nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 the curious case of benjamin button

The Curious Case of Benjamin Button. Film adaptasi cerpen karya F. Scott Fitzgerald (1920), produksi Warner Bros Pictures. Pemerannya Brad Pitt, Cate Blanchett, Jared Harris, Tilda Swinton. Penulis screenplay-nya Eric Roth, yang nulis screenplay film Forrest Gump.

Kreditnya:

  1. Naskahnya bagus, suka deh.
  2. Make up artist dan rekayasa komputer untuk si “bayi lansia” sampai Benjamin menginjak dewasa, bagus banget.
  3. Ide ceritanya orisinal (setidaknya aku belum pernah dengar ada cerita seperti ini sebelumnya). Full imajinasi tingkat tinggi, sangat radikal.
  4. Endingnya seru dan mengejutkan.

Kritiknya:

  1. Di tengah2 film, waktu lagi petualangan Benjamin di kapal laut dan waktu Elisabeth Abbot (Twilda Swinton) flirting2 Benjamin di hotel, aku sempat ngerasa alurnya agak melelahkan, terlalu panjang. Rasanya akan lebih oke kalo lebih dipadatin.
  2. Make up artist untuk wajah Benjamin remaja, masih keliatan “sentuhan” komputernya, meskipun sekilas sudah cukup membuat Brad Pitt tampak seperti bintang film remaja.
  3. Adegan seorang manula yang sudah pikun di panti jompo, yang selalu mengatakan bahwa dirinya pernah disambar petir 7 kali dalam hidupnya, terlalu sering ditampilkan. Untuk 2-3 kali adegan, masih terasa lucu. Tapi lebih dari itu, jadi kurang rasa “surprise”-nya, karena udah ketebak ‘nanti pasti masih ada lagi di akhir film’. And it happened as I thought.
  4. Ini yang penting. Aku masih bertanya2, kenapa fisik Benjamin tua mesti diwujudkan dalam bentuk anak kecil sampai menjadi seukuran bayi? Padahal Benjamin lahir sudah dalam wujud bayi kecil yang oek-oek, yang membedakan hanya kerutan2 tua di sekujur tubuhnya. Mestinya, ukuran tubuhnya tetap mengikuti pertumbuhan normal manusia, kan yang tidak normal hanya fungsi fisik tubuhnya, bukan ukuran tubuhnya. Buktinya, dia lahir sebagai bayi (dengan kerutan seperti manula), tumbuh menjadi anak usia pra-sekolah (dengan kerutan seperti manula), anak belasan tahun (dengan kerutan seperti manula). Tapi kenapa setelah usianya di atas 49 tahun, ukuran tubuhnya menyusut jadi seperti remaja belasan tahun, menyusut lagi jadi hanya setinggi anak SD, menyusut lagi jadi balita, sampai jadi bayi? Jadi terlihat tidak konsisten. Kan ga ada manula yang tubuhnya menyusut terlalu jauh sampai jadi bayi, selain karena pengeroposan tulang doang? Kalo emang itu disebabkan “kerja” penyakitnya, aku lihat poin ini kurang dijelasin di filmnya.

Film ini sebenernya film cinta, cuman dibuat samar awalnya. My emotion after watching this movie… is becoming sad. Sedih, haru, serasa ikut kehilangan (deuu).

2 Comments »

  1. agoyyoga says:

    Aku itu pengen banget nonton film ini. Tapi nggak sempat sempat. Masih ada nggak ya di bioskop? Thanks sudah sharing info :D

    LiC:
    eh ada Yoga blogwalking ka dieu. hatur nuhun pisan euy ditandangi juragan blog… hehe. udah jadi nonton Benjamin blom, Ga? sampai comment ini dibaca hari ini (keseringan diabaikan mulu nih), aya keneh tuh film di Pondok Indah.

    [Reply]

  2. agoyyoga says:

    Beluuuummm hiks… gara-gara 3 minggu ajaib kemarin Li.

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p