nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 cuti tahunan di malaysia

Selain cuti hari raya, cuti tahunan adalah cuti yang paling ditunggu2 dan dipersiapkan oleh kebanyakan karyawan.

Masing-masing karyawan juga punya target berbeda untuk menggunakan jatah cutinya. Bisa dihabiskan dalam satu waktu sekaligus, atau dipecah-pecah ke dalam beberapa waktu terpisah. Ada pula yang saking getolnya kerja atau karena alasan tidak punya pilihan, sama sekali tidak mengambil hak cuti sepanjang tahun.

Padahal, mengambil cuti sesungguhnya sangat penting. Menurut Jamil Azzaini, narasumber saya di acara radio Life Excellence, jatah cuti lebih tepat dikatakan “kewajiban” setiap karyawan, bukan semata “hak”. Kinerja seorang karyawan yang bekerja terus-menerus sepanjang waktu tanpa mengambil waktu untuk rileks dan melakukan pitstop (berkontemplasi), cenderung akan lebih buruk dibandingkan jika karyawan itu mengambil cuti di tengah-tengah masa bekerjanya.

Bahkan, kata Jamil, manajer perusahaan harus curiga jika ada anak buahnya yang tidak pernah mau mengambil cuti. Bisa jadi anak buah itu tidak mau meninggalkan pekerjaan dan mengalihkan sementara tanggung jawabnya kepada rekan kerja lain atau atasannya karena ada “apa-apa” yang disembunyikan dari pekerjaannya itu yang tidak ingin diketahui orang lain. Hmm… terdengar seperti praduga yang terlalu jauh, tapi tak apa lah.

Untuk alasan itu pula (selain karena memang sudah harot pengen traveling setelah sekian lama menjaga kota Jakarta tercinta), saya mengambil cuti persis di penghujung bulan terakhir tahun ini. Tepatnya, pekan lalu.

Ini adalah jatah cuti tahunan pertama yang saya ambil untuk periode 2009-2010. Sebelumnya, saya hanya sempat mengambil cuti satu hari di tengah-tengah minggu bulan Nopember kemarin, itupun karena ada urusan non-kantor yang harus saya kerjakan.

Lalu kemanakah saya menghabiskan cuti tahunan kali ini?

Eye on Malaysia: kok kaya di Belanda

Well, sejak pertama kali berhasil memaksakan diri pergi ke luar negeri pada pertengahan 2007 silam (telat banget ya), saya tautkan kuat-kuat tekad dalam hati untuk meluangkan waktu pergi traveling ke luar negeri minimal satu kali setiap tahun.

Negeri jiran adalah yang beruntung pertama kali saya kunjungi, dan Kuala Lumpur LCCT adalah bandara asing tempat pertama kali saya menjejakkan kaki :wink:

Perjalanan pertama waktu itu bermuatan “misi sosial”. Menemani kedua orang tua saya berobat ke Penang. Itu membuat saya tidak terlalu menekankan acara jalan-jalan, bahkan kamera pun belum punya hingga tak ada dokumentasi yang bisa saya jadikan kenang-kenangan. Satu-satunya foto yang saya abadikan di Penang Bridge menggunakan smartphone SonyEricsson ketika itu, kini bahkan sudah tak lagi saya ingat ada tersimpan di file mana :worried:

Anyway, sejak keberangkatan pertama ke luar negeri awal Juli 2007 itu, entah kenapa rasanya terbang ke luar negeri menjadi begitu gampang. Mungkin karena paspor sudah di tangan sehingga tidak lagi ada kendala kalau ingin berangkat.

Pertengahan Juni 2008, saya memanfaatkan cuti tahunan ke Singapura, dan menikmati begitu banyak atraksi wisata dan modernitas2 ajaib yang belum pernah saya lihat sebelumnya sepanjang hidup saya. Di tahun itu pula, impian menginjakkan kaki di negeri yang memberikan kontribusi terbesar dalam infiltrasi budaya dan gaya hidup melalui sajian2 televisi & film produksinya kepada saya (dan masyarakat), menjadi kenyataan. Saya ditugaskan dinas dua pekan ke Amerika untuk meliput pilpres di sana.

Nah, di awal 2009 ini, sesungguhnya saya menargetkan traveling ke Macau. Saya penasaran dengan promo kencang wisata negara itu di berbagai media massa. Namun tiket AirAsia yang saya peroleh ketika pertama kali hunting penerbangan murah pada bulan Mei lalu, baru bisa dipakai pada Maret tahun depan.

Akhirnya, untuk memenuhi tekad kuat “bepergian ke luar negeri minimal sekali dalam setahun”, saya memutuskan untuk mencari tiket promo lagi dari AirAsia. Dan ketemulah tanggalnya, 5-13 Desember kemarin, penerbangan return Jakarta – Kuala Lumpur – Jakarta.

sudut kota yang jadi landmark Melacca

Setelah sempat terhambat persis sesaat sebelum akan meninggalkan rumah (calon travelmate sekaligus tour leader saya kehilangan paspor hingga ia tak bisa berangkat, dan keraguan membuat saya pun membatalkan keberangkatan di hari itu karena semua persiapan trip diatur sepenuhnya oleh si tour leader), saya mengumpulkan kekuatan, dan bayangan akan “tekad semula” terus menggelantung di pelupuk ubun-ubun kepala. Saya tak mungkin tak berangkat.

foto sendiri, kamera ditaruh di atas salah satu pajangan

Tiket baru pun saya beli, meski dengan harga berkali-kali lipat lebih mahal. Penginapan saya reserve melalui online. Saya harus berangkat.

Kini, berlalu sudah liburan cuti tahunan saya. Solo-traveling ke Melaka, ditambah duet-traveling di Kuala Lumpur bersama seorang travelmate baru yang menyusul kemudian.

Rupanya, saya menjadi pengikut pertama seorang teman dalam “kelompok travelmates” saya, anmsid, yang sebulan sebelumnya sudah melakukan solo-traveling ke Vietnam dan Kamboja. Saya rasa kesimpulan saya sama dengan dia: solo-traveling is fun :wink:

Itu artinya pula, saya gembira karena berhasil mewujudkan salah satu target di penghujung tahun ini, dan puas karena berhasil melakukannya seorang diri :)

moral behind the story is: build your own dream. you’ll never know how it will drive you so badly through wind.

2 Comments »

  1. anmsid says:

    Baiklah, saya akan berusaha memanfaatkan jatah cuti tahunan yag seuprit itu dengan sebaik-baiknya!

    Poto-potona kerena Nat, yang lainnya diupload di picasa?
    anmsid´s last blog ..Jelajah Indochina #3 My ComLuv Profile

    [Reply]

    Peanut Reply:

    benul, Ang. cuti itu “kewajiban”, bukan saja “hak”. hihihi

    wow… tengkyu banget foto2nya dibilang keren sama orang yang jago moto ;) mestinya emang trip Malaysia itu sekaligus kelas praktek foto dgn si guru fotografi saya, tapi itulah yang batal gara2 si guru kehilangan paspor :(
    versi lengkapnya mudah2an bisa diupload di picasa pas liburan panjang akhir pekan ini, Ang. koneksi masih lambat soalnya.

    btw sudah jenguk si Farid opname belum?

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p