nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

14 7 kedahsyatan menulis

nat to kertas kerja — Tags: ,  

Bersama narsum saya di program Life Excellence, Jamil Azzaini, hari ini kami membahas tema yang ternyata diminati banyak pendengar. Terbukti dari sms bertubi2 yang masuk dan, tentu, tidak semuanya terbaca sepanjang durasi 1,5 jam siaran.

7 Kedahsyatan Menulis. Buat para blogger, ga usah dikasitau kedahsyatannya pun, udah pada rajin aja menulis. Malah ga jarang ada yang “sakaw” kalau sehari saja tak menulis.

Tapi di luar dunia blogging sana, banyak banget rupanya orang yang kepengen bisa menulis, tapi ga bisa. Bisa karena malas, bisa karena ga punya waktu.

Meskipun ya, banyak juga orang yang sesempit2nya waktu, masih tetap bisa menulis setiap hari (jadi apakah itu berarti, alasan yang sesungguhnya “ga sempat nulis” adalah malas? -hehe).

Selain orang yang kepengen tapi ga bisa, ada sebagian orang yang memang mengaku ga berniat atau ga tertarik menulis. Ini juga, bisa karena malas membayangkan harus mikir dulu sebelum bikin tulisan, atau malas karena ga mau cape menulis (jadi intinya, semua alasan “tidak menulis” sebenarnya malas nih? – hehe, kidding only).

Anyway, tetap bisa kok orang2 tertentu yang memang tidak terpatri untuk duduk lama di depan komputer dan mengetik (atau di kertas menggunakan pulpen), untuk menuangkan buah pikiran dan ide2nya dalam bentuk tulisan. Dengan cara, dibantu asisten atau co-writer. Itu yang dilakukan sejumlah tokoh terkenal seperti om Bob Sadino, dan yang juga dilakukan Rasullullah dengan al-Quran.

Om Bob tidak pernah menulis buku, otobiografi sekalipun. Orang lain lah yang menulis biografinya. Suatu kali saya wawancara beliau di rumahnya, sempat melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana beliau marah2 ke seorang penulis yang datang dan berkonsultasi tentang buku (mengenai om Bob) yang sedang ditulisnya, karena gaya penulisannya yang dianggap tidak layak oleh om Bob :D

Kembali ke topik, kenapa sebenarnya kita harus menulis? Setidaknya ada 3 alasan penting.

Pertama, menulis itu penting supaya ilmu tidak hilang. Jika ilmu diibaratkan hewan buruan, maka menulis adalah tali kekangnya. Supaya hewan buruan tidak lari kemana2, mesti ada tali kekangnya. Demikian pula dengan ilmu dan menulis.

Kedua, kita menulis untuk mengoptimalkan otak kanan. Otak kanan ini yang berfungsi untuk hal2 “non-logical”, semacam mempertajam perasaan, mis. menumbuhkan rasa empati, meningkatkan sensitivitas, meningkatkan kreativitas, dll.

Ketiga, menulis itu untuk mengurangi tacit knowledge. Tacit knowledge adalah ilmu/kelebihan seseorang yang sulit ditransfer kepada orang lain. Contoh, ibu kita jago masak, dan kita minta diajarin masak tongseng yang enak. Kita diajarin semua resepnya, komposisinya, sampai berapa lama masaknya. Tapi giliran kita sendiri yang masak, udah ngikutin semua resep dan komposisi dengan benar pun, kadang masih saja rasanya ga seenak tongseng buatan ibu. Nah, itu namanya ilmu yang sulit ditransfer ke orang lain (tacit knowledge). Menulis, akan mengurangi tacit knowledge seperti ini.

Lalu, pertanyaan intinya, apa sih 7 kedahsyatan menulis?

Satu; mengurangi stres. Menurut James W Pennebaker, Ph.D., Professor of Psychology dari University of Texas dan penulis buku “Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions“, kondisi mental orang2 yang terbiasa mengekspresikan emosi atau unek2 dengan menulis, lebih stabil dibandingkan orang2 yang tidak biasa menulis.

Dua; membantu menemukan jalan hidup. Harvard Business School pernah melakukan penelitian tentang hubungan antara memiliki cita-cita & menuangkannya dalam bentuk tulisan, dengan pencapaian cita-cita tersebut. Hasilnya, sebagian besar responden (84%), ternyata tidak punya cita-cita. 13% punya cita-cita tapi tidak menuliskannya. Dan hanya segelintir orang, yaitu 3%, yang punya cita-cita dan menuliskannya.

Setelah 10 tahun, seluruh responden itu dicek lagi perkembangannya. Ternyata, 13% orang yang punya cita-cita tapi tidak menuliskannya, memiliki penghasilan 2x lipat dibandingkan 84% orang yang tidak punya cita-cita. Dan, ini yang penting, 3% orang yang punya cita-cita dan menuliskannya, memiliki penghasilan 10x lipat dibandingkan 97% orang sisanya.

Tiga; menjaga semangat dan komitmen. Setiap tulisan yang kita buat akan mengingatkan kita pada komitmen2 yang telah kita buat, dan itu adalah obat yang sangat baik untuk membangkitkan semangat yang kerap kali pudar di tengah jalan.

Empat; mencari dan memperkaya inspirasi. Menulis tentang sesuatu akan mendorong kita untuk mencari hal2 yang akan memperkuat materi penulisan, googling/searching akan segera menjadi kata yang akrab bagi orang yang hobi menulis, atau minta pendapat dari orang lain yang lebih ahli. (Untuk menulis posting ini, saya harus googling tentang James Pennebaker, karena tadi hanya mendengar sekilas dari mas Jamil dan semula belum tahu siapa dia sebenarnya -hehe).

Lima; mendatangkan passive income. Tulisan yang baik sangat bisa dijadikan buku, dan diterbitkan, dan dijual. Sebut sajalah berjudul2 buku yang diambil dari buku harian atau kumpulan posting di blog, atau dari kumpulan kertas tissue yang digunakan JK Rowling waktu menulis naskah cerita di cafe2. Tak heran kalau Andrea Hirata mendapat royalti lewat Rp1M dari Laskar Pelangi nya. Dan novel Ayat Ayat Cinta mendatangkan royalti lebih dari Rp1,5M ke pundi-pundi Habbiburahman al-Shirazy penulisnya (ini angka sebelum novel AAC difilmkan. setelahnya? hmm…)

Enam; meningkatkan kreativitas. Menulis yang rutin dan sinambung, lama-kelamaan akan mendorong kita untuk terus menggali lebih dalam bagaimana cara menulis yang baik, penyampaian yang sistematis, dan gaya penulisan yang menarik.

Tujuh; menyimpan memori. Rasanya, ini adalah salah satu “tujuan utama” sebagian orang menulis, baik itu buku harian ataupun blog harian :p Terlalu banyak kisah hidup dan aktivitas keseharian yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja, tanpa dibungkus dalam album yang setiap saat bisa dibuka2 kembali. Mau itu kisah suka, mau itu duka, akhirnya pasti akan membuat kita tersenyum ketika membacanya kembali.

14 Comments »

  1. mangkum says:

    Wow wow… tulisan kek gini gw suka.

    Tadi ketinggalan dengernya, pas gabung di kedahsyatan ke 5. Setelah sholat maghrib balik lagi udah udahan *hiks* protes ah jam tayangnya! Tapi bagus lah kalau ada tulisan kek gini, jadi ga kehilangan materinya. Thx ya….

    Sebagai refleksi buat kita, Mas Rama yang tunanetra aja bikin tulisan dalam bentuk blog, ngetik sendiri, ngelayout blognya sendiri. Bahkan tulisan2nya udah dibukukan. Nah kita yang diberi potensi jauh lebih mudah untuk menulis daripada beliau, kenapa ga mulai menulis?

    Keep on blogging yah!

    ~Nat:
    amiin… diusahakan tetap blogging. doing my best. jadi kapan bikinin gw blog sendiri?

    [Reply]

  2. Ikkyu_san says:

    aku rasa memang begitu….
    meskipun aku merasa kalo stress ya stress aja sih, terlepas dari menulis atau tidak. Mungkin menulis bisa membantu meringankan, tapi kadang menulis juga menyebabkan stress. hihihihi. Misalnya tidak tersusun kalimat yang pas, atau malah bertambah sedih dengan topik yang ditulis, dsb… dsb….

    EM

    ~Nat:
    kalau menulis aja masih bisa bikin stres, apalagi kalau tidak menulis kali yah mba. stres karena ga mampu bikin tulisan, kaya aku ini. hahaha.

    [Reply]

  3. p u a k says:

    Point 6 & 7 tuh, mbak Lia.. kayaknya yang pas denganku.
    Wuih..apaan coba.
    Dapet salam dari Lou.. kekeke

    ~Nat:
    Lou itu salah satu hasilnya kali ya mba. salam balik ke Lou. wuiih.. pengen deh liat langsung orangnya di dunia nyata spt apa. haha

    [Reply]

  4. agoyyoga says:

    Sedang terburu-buru, Li, komentar yang serius ntar ya. Yang jelas, aku suka dengan tulisan ini. Informatif & inspiratif. Keep up the good work girl.

    ~Nat:
    dasar orang sibuk tapi bernas begini nih (apa sih bernas?), udah sibuk masih aja nyempetin blogwalking, udah gitu masih aja lagi nyempetin ninggalin jejak
    :D

    [Reply]

  5. roysemut says:

    .: Semut selalu berusaha untuk menulis, sekalipun tak semuanya bisa tuangkan di Blog. Kadang suka mengendapkannya terlebih dahulu baru kemudian dipublish di Blog… he…he…he… :.

    .: Oleh karenanya jangan heran kalau Lia main ke meja kerja saya, Lia akan menemukan motto yang selalu menjadikan saya semangat untuk menulis :.

    ~Nat:
    mottonya apa tuh… besok ngintip aahh
    :D

    [Reply]

  6. omiyan says:

    saya menulis karena saya ingin sel otak ini terus hidup walau di usia senja sekalipun

    ~Nat:
    betul, Om Iyan. aktivitas yang mengolah otak, jika dilakukan rutin, bisa mencegah demensia.

    [Reply]

  7. Ria says:

    Menulis memang mengasyikkan dan tentunya bisa memperkaya diri sendiri…

    suka banget sama poin nomer 1…bahwa menulis bisa mengurangi stress… kalau lagi kesel sama siapa bisa nulis, kalau lagi marah juga dituangin aja dalam tulisan sampe kalau lagi bahagia sah2 aja dituangin dalam tulisan…

    yup…writing means a lot for me :)
    ~Nat:
    guess I meet the expert, nih
    ;-)

    [Reply]

  8. [...] 17, 2009 Berhari2 sejak menulis “posting-(sok)penuh-inspirasi” 7 Kedahsyatan Menulis dua pekan lalu, justru aku seperti stuck dengan aktivitas blogging. Bolak-balik login WP dan masuk [...]

  9. Sri Agustini says:

    Menulis bukan hanya membuat kita lebih bijak,lebih tenang dan lebih berkomitman tentang tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai di masa depan,namun membuat kita semakin kuat dalam mengarungi hidup dan membuat kita selalu bersemangat dalam mempelajari segala sesuatu dan meningkatkan kepekaan kita terhadap hikmah yang ada dalam setiap kejadian. Salam kenal untuk semua

    ~Nat:
    Salam kenal juga, Sri. thanks sudah mampir ya.

    [Reply]

  10. Hery Azwan says:

    Pokonya menulis terus deh. Jangan pernah bosan… Aku lebih dari setahun ngeblog, mulai dilanda kebosanan. Dengan postingan ini, jadi semangat lagi ngeblog.

    Salam kenal dari pendengar setia Trijaya…

    ~Nat:
    salam kenal balik, Mas Hery. pertama kali nih ya kita interaktif
    :D

    [Reply]

  11. [...] 7 kedahsyatan menulis – shakeable thoughts [...]

  12. Vidzas Erdien says:

    Bagus tuh infonya!!!

    Eh ngomong-ngomong ini to Mba Lia yang suaranya bikin ane ceria di pagi hari itu?!!!

    Salam kenal Mba!!!
    Semangat terus membengun bangsa!

    [Reply]

    Peanut Reply:

    betul, saya sendiri *menjawab telfon
    salam kenal juga, Vidzas.
    semangat terus juga dan selamat tahun baru :)

    [Reply]

  13. RhyzQ says:

    hmmm, sejauh ini, baru 4 kedahsyatan yang saya rasakan. selebihnya blm.

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p