nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

6 nama kedua yang tak terlupakan

nat to jurnal — Tags: ,  

Kalau sebelumnya saya sudah cerita tentang nama guru pertama yang masih saya ingat adalah Ibu Malau, sekarang saya akan ceritakan nama guru kedua yang ga pernah ilang dari ingatan… Here we go.

Bpk Pardosi. Guru Bahasa Inggris saya selama SD, tepatnya dari kelas 4-6 SD. Tidak seperti sekarang, jaman dulu Bahasa Inggris masih belum banyak diajarkan di sekolah2 dasar. Hanya sekolah2 tertentu yang sudah mulai mengajarkannya.

Waktu saya pindah ke SD Katolik di kelas 4, kebetulan pada tahun ajaran yang sama mata pelajaran Bahasa Inggris baru dibuka di sekolah itu.

Mungkin saya orang yang paling berbahagia pas tahu akan mendapat pelajaran Bahasa Inggris di kelas 4. Ini juga sih yang bikin saya agak ikhlas pindah sekolah, karena di sekolah yang lama belum ada mata pelajaran yang satu ini.

Fyi, Ibu saya tercinta adalah seorang guru Bahasa Inggris. Beliau mengajar di SMP swasta di dekat rumah kami di Medan.

Sejak kecil, Ibu sudah mengakrabkan kami anak2nya dengan Bahasa Inggris, tapi memang yang paling semangat dibandingkan adik2 sepertinya saya sih (like usual, hehe). Ibu yang hobi menyanyi (suara soprannya indah sekali dan paling bagus di keluarga kami, next time saya cerita juga deh), kerap mengajarkan bahasa Inggris dengan cara sambil bernyanyi.

Kebiasaan setelah saya dimandikan Ibu sore2, kelar cebar-cebur dari kamar mandi saya dibawa naik ke tempat tidur untuk pakai baju, lalu saya pasti berdiri loncat2 di tempat tidur sambil nyanyi2 lagu favorit kami “Twinkle Twinkle Little Star” atau “My Bonnie”… haha… atau sekadar menyanyikan abjad “ABCD” dalam bahasa Inggris :D

Tiada hari tanpa Bahasa Inggris, meskipun yang basic-basic saja. Secara natural, dari situlah tumbuh rasa suka yang dalam pada bahasa bangsa Yankee.

Waktu kelas 4 SD, begitu tau kami akan mendapat pelajaran Bahasa Inggris, jauh2 hari saya sudah persiapkan buku tulis yang bagus lengkap dengan sampul plastik bercorak yang paling keren dari semua buku tulis yang saya punya. Believe it or not, saya masih ingat yang mana cover buku kesayangan itu.

Yang lucu, saat hari pertama pelajaran Bahasa Inggris, kami diberitahu doa ‘Bapa Kami’ versi bahasa Inggris (seperti di sekolah Katolik lain, setiap kali memulai dan mengakhiri kelas, murid2 berdiri serentak memberi salam hormat kepada guru lalu sama2 membaca doa ‘Bapa Kami’).

Nah, pulang sekolah saat dijemput Bapak & Ibu (awal2nya doang kok diantar jemput, kesana2nya saya jalan kaki dari rumah ke sekolah motong jalan lewat gang2 tikus), di mobil saya pamer menghafalkan doa itu:

“Our Father in Heaven, Thou Kingdom Come, Thou Will be Done, in Earth as it is in Heaven… blablabla…”

Hahaha… childhood is indeed beautiful times, no?

Tapi bukan karena itu saya ingat terus nama Pak Pardosi, guru Bhs Inggris itu.

Suatu kali dia suruh kami mempelajari salah satu conversation di buku pelajaran. Baca dalam hati, kalau ada pertanyaan tunjuk tangan, katanya. “Nanti saya akan tanya maksud percakapannya, kalau ada yang ga bisa jawab, saya pukul jarinya pake penghapus papan tulis,” begitu warning si Bapak. Well… aturan yang aneh memang tapi… begitulah…

Saya mempelajari conversation itu, dan… tidak bertanya apa2 (karna merasa sudah cukup tau? Haha)

Ketika habis waktunya untuk belajar sendiri, Pak Guru menghampiri saya.

Di teks percakapan itu ada kata2 “Here you are…”. Dia bertanya pada saya apa arti frase itu. Saya jawab aja berdasarkan logika waktu itu, “Di sini kamu…” :worried:

Dan Pak Guru mengangkat paksa sebelah tangan saya, menguncupkan jari2 tangan saya, lalu memukulkan penghapus papan tulis dari kayu yang cukup keras itu ke jari2 tangan saya. Ugh. Sakit. Tapi waktu itu saya ga ngerti apa yang salah.

Lalu Pak Guru bilang, “Tadi kan sudah saya kasih kesempatan untuk bertanya kalau ada yang kamu tidak tahu.”

Dalam hati saya cuman ngomong sendiri, “Ya kan saya ngga mikir kalo saya ga tahu. Kalo masalah salah atau benar ya lain lagi…” Hahaha… dasar bandel dan sok tahu ieu mah.

Rupanya, arti frase “here you are” itu adalah  “ini untukmu”. Baiklah. Itu frase unik pertama yang terus menempel di kepala saya sampai sekarang :grin:

Anyway… saya ga marah dan sakit hati sih sama si Bapak. Cuman aja kejadian itu menjadi salah satu dari sedikit momen masa2 SD yang masih membekas di benak saya, dan suka ketawa kalo kebetulan mengingatnya. Bapak Pardosi. Itu nama yang kedua :)

6 Comments »

  1. Hery Azwan says:

    Gara2 dihukum itu, pasti ingatanmu tentang Here You Are akan ngelotok terus kan?

    [Reply]

    Peanut Reply:

    Super correct! :grin:

    [Reply]

  2. hahahah…

    Horas dululah..
    Ada satu cerita yg bagi saya lucu (seingat saya pernah saya posting juga di blog). Di Kampung kami disalah satu desa pedalaman di sumatera utara (Doloksanggul namanya), bahasa inggris itu baru diajarkan kelas 1 SMP. Nah pertengahan kelas 1 SMp saya memutuskan untuk menerima tawaran merantau ke surabaya ngikut Inangtua.

    Ehm, direktur SMP kami, SMP SRO menyayangkan saya kok mau pergi, “Kamu khan berpeluang dapat beasiswa disini.. bla bla bla..!” dan saya tetap tak bergeming. Aku memilih Surabaya..

    Merasa tidak mampu menahan saya lagi, ketika upacara hari senin (saya masih masuk) Pak Direktur kami berpidato (sambutan):
    “…. dimana-mana sekolah itu sama saja, yang penting niat kita, (makasih Pak dalam hati saya),
    Disini sama.. di medan sama, di surabaya pun sama..! Disini bahasa inggrisnya satu itu wan (one), kalo di surabaya emangnya apa?” <–ada kesan saya merasa disindir..

    Spontan seluruh murid menjawab.. "waaaannnn….." aku ketawa saja..
    bandit™perantau´s last blog ..Dia ibuku..! -fiksimini- My ComLuv Profile

    [Reply]

  3. Peanut says:

    huahahahahaha… segitu pentingnya kah dirimu ‘ndit sampai sampe si Direktur ga rela melepas kau pergi :grin:

    if only he knew what u would end up to be ya waktu itu :wink:

    [Reply]

  4. Hery Azwan says:

    Menarik membaca komen bandit perantau. Boleh jadi bandit saat itu murid paling pintar di sana, jadi sekolah merasa kehilangan, terutama saat lomba cerdas cermat gak ada yang bisa mewakili. He he….
    Hery Azwan´s last blog ..Mengapa Rama Harus Bohong My ComLuv Profile

    [Reply]

    Peanut Reply:

    tampaknya begitu bang. kalau bisa menahan keknya si kepsek itu juga mau nahan tuh, apa daya Surabaya lebih menarik :wink:

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p