Posting pertama di tahun 2010. Alhamdulillah…
Terinspirasi dari twits yang muncul di timeline saya waktu Hardiknas 3 hari lalu. Ga banyak twits yang masuk tentang Hardiknas. Tapi ada satu yang cukup shocking. Twit dari @heryazwan, the man who’s in search in wisdom.
Selamat Hari Pendidikan. Semoga kemuliaan dilimpahkan utk P Subarman yg mengajarku abjad, P Tarmin dan P Isriyadi yg mengajariku alif ba ta.
Bapak satu ini kewl sekali. Dia masih ingat nama2 guru yang dulu pernah mengajarnya.
Well… bukannya mau bilang saya bejat2 amat sih, tapi gara-gara baca twits itu saya jadi berusaha mengingat2 siapa saja nama2 guru yang masih nempel di kepala. Yang muncul cuman tiga nama. Amazing
A little bit depressed, karena ketiga nama itu semuanya adalah guru2 yang pernah “bermasalah” dengan saya, pada masanya dulu pernah sangat saya benci karena sesuatu hal. Mari kita list satu per satu.
Ibu Malau. Ini guru saya di kelas 4 SD. Waktu itu saya belum lama pindah dari sekolah umum ke sekolah Katolik. FYI, saya melewatkan masa2 indah selama kelas 1-3 SD di sekolah umum. Lalu mulai kelas 4-6 SD saya dipindah oleh Ibu ke sekolah Katolik, dengan maksud supaya anaknya ini mendapat lebih banyak pelajaran agama
Nah… Ibu Malau adalah wali kelas saya di kelas 4.
Suatu kali kami dikasih PR mengarang bebas.
Saya sudah terbiasa dengan tugas mengarang sebelumnya, dan suka. Tapi kali itu, saya ingin menulis sesuatu yang tidak biasa. Selama ini kan kebanyakan karangan anak sekolah, kalau bukan tentang perjalanan liburan ke kampung halaman, paling2 tentang cita-cita, atau aktivitas sehari2 sepanjang minggu. Itupun ditulis dengan gaya bercerita monolog. Saya, ingin memasukkan percakapan berupa kalimat2 langsung dalam tulisan nantinya. Saya pun cari2 ide sebelumnya .
Akhirnya ketemu juga dengan si ide. Inspirasi datang saat nonton film serial di TVRI. Lupa namanya, tapi rasanya cukup terkenal juga di era 1980-an itu, meski masih lebih terkenal “Rumah Masa Depan”-nya Dede Yusuf & Dessy Ratnasari kala itu (tuh sampai judulnya aja saya masih ingat).
Film serial itu bercerita tentang kehidupan para warga transmigran asal Jawa yang pindah ke… Sumatera kalau ga salah.
Di saat yang sama, saya juga lihat di TV ada iklan layanan masyarakat tentang KB Lingkaran Biru. Kalau ada rekan sejawat yang seumuran, mungkin masih ingat iklan itu
Aha. Tema untuk tulisan saya adalah: Keluarga Kecil Bahagia yang mengikuti program KB Pemerintah. Masih ingat gimana saya senyum2 sendiri dan kerling di mata rasanya berbinar2, waktu ide itu muncul di kepala, “Lia tau mau nulis apa dan bagaimana nanti akhir ceritanya,” hati bergumam.
Tulisan beberapa halaman kelar tak terasa. Saya menunjukkan hasilnya ke Ibu (mami, saya manggilnya), tetap dengan senyum terkembang. Yakin soalnya, Ibu pasti memuji tulisan saya yang oke itu. Well honey… kalaupun tidak oke, pasti juga akan dipuji, karena kamu punya Ibu yang baik
Esoknya, saya ke sekolah dengan semangat 45. Berharap tulisan saya akan dibacakan di depan kelas (tuh saking pede nya)
Berhubung sekelas kami ada 68 siswa, Ibu Guru hanya meminta 2 karya tulis yang dibacakan di depan kelas. Saya crossing finger. Voila. Nama saya dipanggil untuk giliran kedua. Giliran pertama, teman sebangku saya.
Selesai saya bacakan di depan kelas, saya kembali ke bangku dan siap mendengar komentar Bu Guru.
Menit2 berikutnya serasa seperti di sidang pengadilan neraka. Bu Guru bertanya, “Siapa yang bikin tulisan ini?” Saya ga mengerti kemana arah pertanyaannya. Bu Guru mengulang, “Ini kamu menjiplak kan?” Dor.
Bu Guru beralih ke teman sebangku saya, “Tugasmu ini juga jiplak kan?” Mengejutkan, karena teman saya itu mengakuinya. Diambil dari buku pelajaran lain katanya.
Bu Guru yang selalu tampil dengan rambut disanggul itu balik ke arah saya, yang semakin tampak bingung dan ga percaya dengan apa yang terjadi. “Teman kamu ini aja ngaku. Saya bisa membedakan mana karya yang asli, mana yang diambil dari buku lain. Dari buku mana kamu ambil?”
Saya keukeuh dengan argumen saya. Saya ceritakan inspirasi awal datang waktu nonton film TV, tapi jelas banget cerita apalagi kalimat2nya berbeda, bahkan tema KB pun diambil setelah melihat iklan layanan masyarakat, yang durasinya ga lebih dari 60 detik itu. Kalau dia nonton TV, seharusnya dia tau.
Si Bu Guru akhirnya memang tetap memberikan ponten (nilai) untuk saya. Tapi kelihatan sekali dia sangat berat menggoreskan angka 80 di lembar tugas saya. Tapi statement closing nya lah yang kedengaran sangat menyakitkan, “Okelah kalau kau bilang begitu. saya kasih 80. tapi cuman kaulah yang tau itu memang benar kau yang buat atau bukan. karena untuk sekelas kalian, ga ada lah tugas karangan seperti ini.” Dan dia melepaskan kertas tugas saya itu dengan wajah tak sedap dipandang.
Dengan wajah ditahan2, hati saya cuma bergumam, “karena saya berbeda dengan yang lain. karena di sekolah yang lama, guru2 kami mengajarkan kami untuk berimajinasi dan kreatif. di sekolah yang lama, guru2 kami selalu memuji hasil2 karya kami. jangan samakan saya dengan murid2 di sini.”
Kecewa. Sakit hati. Marah. Tapi yang lebih2 adalah, malu yang tak tertahankan. Seisi kelas jelas lebih percaya guru itu daripada saya. Bahkan teman sebangku sialan yang menjiplak itu pun, menganggap saya menjiplak sama seperti dirinya (heran deh, ngapain juga mesti jiplak segala?).
Saya pulang dengan gundah dan menceritakan semua ke Ibu di rumah, gusar sekali dan hampir mau nangis.
Sejak hari itu, nama guru itu terus terpatri kaku di hati saya. Guru pertama yang saya benci. Kejadian yang terlalu membekas itu bahkan sepertinya jadi salah satu faktor kenapa saya pun ga pernah suka dengan sekolah itu, sebagaimanapun disiplin dan ketatnya sekolah itu. Ga pernah saya merasa punya sense of belonging terhadap sekolah itu.
Ibu Malau. Nama pertama yang tak terlupakan.
Dua nama yang lain, di posting lain aja, karena ini sudah kepanjangan
~peanut~

