nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 asa itu ada

nat to spasi — Tags: ,  

Seperti cinta monyet yang dicatat dalam hidupnya, Chintya juga mencatat cinta pertamanya yang dirasakan ketika sudah dewasa. Ketika Chintya merasa bahwa hatinya siap untuk menerima konsekuensi jatuh cinta.

Dari 3-4 orang teman laki-laki yang pernah dekat dan jalan bareng hingga menjadi bahan gosip di kuliahan, Chintya jatuh cinta pada salah satu dari mereka, Andhika. Andhika adalah laki-laki yang saat pertama kali Chintya lihat, ia sumpahi dalam hati karena tak suka dengan lagaknya.

Laki-laki ini, tentu saja, yang mendekati Chintya duluan. Tapi ga masalah, karena ternyata mereka kemudian bisa get along together sebagai sahabat (atau “sahabat”, menurut anak-anak kampus yang tidak percaya).

Pada akhirnya, Chintya merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia berniat menjauh dan menjaga jarak, untuk memberikan ruang lebih luas kepada Andhika. Andhika toh tidak membiarkannya pergi begitu saja. Ia tetap membutuhkan Chintya sebagai teman, yang mengerti dirinya dan tetap mendampinginya di kala sulit.

Untuk beberapa waktu, Chintya perang batin. Kepada Tuhan ia berkata, ia perlu waktu untuk menata hati, sulit jika masih harus dekat dengan Andhika. Namun akhirnya, seperti bisa ditebak, entah karena “baik” atau karena “lugu”-nya, Chintya memilih berkorban hati dan menuliskan jawaban yang menenangkan semua pria di dunia: that’s what friends are for O:)

Bukan hidup namanya, kalau kisah pertemanan tidak dilanda badai. Entah bagaimana ceritanya, Chintya merasa tiba-tiba “dicampakkan” begitu saja oleh Andhika. Dicampakkan bahkan ‘hanya’ dari hubungan persahabatan biasa, bukan dari hubungan pacaran.

Setelah lelah mencari tahu ada apa dan mengapa, tanpa menemukan sedikit pun penjelasan selain jawaban-jawaban ngeles ala pria (baca: “kebohongan” -versi wanita-), Chintya menyerah. Ia menggugat Tuhan: bukan saya yang membuat kejadian buruk ini terjadi, bukan saya yang dulu mengharapkan dia kembali, bukan saya yang memutuskan pertemanan ini, sekarang jangan minta saya lagi untuk menghubunginya kembali.

Bulan berlalu. Pada suatu kesempatan, Andhika meminta maaf kepada Chintya. Mungkinkah dia akhirnya betul-betul sadar? Chintya belum bisa memaafkannya, ia hanya diam. Mereka berdua diam. Selanjutnya tidak lagi berhubungan. Chintya memilih untuk melupakan Andhika, termasuk suaranya di telepon yang selama ini sudah begitu ia kenali.

Andhika menyadarinya. Ia pun tidak lagi mengganggu Chintya.

Namun mungkin betul, bahwa selalu ada seseorang yang berbeda diantara sekian orang yang sejenis. Ada banyak teman, tapi ada satu yang mungkin benar-benar spesial.

Hingga saat ini, Chintya dan Andhika tidak pernah bertemu. Tidak juga sms. Namun telepon sesekali dari Andhika -yang sangat jarang terjadi- dan kebiasaan Andhika yang masih selalu berusaha menyampaikan selamat di hari ulang tahun Chintya, pelan-pelan mulai menggugah hati Chintya dan membuka pintu atas kemungkinan bahwa bisa jadi, bisa jadi, Andhika sudah layak dianggap sebagai teman sepanjang masa di hatinya. Satu diantara sekian pria dalam hidupnya, yang meskipun setelah melalui proses panjang tak mengenakkan dan menyakitkan, masih tulus menganggapnya… teman. Meskipun komunikasi tak lagi pernah sama seperti dulu ketika masih bersama.

Perjalanan bersama Andhika, memberikan pengertian baru pada Chintya, bahwa laki-laki bisa melakukan kesalahan, bisa menyakiti dan memanfaatkan perempuan tanpa sadar. Namun di balik itu selalu masih ada asa tersisa, bahwa ternyata ada laki-laki tertentu, teman sejati, yang masih bisa menyadari dan mengakui kesalahannya, meski tanpa kata-kata. Dan bukan hanya sekadar tanpa kata-kata, karena bukti berbicara melalui tindakan. Tindakan, meski kecil dan sederhana, menjawab semua kegelisahan dan keraguan. Menghasilkan penerimaan.

Chintya berkata lagi kepada Tuhan, jangan putuskan harap ini dari hati saya. Ijinkan saya bertemu dengan pribadi-pribadi potensial yang boleh saya pertimbangkan.

…the end…

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p