nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

5 unity in diversity

nat to jurnal — Tags: ,  

Hari ini masih terlalu pagi. Apa mau dikata, saya terbangun jam 3 pagi oleh TV yang belum sempat dimatiin. Mumpung koneksi sedang bagus saat lagi sepi user seperti ini, saya manfaatkan waktu dan rasa kantuk yang hilang dengan fb-walking sana sini.

Mata tertumbuk lama melihat2 album foto seorang kerabat dekat. Ada yang sangat menggelitik, ga kuat untuk ga ditulis di sini.

Seperti saya, kerabat dekat ini seorang Batak tulen. Menikah dengan seorang non-Batak yang kemudian (karena pernikahannya) diberi marga Batak. Dalam adat suku Batak, pemberian marga kepada seseorang yang bukan Batak menandakan rasa hormat dan penerimaan yang sah atas orang non-Batak tersebut masuk ke keluarga Batak.

Sebagian besar keluarga Batak mengharapkan (kalau tidak mau dikatakan “meminta”), jika ada anak yang akan menikah dengan non-Batak, maka calon pasangan anaknya itu agar diberikan marga Batak. Misalnya ada orang Jawa bernama Raden Pangestu, kalau ia diberi marga Tobing, maka jadilah nama barunya: Raden Pangestu Tobing.

Kembali ke kerabat dekat saya tadi, di album fotonya kelihatan sekali gambaran sebuah keluarga Batak yang berbahagia. Saudara saya ini memang saya tau sangat bangga bahwa ia menjalankan adat Batak dengan baik. Salah satu buktinya adalah pemberian marga kepada pasangannya yang semula bukan Batak.

Well, buat saya, it’s no problem. Selama setiap calon pasangan suami istri  (yang Batak dan yang bukan Batak) sudah sama2 sepaham tentang makna dan konsekuensi pemberian marga ini, dan ga ada keberatan dari kedua belah pihak, ya biarkanlah semua sama2 senang menjalaninya.

Kemudian pandangan saya tertuju pada salah satu foto dimana anak2 kerabat saya ini berpose bersama kakek nenek mereka dari pihak orang tua yang non-Batak. Foto diambil di lokasi yang sangat mencerminkan nuansa suku etnis kakek nenek mereka tersebut, sangat spesifik, lengkap dengan busana adat tradisional yang dipakai kakek nenek mereka.  Jarang sekali saya lihat momen unik seperti itu, belum pernah malah. Karena yang saya tau anak2 itu selama ini lebih dikenali sebagai “anak2 Batak” (meskipun wajah mereka sangat “tidak Batak”).

With all my respect to Batak culture,  saya hanya  merasa, sepertinya akan lebih indah jika saja identitas setiap orang tetap dibiarkan apa adanya, sesuai dengan suku aslinya. Jika saya adalah Batak tulen, maka saya adalah orang Batak tulen. Jika saya adalah Jawa-Batak atau Jerman-Batak, maka saya adalah orang Jawa-Batak atau Jerman-Batak. Jika saya adalah Jawa tulen atau Jerman-Jawa dan menikah dengan orang Batak, maka saya adalah orang Jawa tulen atau Jerman-Jawa yang “menikah dengan orang Batak”, bukan Jawa atau Jerman-Jawa yang “sudah diangkat jadi orang Batak”.

Maka banyak orang Batak (termasuk keluarga besar saya), yang mungkin menilai sikap saya ini agak “miring”. Dianggap tidak menghargai adat, tidak mencintai budaya leluhur, dan sejenisnya.

Yang sesungguhnya adalah, saya menghargai dan menganggap sama setiap suku bangsa. Tidak ada yang lebih unggul dari yang lain.

Kalau anak2 saya nanti terlahir dari pasangan orang tua yang berbeda suku maupun bangsa, maka saya lebih suka jika mereka pun merasakan ragam jenis darah yang mengalir di tubuhnya. Saya juga lebih suka jika kakek nenek mereka baik dari pihak ayah maupun ibunya, tetap sama2 merasa paling memiliki cucu2nya.

Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah perbedaan itu kaya?

5 Comments »

  1. agoyyoga says:

    Setujuuu….
    Pas semalam itu aku tahu kamu masih OL, tapi masak iya sih aku gangguin jam 3 pagi. :D
    Aku punya teman Batak yang nikah ama Sunda. Ia cowok. Sama sekali nggak Batak sikapnya. Istrinya, bahkan anaknya nggak ada yang dikasihnya marga. Bahkan ia lebih pintar bahasa Sunda, dan nggak bisa bahasa Batak sama sekali. Nah, kamu nggak sendirian tuh. :)
    ~Nat:
    Kasusnya agak beda Ga, cowo Batak temen kamu itu mungkin bisa diragukan kadar kebatakannya. Bisa jadi dia udah ga ngerti adat leluhurnya lagi, karena bahasa Batak aja juga udah ga bisa sama sekali kan (joke di orang Batak disebutnya “Batak murtad” -haha). Kalau aku, masih ngerti bahasa Batak, meskipun kalo ngomong kagok dan terbata2.

    Tapi Yoga betul, aku ga sendiri, cuman keluarga besar aja masih kurang terima hal2 “baru” seperti itu. Tapi untungnya lagi, aku punya ayah & ibu yang cukup moderat rupanya. Waktu aku bilang keinginanku soal itu, mereka ga mempersoalkan dan menyerahkan sepenuhnya ke aku ;-)

    [Reply]

  2. mangkum says:

    Hayah pada bangun malem, OL lagi…

    Mau komen dari tadi pagi tapi gajadi2. Begini deh. Setuju sama: “Akan lebih indah jika saja identitas setiap orang tetap dibiarkan apa adanya, sesuai dengan suku aslinya”

    Eh btw, emang konsekuensi dikasi marga batak itu apaan?

    ~Nat:
    hahaha. konsekuensinya ga gimana2 amat kok, Mang. jadi diperlakukan seperti orang Batak beneran aja (inipun kadarnya beda2 ya tergantung keluarga Batak yang dihadapi). sekali lagi, semua itu bentuk penghormatan sebenernya, cuman kan ga semua orang nyaman diperlakukan seperti yang bukan dirinya/sukunya sendiri. sebagian orang pasti ada yang lebih suka tampil sebagai diri sendiri.

    [Reply]

  3. p u a k says:

    Hehehe.. tapi daku sih asyik asyik aja kok.. kalau orang jawa gini di kasih marga. Karena tradisi dan budaya Indonesia itu unik..
    Yaa.. sekarang mah udah nggak bisa.. dapet wong Jowo juga.. :mrgreen:

    ~Nat:
    kalo mba Puak cucoknya dikasih marga… Sihombing kali ya… hahaha *ngasal.com*

    [Reply]

  4. Ikkyu_san says:

    aku setuju banget dengan pemikiran kamu. karena kelak batasan suku itu akan kabur dengan adanya globalisasi. contohnya ya anak-anakku yang akan lebih parah daripada ibunya yang memang tidak bersuku hehehhe (penjelasannya ada di blog aku di posting “How Jawa are you”)

    EM

    ~Nat:
    segera meluncuuur…
    :D

    [Reply]

  5. Vira says:

    Jadi ingat ngobrolin soal ini di kamarku, +- lima tahun yang lalu

    ~Nat:
    hehe… terus kesepakatannya?
    ;-)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p