nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 hari sahabatku

nat to jurnal — Tags: ,  

7 Mei.

Sekarang tanggal itu sudah otomatis tersimpan di memori otak saya. Ndak akan lewat lagi deh dijamin (insyaallah…) O:)

Itu hari besarnya seorang sahabat, menurut kalender Masehi.

Honestly, saya terlalu tidak perduli selama ini sebelumnya sampai selalu menunda2 hingga lupa menyimpan tanggal itu di alarm saya. Untuk seorang “pelupa-awal” (yang kadang kurang ajar) seperti saya, saya memang selalu membutuhkan bantuan alat2 tulis seperti notes kecil untuk daftar belanjaan dan alarm hp untuk daftar hari2 penting yang harus saya ingat sepanjang tahun. Pelupa-awal maksudnya, saya cenderung sulit mengingat sesuatu yang belum rutin saya lakukan. Tapi kalau sudah beberapa kali atau rutin, insyaallah sih ingat terus (bukannya semua orang juga gitu ya, kalo udah rutin pasti ingat).

Ditambahin predikat ‘kurang ajar’ karena, sudah tau pelupa, tapi masih suka menunda2 menulis sesuatu yang penting, jadi pas kejadian suka missed beneran :-*

Sahabat ini, orangnya unik. If I could say so. Ok dia perhatian, banyak orang lain juga perhatian. Dia setia kawan, yang lain juga ada yang setia kawan. Dia sensitif sometimes a bit over, orang lain banyak yang sensitif bahkan yang lebih sensitif dari dia. A bit protective ke orang2 yang dia sayangi meski tanpa dia sadari, yang lain juga banyak yang protektif.

Yang saya temukan berbeda di sahabat ini, paling tidak dari sekian orang yang pernah saya kenal selama ini, adalah: dia berusaha memperbaiki konflik hubungan. Dan itu, belum pernah terjadi di hidup saya (kesyan deh gw, haha).

Dalam sejarah hidup saya, for some reasons which I don’t know what, sepertinya saya selalu berdekatan dengan orang2 yang menganggap bahwa “ga semuanya perlu dibicarakan”. Yang kadang2 (or mostly happen) batasan “ga semuanya” itu jadi kabur antara mana yang penting dan mana yang tidak penting untuk dibicarakan. Dampaknya, sering kali bibit2 konflik jadi tak terselesaikan dengan tuntas.

Saya pikir itu karena saya berhadapan dengan laki-laki, yang notabene way of thinking-nya berbeda jauh dengan perempuan.

So belajar dari pengalaman konflik dengan sahabat pria bertahun2 lalu, saya biasakan diri untuk tidak lagi terlalu mengejar penyelesaian suatu konflik dengan cara “harus dibicarakan sama2″. Karena belum tentu itu yang mereka mau. Dan kalau mereka menunjukkan tanda2 seperti tidak mau membicarakan sesuatu, that’s it, mereka tidak mau. Karena prinsipnya adalah: pria akan melakukan/membicarakan apa saja, jika mereka mau. So kalau mereka tidak melakukan/membicarakan, berarti mereka memang tidak mau. Katanya sih… ini hukum laki-laki yang berlaku dimanapun dan kapanpun.

Itu membuat saya jadi lebih berpikir “oo yowis gpp terserah aja maunya gimana..” Itupun cuman ngomong dalam hati. Di luar hati, saya lebih sering memilih diam dan tidak lagi membicarakan atau menyinggung apa2. Tinggal menilai sendiri, kalau itu baik buat saya, saya akan biasa2 aja ke mereka. Kalau tidak baik, saya menghindar pelan2 atau menghilang secara drastis :grin:

Anyway… balik ke teman saya tadi. Kami pernah konflik. Actually there’s nothing so wrong with conflicts, we can never avoid conflicts as we live closer one to another.

Tapi yang saya respek darinya, dia datang dan membicarakan. Ga begitu mudah saya cerna sebetulnya, mungkin karena agak tidak menyangka sebab konfliknya sendiri sudah cukup lama. Baru setelahnya, saya bisa berpikir dan recall lagi semuanya.

Intinya, dia datang dan membicarakan. Itu sudah cukup untuk mengetahui niat baiknya.

People make mistakes. I make mistakes. You make mistakes. But only a few of people want to fix the mistakes.

Untuk sahabat saya itu, yang paling saya inginkan adalah dia sehat sampai selamanya.

2 Comments »

  1. hm…
    ya..
    tak banyak org seperti itu. Entah dengan hubungan teman laki-laki sama cewek,
    sehari-hari saya dan sesama teman kantor (yg notabene) kebanyakan laki-laki) sering terjadi kress..
    Tapi kebanyakan dari kress itu kami selesaikan bukan dgn membicarakannya, tapi dgn “membicarakannya” di lapangan futsal..
    Ah, itulah istimewanya kami, kalo sudah berlarian dilapangan, berkeringat, mengejar bola.. seakan-akan kita lupa kress” yg tadi. Sehabis futsal serasa konflik itu sudah sirna. Terasa sirna saat kita berbagi minum..,.
    bandit™perantau´s last blog ..Dia ibuku..! -fiksimini- My ComLuv Profile

    [Reply]

  2. Peanut says:

    hahaha… typical. ga semua kress perlu “diselesaikan” ya, ‘ndit? setuju juga. sometimes we too sweat small things a lot ya :P

    thanks for coming :)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p