nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 so this is america

Seperti yang sering saya lihat di TV dan film2, seperti itulah gambaran Amerika yang baru saya lihat secara langsung, pertama kalinya tiga minggu lalu. Persis. Ga ada bedanya.

Rumah2 penduduk tidak saya jumpai di kota besar dan sibuk seperti Boston, tempat saya menginap dan beraktivitas selama seminggu pertama. Hanya ada gedung2 skycraper (ya gak skycraper banget seperti Empire State Building, Chryslers Building atau Petronas Towers sih kayanya, tapi jelas jauh lebih padat dan lebih tinggi dari gedung2 pencakar langit di Jakarta). Gedung-gedung tinggi itu berisi ratusan blok-blok apartemen atau kantor-kantor di dalamnya.

Saya melewatkan dua minggu di dua kota yang bertipikal sangat bertolak belakang.

around Harvard Square

around Harvard Square

Seminggu pertama di Boston, ibukota negara bagian Massachussets, yang sangat sibuk dan termasuk kota besar di Amerika. Boston juga bisa dibilang kota pelajar. Ada banyak kampus di sana, yang paling kita kenal mungkin Boston University. Harvard dan MIT (Massachussets Institute of Technology), dua kampus dalam jajaran paling top sedunia, berlokasi di Cambridge, sekitar 15 menit naik kereta subway dari Boston.

Warga Boston seperti layaknya warga kota2 modern dunia. Penampilan sangat fashionable, enak dipandang. Berhubung saya datang di awal musim gugur yang udaranya sangat dingin dan angin kencang, rata-rata orang di sana memakai boots yang keren2, dan baju hangat atau jaket panjang dengan syal warna-warni yang ga kalah keren. Kalau adik bungsu saya ikut ke sana, pasti matanya jelalatan lihat orang hilir mudik dengan outfit yang keren2 itu. Ga ada deh yang pake baju biasa2 aja (yang ga keren maksudnya). Para mahasiswa juga, berlomba2 menunjukkan model2 pakaian terkini.

Saya sempat mampir ke toko2 yang memajang boots2 keren. Ada banyak merek terkenal, seperti Timberland yang kondang itu. Keluar dari toko, saya bisa segera mengukur biaya untuk penampilan tiap2 orang yang lewat di depan saya, hanya dengan melihat sekilas boots yang mereka kenakan. Ya, Boston memang dikenal sebagai salah satu kota paling mahal di Amerika. Baru di situlah saya mengerti bagaimana mahalnya :P

Seminggu kedua saya habiskan di City of Athens, kota kecil di Athens County, negara bagian Ohio. Berbeda 180 derajat dari Boston, kota Athens ini keciiiil. Populasi penduduknya hanya 20ribu orang, ditambah populasi 25 ribu mahasiswa lagi (lebih banyak mahasiswanya). Athens juga bisa disebut small college town, karena Ohio University yang berlokasi di sana adalah salah satu universitas tertua di Amerika. Berdiri tahun 1804, sedangkan Athens sendiri berdiri pada 1794.

Jika di Boston saya tidak menemukan rumah2 tinggal konvensional (mungkin ada sih di beberapa bagian kota yang tidak sempat saya lewati), maka di Athens justru tidak ada satupun gedung pencakar langit. Gantinya, kita bisa dengan mudah menemukan rumah2 penduduk, dengan bentuk yang sama persis seperti yang kita lihat di film2: dinding kayu yang disusun dengan lapisan2 kayu mendatar, lantai kayu dipenuhi karpet, teras rumah dengan tiang2 sederhana lengkap dengan kursi goyang yang berderit-derit, dan pintu rumah berkasa.

Kebetulan waktu saya tiba di sana sudah 2 hari menjelang Halloween. Jadi setiap rumah juga dihiasi dengan labu2 kuning kecil dan besar dengan ukiran karakter mata, hidung dan mulutnya. Jack-o-lantem. Simbol Halloween.

di depan booth early-vote campaign di Athens

di depan booth early-vote campaign di Athens

Cukup unik. Karena di Boston, hampir tidak tertangkap suasana menjelang Halloween sampai ketika hari H tiba. Selain suasana Halloween yang tak terasa, atmosfer pilpres juga tidak terlalu terlihat di Boston. Tidak ada meja2 di pinggir jalan yang menjual atribut kampanye pilpres seperti halnya di Athens, tidak ada spanduk2 dan poster kandidat presiden di jalan-jalan. Atmosfer kampanye hanya bisa terbaca dari saluran2 TV di setiap hotel, resto, cafe, dan tempat publik, yang dipenuhi dengan berita2 seputar pilpres.

Warga Athens juga bisa dibilang termasuk orang2 Amerika yang tradisional. Bajunya biasa saja, bahkan banyak yang masih memakai model-model pakaian yang sudah ketinggalan zaman. Penampilan para mahasiswanya juga begitu, sederhana saja, ya kira2 samalah seperti di Indonesia.

Tinggal 8 hari di Athens, jujur, saya bosan. Terlalu sepi. Bagus sih buat belajar, tapi, nggak deh… hehehe.

Sebaliknya, baru berapa hari di Boston, saya sudah jatuh suka sama kota itu. Sayang terlalu cepat meninggalkannya. Tinggal di sana, sepertinya ide yang menyenangkan. Kota besar, tapi tidak crowded karena semua serba teratur dan bersih. Ideal untuk tempat tinggal, kalau tidak suka tinggal di perkampungan atau jauh dari kota.

Oya, ada hal mencolok lain yang saya catat. Sepatu saya yang masih baru, selama 2 minggu di Amerika, masih tetap dalam kondisi baru, tapak kakinya sama sekali ga ada debu. Ya, mungkin karena udaranya memang tidak kering.

Hebatnya, begitu saya menginjakkan kaki kembali di Jakarta, baru berjalan berapa meter, saya langsung melihat perbedaan di sepatu saya, tapaknya sudah berubah warna menjadi coklat dan penuh debu. Wah, rupanya sepatu lebih tahan lama di Amerika ya daripada di Indonesia :wink:

2 Comments »

  1. Redy says:

    Perjalanan yang sangat menarik…..Boston salah satu kota impian yang ingin sekali saya injak…..dan tidak lupa juga Chicago….hehehehe Kapan ya saya bisa seperti Anda….hehehehe

    [Reply]

    pinat Reply:

    Jangan jadi seperti saya mas. Jadi diri sendiri aja lebih okeh kok :wink:

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p