this anyway. Chayoo!!

4 Comments »

  1. mangkum says:

    salut sama orang yang terus belajar…

    [Reply]

    Peanut Reply:

    hehehe… cuman karna suka aja kok mang O:)

    [Reply]

  2. dede says:

    saya suka postingan ini… Jadi mau belajar bahasa lagi nih :’(

    [Reply]

    pinat Reply:

    Dan apa yang membuatnya tertunda?

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p