nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 salah baca sinyal

nat to spasi — Tags:  

Chintya perempuan yang biasa-biasa saja. Penampilan cukup menarik, berat badan proporsional, meski gak seperti model terkenal Luna Maya atau Dian Sastrowardoyo. Antusias. Ceria. Tapi punya kekurangan: Lugu. Naif. Bisa jadi juga, dilihat dari sudut pandang yang berbeda, sebelas dua belas dengan… bodoh :p

Chintya baru menyadari, kekurangannya ini seringkali membuat dirinya terjebak dan dimanfaatkan orang, khususnya laki-laki. Sampai lah pada titik tertentu, dimana ia menjadi sulit percaya adakah laki-laki yang tulus dan jujur. Ironisnya, ia tak tahu apa yang harus dilakukan dengan kekurangannya itu.

Chintya ingat cinta monyet pertamanya ketika masih sekolah di Palembang. Keyakinan bahwa cinta monyet memang ada, dan logikanya yang selalu berkata bahwa pacaran selama belum kuliah tidak ada gunanya, mendorong Chintya untuk menolak cinta seorang teman dekat sekelasnya, Sulis.

Kecewa, Sulis meraung. Mengemis cinta pada Chintya. Tapi Chintya, sudah bulat dengan keputusannya.

Sulis menikah dengan perempuan yang dicurhatinya saat patah hati dari Chintya. Perempuan itu kemudian seringkali cemburu setiap kali mendengar nama Chintya yang kerap saja muncul mewarnai hubungan mereka sejak pertama kali berkenalan.

Tahun berganti hingga belasan tahun. Chintya dan Sulis tidak pernah berhubungan. Toh Sulis masih tetap mengingat Chintya di hatinya. Sesekali, ia tak lupa menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Chintya, meski hanya sebatas telepon atau sms.

Suatu kali, Sulis ditugaskan ke Surabaya, tempat tinggal Chintya sekarang. Ia mengajak Chintya bertemu. Chintya yang pikirannya sangat ‘biasa’, memaknai ajakan itu sebagai ajakan seorang teman sekelas yang sudah lama tidak bertemu. Apa yang salah dengan bertemu teman lama?

Makan malam di foodcourt Tunjungan Plaza, berlangsung singkat dan lancar. Saat makan, hp Sulis berbunyi, telepon dari istrinya di Makassar. Sulis minta ijin pada Chintya, “Diangkat dulu ya, nanti curiga…”. Chintya agak heran. Kok? Selesai nelepon, Sulis menjelaskan, “Kalau istriku tahu aku sama kamu, dia marah. Aku gak boleh ketemu kamu”. Chintya bertanya, “Jadi dia ga tahu kita ketemu?” “Ya nggak lah, bisa perang,” kata Sulis. Batin Chintya: untung aku bukan istrimu.

Sulis menawarkan diri mengantar pulang Chintya. Chintya menolak dengan halus. Mereka berpisah dengan tersenyum. Chintya toh mensyukuri pertemuan itu, sampai kemudian tertampar oleh kenyataan berikutnya yang merusak segala sesuatu.

Sulis mengirim sms, mengucapkan terima kasih karena Chintya sudah menyempatkan waktu bertemu. Tapi rupanya tak cuma sekadar terima kasih. Ia juga menyatakan cintanya kembali kepada Chintya, bahwa di hatinya tetap ada, selalu ada, dan hanya ada… Chintya seorang.

Chintya merasa dirinya bodoh sekali. Dia ingat malam sebelumnya, dia sempat ngotot-ngototan dengan seorang teman prianya soal rencana pertemuan itu. Chintya begitu yakin bahwa pertemuan itu tidak lebih dari pertemuan dua orang teman lama. Sementara si teman prianya, yang sudah berpengalaman dengan pernikahan, bersikeras bahwa pertemuan itu adalah sinyal “ajakan”. Chintya gak percaya, berpikir bahwa itu hanya anggapan paranoid saja.

Untuk menguatkan keyakinannya, Chintya meminta pendapat lagi kepada sahabat prianya yang lain, yang juga adalah teman sekelasnya dulu bersama Sulis. Sahabatnya itu, yang juga sudah menikah, berkata gak ada salahnya bertemu Sulis, hal yang biasa dilakukan seperti kalau ia dan Chintya jalan berdua selama ini.

Ternyata, feeling teman pria pertama yang benar. Hmm, terlintas dalam pikiran Chintya, mungkinkah temannya itu tahu karena ia juga biasa melakukan hal seperti itu? :wink:

Chintya membalas sms Sulis dengan penolakan. Hingga beberapa waktu lamanya, Sulis berpikir Chintya marah, tapi Chintya tidak lagi menanggapinya.

Kepada dirinya sendiri, Chintya bertanya berkali-kali, apakah ia memberikan sinyal-sinyal yang bisa dianggap “mengundang” oleh Sulis? Tapi tidak. Salahkah ia jika hanya sedikit berbuat baik dan menerima ajakan bertemu seorang teman lama? Kenapa laki-laki bisa menilainya berbeda?

…to be continued…

2 Comments »

  1. mangkum says:

    Hehehe… kasian Sulis padahal Chintya udah punya suami… :P (ga diceritain apakah Chintya udah bersuami apa belum, Nat)

    mangkum´s last blog ..Insya Allah My ComLuv Profile

    [Reply]

    Peanut Reply:

    oh iya, ini ada cerita sambungannya… nunggu sehari dulu baru di-upload (biar tampak rajin posting setiap hari -huehehe)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p